Waktu smp gue punya seorang sahabat.

Namanya Latif, seperti nama orang Arab memang, tapi dia bukan orang Arab, tidak juga orang tuanya.

Mereka orang Jawa, mungkin adalah bagian orang-orang Jawa yang bertransmigrasi ke Aceh, terus beranak pinak di tanah Aceh.

Mungkin ibu bapaknya Latif adalah salah satu dari anak yang lahir di Aceh, sehingga lebih pantas dipanggil orang Aceh daripada orang Jawa.

Begitu juga Latif. Meskipun dia sering dijajah, dipalak dan diganggu oleh teman-teman gue karna sukunya (yah, kalian pasti tau gimana kerasnya hidup di SMP buat orang-orang kayak gue dan latif), latif tetap sabar.

Dia adalah temen gue waktu SMP. Perawakannya kecil kayak gue, pintar dan lihai bermain sepakbola, tapi sedikit pendiam.

Gue dan latif sekelas waktu kelas satu.

Kepintaran latif sudah terlihat dari awal, waktu caturwulan 1 (waktu itu belom jamannya semester), latif juara satu, gue juara dua.

Dia dapat angka sembilan, gue dapat delapan, begitu gue bisa dapat sembilan, dia dapat nilai sepuluh.

Ngga heran, otaknya cerdas, catatannya rapi, ingatannya kuat, tanpa banyak omong dia melaju kencang sendirian di kelas gue.

Beda ama gue yang bawel, banyak omong, dan gampang bergaul dengan siapa saja (terutama wanita ;))

Latif lebih kalem dan irit bicara.

Latif bukanlah orang yang ingin tampil, kalo ga disuruh maju ama guru, pasti dia cuma diem aja di bangkunya.

Tapi gue tau, kalo pasti tugasnya sudah selesai. Mungkin penyebabnya adala kondisi okonomi latif, yang membuatnya seperti itu.

Ayah latif adalah penjual ikan, beliau mengambil ikan di pelabuhan dan menjualnya kembali berkeliling kampung dan perumahan warga dengan mengendarai motor.

Keranjang ikannya diikatkan dibelakang motor nya. Dalam bahasa aceh, profesi ini disebut mugee.

Sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga.

Mungkin inilah penyebab diamnya latif, kondisi perekonomian keluarganya yang terbatas, mungkin membuat latif minder untuk bergaul dan lebih memilih diam.

Tapi latif tidak pernah mengeluh, dia tetap tegar dan menjadi teman baik gue.

Beda ama gue yang banci tampil dan selalu jadi ketua kelas, latif lebih memilih bukan jadi siapa2, hanya jadi Latif.

Temen gue yang pintar. Meskipun berteman, persaingan gue dan latif terus berjalan, dan dia juga tau kalo kita bersaing.

Tapi bagaimanapun, sekeras apapun usaha gue belajar, gue tetap ngga bisa mengalahkan latif. Dia tetap juara 1 dan gue juara 2.

Sampai akhirnya gue dan latif berpisah di kelas 2, udah jadi tradisi kalo pembagian kelas di kelas 2 dan 3 itu diacak.

Dan gue mendapat kelas yang berbeda dengan latif.

Akhirnya gue menjadi juara 1 di kelas gue, tapi tanpa keberadaan Latif.

Juara kelas yang gue raih ntah kenapa kurang terasa berarti, karena tetap, gue meraihnya tanpa mengalahkan Latif.

Dan Latif, seperti biasa, tetap menjadi juara dikelasnya.

Dan pada waktu itu, sekolah gue mendapat panggilan untuk ikut lomba cerdas cermat tinggal SMP, pertandingannya sendiri disiarkan di TVRI.

Tim segera dibentuk untuk mewakili sekolah gue berkompetisi. Satu tim terdiri dari 3 orang.

Waktu itu sudah terpilih dua orang anak kelas 3 yang artinya tinggal menyisakan satu tempat kosong lagi untuk anggota baru.

Gue dan latif dipanggil ke ruang guru. Disana, gue dan latif disuruh duduk dan dijelaskan kondisinya.

Gue mulai nangkep apa maksudnya. Satu tempat kosong yang tersisa adalah untuk latif dan gue, entah siapapun yang terpilih.

Guru-guru berdebat, ada yang memihak latif, dan ada yang membela gue.

Jujur, gue berharap gue terpilih, karena jika gue terpilih, gue akan merasa menang dari latif, meskipun tidak secara langsung.

Gue akan melampaui Latif untuk pertama kalinya.

Dan emang dasarnya gue seneng tampil, gue senang jadi pusat perhatian, maklum ababil (ABG labil – red).

Dan gue kira dengan masuk TVRI akan membuat gue seganteng Primus (ingat, waktu itu lagi jaman-jamannya Manusia Millenium).

Gue dan latif masih menunggu keputusan. Sampai akhirnya guru gue bilang..

kayaknya kita akan memilih Tirta, karena dia orangnya cerewet, dan tim ini kurang anggota yang bisa bahasa Inggris dan cerewet. Jadi bisa ngomong bahasa inggris tanpa grogi. Maaf ya Latif

Gue ga tau mesti seneng atau bête dibilang cerewet ama ibu guru gue. Berasa kayak emak-emak sih. Tapi bodo amat! Gue terpilih.

Gue seneng, gue bisa mengalahkan latif dan terpilih bergabung di tim cerdas cermat sekolah gue.

Gue bangga.

Tapi gue melirik ke arah latif, dan raut kekecewaan terlihat jelas disana. Sedih mungkin lebih tepatnya.

Tapi Latif tetaplah Latif, dia menerima keadaan itu tanpa banyak protes ataupun mengeluh.

Sekolah gue sendiri akhirnya memenangi cerdas cermat itu, dan gue berhasil mempersembahkan piala buat sekolah gue.

Latif sendiri duduk dibangku penonton.

Nyemangatin tim gue. Meskipun gue yakin, dia pasti pengen banget buat berada di posisi gue sekarang.

Dibawah cahaya lampu, sorotan kamera tv lokal. Tapi Latif tetaplah Latif.

Gue dan latif masuk SMA berbeda, gue berhasil masuk salah satu SMA unggulan di kota gue.

Mungkin karena faktor biaya, Latif sendiri masuk SMA di pinggiran kota. Dia masih juara satu di sma nya.

Akhirnya gue dapat kesempatan kuliah di Bandung, dan Latif masuk ke Fakultas Pertanian di Aceh.

Pas gue kuliah, gue mendengar kabar kalau ayahnya Latif meninggal. Dan gue ga tau bagaimana Latif dan adik-adiknya bertahan hidup.

Terakhir gue pulang, gue sempet maen ke rumah latif. Itu terakhir gue ketemu dia, rambutnya sudah gondrong, gurat-gurat kehidupan jelas mengukir badannya.

Badannya kurus, tapi padat, tertempa oleh himpitan ekonomi.

Tapi ada yang tidak berubah, Latif masih irit bicara, tapi tetap ramah. sambil merokok, dia cerita tentang kehidupannya.

Di dinding rumahnya foto adiknya, yang dulu sewaktu SMP gue lihat masi lemah, kurus dan ceking, tergantung dengan memakai seragam penerbang angkatan udara.

Tanpa suap, sogok, atau upeti wajib, adiknya Latif lulus ke sekolah penerbang angkatan udara.

Sama seperti abangnya, kini adiknya jauh lebih tegap, tinggi, dan terbentuk.

Bukan karena olahraga atau fitness seperti pemuda-pemuda manja metroseksual ibukota, tapi karena perkerjaannya.

Ya, adiknya latif menjadi buruh bangunan selama SMA. Semua demi mengejar mimpinya.

Mimpi mereka.

pursue your dream

Jadi kini, gue sangat berterimakasih kepada Allah atas semua kesempatan dan berkah yang gue terima, karena ga semua orang punya kesempatan yang sama seperti yang gue terima.

Gue percaya, ketika Latif ataupun adiknya mendapat kesempatan yang sama seperti yang gue dapetin.

Gue yakin, sangat yakin, kalo Latif akan jauh melampaui apa yang gue udah peroleh sekarang.

Karena tetap…gue ga pernah bisa mengalahkan Latif.

Jika di novel Laskar Pelangi, sosok Ikal mempunyai sahabat pintar bernama Lintang, gue juga punya..

Lintangku bernama Latif..

 

 

PS : If you read this buddy, this is the shape of my respect to you. Wish all the best for your life.