Gue punya satu sahabat. Namanya Opi. Opi ini adalah teman baik gue dari SMA. Kami sama-sama kuliah di Bandung, dan kerja di Jakarta. Dulu waktu jaman SMA, rumah si Opi ini jadi basecamp nya anak-anak kelas gue. Kelas paling cupu waktu SMA. Rumah itu rumah dinas bapak si Opi. Kami menyebutnya rumah rakyat. Jadi kami semua ngerasa bebas kesana kapan saja.

Dasar gak tau malu. hahaha

Pemilihan rumah si Opi adalah karena waktu SMA dulu, diantara kami semua, keluarga Opi lah yang paling mampu. Jadi si Opi selalu punya fasilitas yang paling lengkap. Semua anak lelaki di kelas gue pasti pernah nongkrong di rumah itu.

Tiap sore abis pulang les, anak-anak imbisil ini selalu menghabiskan waktu mampir ke rumah si Opi. Kadang buat maen PS gratis, atau cuma sekedar numpang baca komik doang. Kami semua kenal ama keluarganya si Opi. Mulai dari bapaknya, ibunya, kakak-kakak perempuannnya, abangnya, hingga si Fathir adik nya yang waktu itu masih kelas 2 SD.

Dan minggu lalu, gue ketemu si Opi.

Kita ngobrol ngalur ngidul kemana-mana, hingga gak sengaja gue nanya.

“Bokap lo gimana man?”

“udah pensiun. Sekarang tinggal nikmati masa tua doang” kata dia pelan.

“hah? Masa sih udah pensiun? Bukannya masih muda?” tanya gue gak yakin.

“Dulu kan waktu SMA, bokap gue lagi jaya-jaya nya, sekarang ya udah jadi pensiunan” tambah Opi lagi

“hah? serius?” gue masih ga percaya.

“Iya, Fathir aja sekarang udah kelas 2 SMA man!” kata dia.

“Berarti masa-masa kita nongkrong di rumah lo itu udah… 9 tahun yang lalu ya?” kata gue.

“Iya..”

“Sembilan tahun..” gue bergumam sendiri di dalam kepala

“kita udah tua man..” kata si Opi menyadarkan.

 

Tua?

Kata itu akhirnya selalu bergumam di kepala gue beberapa saat ini. Beneran gue udah tua? Gue selalu masih menganggap diri gue masih muda. Masih bocah. Masih remaja.

Gue adalah gue,

Orang yang sama sejak beberapa tahun yang lalu. Seorang remaja yang masih panjang perjalanannya.

Masih jauh dari dari masa depan. Dan jauh dari saat dimana harus mengambil keputusan-keputusan penting lainnya dalam hidup.

Cuma kini gue dihadapkan oleh beberapa kenyataan. Perut yang mulai membuncit

Stamina yang tak lagi prima seperti dulu.

Mata yang mulai minus.

Dan kini, gue menulis ini sambil melihat satu undangan pernikahan teman seangkatan gue yang di publish di facebook. Hah? Teman seangkatan gue udah nikah? Teman yang dulu diospek bareng waktu awal masuk kuliah.

Serius nih? Ngga kemudaan? Gila, menikah kok muda amat?

Menikah adalah suatu hal serius yang menurut gue belom akan gue lakukan dalam waktu dekat.

Hal yang dilakukan oleh orang-orang dewasa yang berkomitmen untuk setia sepanjang hidupnya. Dan gue merasa, dengan umur segini, gue dan teman-teman gue belum cukup umur untuk menikah. Dan kemudian gue mendapat kabar lagi kalau minggu depannya, temen gue yang lain juga akan melangsungkan pernikahan.

Lantas ini membuat gue berpikir.

Apa benar gue juga sudah siap menikah? Apakah umur gue udah cukup?

Gue kan masih remaja? Terjadi pergulatan batin yang hebat dalam diri gue. Terjadi suatu penolakan atau self-denial untuk menolak hal ini. Masa gue udah tua?

Perasaan baru kemarin nongkrong di rumah si Opi,

Baru kemarin tamat SMA,

Baru kemarin masuk kuliah.

Baru kemarin diwisuda.

Baru kemarin keterima kerja.

Semua memori-memori kehidupan seolah terputar ulang dalam kepala gue.

Hal-hal lain yang gue rasa baru kemarin gue alami.

Ibarat sebuah flashback dari film Hollywood yang biasa kita tonton. Lalu gue mulai menghitung, kalau waktu-waktu yang gue bilang baru kemarin, ternyata sudah bertahun-tahun yang lalu.

Time flies, but memories remain. Dan akhirnya, semua itu membuat gue sadar satu hal.

Life happens.

Ini yang namanya hidup. Siklus yang selalu berlanjut, hingga sekarang.

Bapaknya Opi yang pensiun,

Fathir yang sudah SMA,

Hingga gue yang udah siap menikah,

Ntah kapan.

Tapi kini gue yakin satu hal.

Life just happens.