Sejak kondisi Aceh yang saat ini sudah damai, banyak orang yang bertanya ke gue bagaimana kondisi pariwisata Aceh saat ini. Apakah aman berkunjung kesana? Apakah harus memakai jilbab? Dan pertanyaan-pertanyaan standar lainnya, yang tetap membutuhkan jawaban.

Seringkali image dan gambaran Aceh di masa lalu, menjadi penghalang untuk orang berani berwisata ke Aceh. Ini yang terjadi kepada teman-teman gue. Sebagai orang Aceh, gue seperti mempunyai kewajiban moral untuk turut mempromosikan pariwisata Aceh.

Dan buat teman-teman yang pernah bertanya ke gue dan para pembaca romeogadungan.com, dengan ini gue menyatakan, Aceh sudah sangat aman untuk dikunjungi! Silahkan berkunjung dan nikmati keindahan alam dan kotanya.

Tapi gue sepenuhnya menyadari, masih sedikit sekali artikel yang mereview tuntas pariwisata Aceh. Apa saja yang bisa dilihat dan hal-hal yang dilakukan di propinsi paling barat Indonesia ini. Maka gue (sebagai blogger tukang jalan-jalan) tergerak untuk membuat postingan untuk sedikit menjelaskan tentang pariwisata di Aceh.

Artikel akan dikhususkan ke Banda Aceh dan Sabang, meskipun ada objek2 wisata lain yang terkenal lainnya seperti pantai pesisir barat Aceh yang terkenal luar biasa indah, Danau Laut Tawar di Aceh Tengah, gue gak akan tulis disini (soalnya gue belum pernah. Hehe)

Sebelum itu, hal yang pertama yang perlu gue jelaskan adalah masalah Syariat Islam. Aceh memang menerapkan syariat Islam. Semua wanita muslim memang diharuskan memakai jilbab. Tapi ada gak yang gak pake jilbab? Sepanjang pengamatan gue, masih banyak!

Jadi gak usah khawatir, biasanya teman-teman wanita gue yang ke Aceh malah jadi gak enak sendiri karena ngeliat semua perempuan berjilbab. Jadi mereka bersikap seperti itu bukan karena paksaan.

Kalo non-muslim gimana? Ya gak perlu lah. Tapi kalo emang mau memakai kerudung untuk menghormati, silahkan saja. Tapi intinya, gak bakalan ada razia untuk hal-hal semacam itu (at least, untuk wisatawan)

Oke, kita mulai dari dari awal ya! Here we go!

1. Penerbangan.

Ada beberapa maskapai nasional yang terbang ke Aceh setiap hari. Gak usah khawatir atas masalah transportasi keluar masuk propinsi ini.

Lion Air terbang tiga kali sehari dari Jakarta, Sriwijaya Air sehari sekali, dan Garuda Indonesia terbang dua kali sehari. Air Asia juga melayani penerbangan dari Medan dan Kuala Lumpur.

Bandara Sultan Iskandar Muda di Aceh adalah bandara internasional. Bandara ini baru dipugar beberapa tahun belakangan, dan bentuknya jadi bagus banget untuk skala propinsi. Jauh lebih baik dari bandara Polonia di Medan. Arsitekturnya seperti mesjid, seolah pertanda bagaimana nilai-nilai Islami diterapkan di propinsi ini.

Tips dari gue, ambil penerbangan yang paling pagi. Selain untuk menghindari delay, hal ini bisa dilakukan untuk menambah waktu liburan bagi yang punya waktu terbatas.

Penerbangan pagi juga terbang langsung ke Banda Aceh (direct flight), sementara penerbangan siang, kita diharuskan transit di Medan dulu. Penerbangan langsung (direct flight) dari Jakarta ke Banda Aceh akan memakan waktu sekitar 2 jam 40 menit (Iya, Aceh emang jauh).

Harga tiket di waktu normal biasanya berkisar antara Rp700rb-800rb untuk sekali penerbangan (di musim liburan tentu harganya menjadi lebih mahal)

2. Hotel

Tenang,ada banyak hotel di Banda Aceh dan di Sabang, semuanya bisa disesuaikan dengan kondisi kantong. Gue akan jelaskan lebih detail di postingan berikutnya. Intinya, gak usah khawatir masalah penginapan selama di Aceh.

3. Transportasi

Selama di Aceh, jangan khawatir masalah transportasi. Jika anda ingin menyewa mobil, di bandara akan tersedia banyak jasa penyewaan mobil harian. Di Aceh akan susah mencari taksi resmi yang menggunakan argo, moda transportasi utama di Banda Aceh adalah labi-labi (angkot tradisional Aceh) dan becak motor. Jika ada ingin menikmati udara sore, maka becak motor menjadi rekomendasi gue.

Labi-labi di Banda Aceh

Labi-labi di Banda Aceh

gambar diambil dari sini. Terima kasih

Hayuk bang!

gambar diambil dari sini. Terima kasih.

Ongkosnya :

Labi-labi : Rp3,000-5000 (tergantung jarak)

Becak motor : Rp10.000-30.000 (tergantung jarak)

4. Tempat wisata

Menurut gue, Banda Aceh dan Sabang adalah tujuan yang komplit untuk berlibur. Ingin wisata kota tua dan sejarah? Ada. Ingin wisata alam? Banyak. Wisata Tsunami? Bisa. Wisata kuliner? Silahkan makan sampai puas.

Ini adalah beberapa highlight objek wisata di Aceh yang bisa gue bikin, lengkap dengan sedikit dengan sejarahnya yang gue tau.

a. Museum Aceh

Bagi penikmat sejarah, Museum Aceh sepertinya harus masuk dalam tujuan. Museum yang terletak di jalan Sultan Alaiddin Mahmudsyah di Banda Aceh ini, menawarkan sejarah Aceh bagi para pengunjungnya. Di jalan ini juga terdapat rumah dinas gubernur Aceh atau yang sering disebut Pendopo atau Meuligo, yang tempat perjamuan tamu-tamu kenegaraan.

Museum Aceh

Museum Aceh

gambar diambil dari wikipedia. Terima kasih.

Pendopo Gubernur

Pendopo Gubernur

gambar diambil dari sini. Terima kasih.

b. Taman Putroe Phang (Putri Pahang)

Taman Indah ini dibangun oleh Sultan Iskandar Muda untuk istrinya,seorang Putri dari Kerajaan Pahang di Malaysia yang dinikahi setelah kerajaan itu berhasil ditaklukkan. Taman ini dibuat untuk sang putri agar dia tidak merasa kesepian karena jauh dari kampung halamannya. Gak jauh dari situ ada Gunongan, tempat sang Putri mandi dengan dayang-dayangnya. Dan Pinto Khop tempat dia mengeringkan badan setelah selesai mandi.

Pinto Khop

Pinto Khop di Taman Putroe Phang

gambar diambil dari wikipedia. Terima kasih.

Meskipun terdengar seperti cerita dongeng, ini adalah sejarah nyata yang benar-benar terjadi. Lokasi Taman Putroe Phang ini ada di Jalan Teuku Umar, dekat Neusu.

c. Kerkoff – Peucut

Kerkoff – Peucut ini adalah pekuburan Belanda di Banda Aceh yang kondisinya masih sangat terawat. Pekuburan ini adalah pekuburan serdadu Belanda yang tewas di Perang Aceh. Sebagai informasi, pekuburan ini adalah pekuburan Belanda terbesar di dunia yang berada di luar negara Belanda.

Hingga saat ini Pemerintah Kerajaan Belanda sangat haru dan menghormati warga Banda Aceh yang merawat dengan rapi kuburan tersebut. Mereka tidak habis pikir bahwa bangsa yang dijajah mau merawat makam para penjajahnya.

Gerbang Kerkoff

Gerbang Kerkoff

gambar diambil dari sini. Terima kasih.

Disini juga terdapat makam Putra Sultan Iskandar Muda, yaitu Amat Popok yang kedapatan berzina dan dijatuhi hukuman rajam.

Lokasi Kuburan Kerkoff ini ada di Jalan Teuku Umar Banda Aceh. Lokasi ini sangat bagus untuk anda penggemar fotografi.

d. Mesjid Raya Baiturrahman

Belum lengkap rasanya jika pergi ke Aceh tapi tidak mengunjungi Mesjid Raya Banda Aceh. Mesjid kebanggaan rakyat Aceh ini, pernah disebut-sebut sebagai mesjid terindah se-Asia Tenggara.

Lokasi Mesjid yang terletak di jantung kota Banda Aceh ini mudah dijangkau dari arah manapun. Mesjid ini sudah berdiri tegak sejak tahun 1873 dan menjadi saksi sejarah beberapa peristiwa penting dalam sejarah Aceh. Mulai dari perang Aceh dengan Belanda, saksi bisu konflik Aceh selama puluhan tahun, dan tetap berdiri tegar dihantam tsunami di tahun 2004 lalu.

Bagi yang muslim, sempatkan untuk shalat di masjid ini. Oia, untuk memasuki kawasan masjid ini, setiap pengunjung harus menggunakan busana yang sopan dan Islami.

Mesjid Raya Baiturrahman

Mesjid Raya Baiturrahman

gambar diambil dari sini. terima kasih.

e. PLTD Kapal Apung

Kapal ini sebenarnya adalah pembangkit listrik PLN yang mengapung di laut. Tapi karena keganasan tsunami di tahun 2004, kapal ini terseret beberapa kilometer ke darat. Kalian pasti akan ternganga melihat kapal sebesar ini bisa terseret ke darat karena kedahsyatan tsunami.

PTLD Apung

PTLD Apung

gambar diambil dari sini. Terima kasih.

Hingga kini, kapal ini dibiarkan saja dan dijadikan objek wisata di Banda Aceh (Bingung juga gimana mau mindahinnya).

f. Museum Tsunami

Museum ini adalah sebagai pertanda untuk kejadian tsunami yang terjadi di 2004. Museum karya Ridwan Kamil ini sekilas terlihat seperti kapal. Bentuk di dalamnya berupa kaca yang dialiri air, sehingga masuk ke dalamnya, kita seperti dibawa kedalam gelombang tsunami.

Beberapa foto kejadian tsunami dan nama-nama korban tsunami diukir diatas kaca di dalam museum ini.

Museum Tsunami di Aceh

gambar diambil dari wikipedia. Terima kasih.

Ini salah satu objek wajib dikunjungi selama di Banda Aceh. Cakep banget soalnya.

g. Pasar Aceh

Pasar Aceh adalah satu pasar tradisional tertua di Banda Aceh, lokasinya terletak persis dibelakang Mesjid Raya Baiturrahman. Mau belanja souvenir dan cendera mata, disini pilihan tepat!

Pasar Atjeh

Pasar Atjeh

gambar diambil dari sini. Terima kasih.

5. Jajanan dan wisata kuliner

Ini bagian yang paling menarik buat gue sebagai tukang makan. Kita bahas yang paling terkenal dan yang paling sering gue makan.

a. Sate Matang

Sate ini bukan berasal dari kata ‘matang’ karena dimasak. Namanya menunjukkan daerah makanan ini berasal. Sate ini berasal dari Matang Glumpang sebuah daerah di kabupaten Bireuen di Aceh bagian timur.

Sate kambing atau sate daging sapi yang dipanggang diatas bara api kemudian disajikan bersama kuah kaldu kambing. Aura rempah seperti cengkeh, kapulaga, dan merica menjadi penggugah selera. Aromanya yang harum seolah menggelitik rasa lapar. Pilihlah es timun serut sebagai minuman penyeimbang kadar kolesterol yang pasti akan meningkat setelah menyantap makanan ini.

Sate Matang

Sate Matang

gambar diambil dari ini. Terima kasih.

Gue biasanya makan Sate Matang di Rex, sebuah pujasera (pusat jajanan) di daerah Peunayong, di Banda Aceh.

Harga berkisar antara Rp20.000-30.000 rupiah.

b. Ayam Tangkap

Menu ini menjadi highlight makanan di Aceh beberapa waktu belakangan. Potongan-potongan kecil ayam goreng yang lezat tersembunyi dibalik dedaunan seperti daun temurui dan daun salam. Ayam ini disajikan tersembunyi dibalik tumpukan daun yang ikut digoreng itu, sehingga Ayam Tangkap sering disebut juga Ayam Sampah. Karena untuk memakannya, kita diharuskan menggali tumpukan daun yang tersaji di dalam piring.

Jika dalam kondisi hangat, dedaunan yang digoreng ini rasanya garing seperti kerupuk.

Ayam Tangkap

Ayam Tangkap

gambar diambil dari sini. Terima kasih.

Rasanya? Endang bambang!

Harga berkisar antara Rp40.000-60.000 per porsi (yang bisa dimakan untuk 2-3 orang)

c. Mie Aceh (Mie Kepiting)

Gak sah kan kalo ke Aceh gak makan Mie Aceh yang terkenal itu? Mie kuning yang dimasak dengan bumbu serta potongan daging yang tercampur di dalamnya ibarat makanan yang turun dari surga.

Mie Aceh selalu disajikan dalam tiga tipe : Goreng, Kuah dan Tumis (orang Aceh menyebutnya Mie Goreng Basah, karena ada sedikit kuah yang tersisa). Campurannya bisa bermacam-macam seperti daging sapi, udang, cumi, atau kepiting.

Biasanya, orang yang pengen makan kepiting akan langsung memesan Mie Kepiting, mie Aceh yang disajikan dengan kepiting ukuran besar.

Mie Kepiting

Mie Kepiting

gambar diambil dari sini. Terima kasih.

Meskipun sebagai orang Aceh gue akan menyarankan tempat lain yang lebih enak, kedai Mie Aceh paling terkenal di Banda Aceh tentu saja Mie Razali di daerah Peunayong.

Harga berkisar antara Rp15.000-25.000

d. Kopi Aceh

Kopi bagi orang Aceh bukan hanya minuman. Kopi adalah bagian dari gaya hidup. Gue belum pernah ada daerah lain yang suka kopi seperti kampung gue ini. Ribuan warung kopi akan ditemukan berjejer di Banda Aceh dan kota-kota lain di Propinsi NAD.

Orang Aceh akan menghabiskan berjam-jam untuk nongkrong sambil minum kopi. Membahas isu-isu politik, ekonomi, sosial hingga hasil pertandingan bola tadi malam. Meskipun hanya berbentuk ruko sederhana, warung kopi di Aceh pasti sudah dilengkapi oleh koneksi wi-fi yang kencang.

Karena mudahnya mendapatkan koneksi internet disini, Banda Aceh pernah dijuluki cyber city dan dijadikan kota percontohan oleh Menkominfo.

Ada ratusan kedai kopi yang bisa menjadi pilihan, tapi yang paling beken tentu saja Kopi Solong yang menjadi primadona.

Kopi Solong

Kopi Solong

gambar diambil dari sini. Terima kasih.

Kedai Solong sudah membuka beberapa cabang di Banda Aceh. Jika ingin mencoba yang lain, pergilah ke Ulee Kareng, sentra kedai kopi di Banda Aceh.

Menu favorit gue? Tentu saja Sanger dingin. Kopi susu dicampur es yang tidak terlalu pahit (maklum, perut gue suka lemah ama kopi yang terlalu kuat) namun berbeda dari kopi susu biasa. Kopi Aceh biasanya disajikan bersama panganan kecil seperti timphan (kue tradisional seperti lemper yang berisi serikaya atau kelapa yang disajikan dalam balutan daun pisang) dan beberapa jenis gorengan lainnya.

Oia, cara penyajian kopi aceh agak unik. Campuran kopi dan air panas akan dituangkan melalui saringan yang diangkat tinggi-tinggi oleh sang barista. Tingkat penyaringan air dan kopi ini konon bisa mempengaruhi kadar keasaman kopi. Kalau emang tertarik bisa melihatnya di bagian belakang warung.

Harga berkisar antara : Rp5.000-10.000/gelas

e. Canai

Kuliner Aceh memang banyak dipengaruhi oleh kuliner dari India, salah satunya roti canai. Tempat paling terkenal untuk makan roti enak ini adalah Canai Mamak, di daerah Teuku Umar. Menu andalannya tentu saja roti canai yang disajikan dalam beberapa tipe. Canai keju susu, canai cokelat, canai dengan kuah kari, hingga canai dengan gula pasir. Semuanya enak!

http://ceritabee.files.wordpress.com/2011/02/picture-250.jpg?w=300&h=225

Canai Mamak

gambar diambil di sini. Terima kasih.

Pergilah malam hari dan nongrong di sini.

Harga berkisar antara : Rp.20.000-50.000

f. Martabak Aceh

Martabak telur Aceh berbeda dengan martabak telur biasanya. Martabak ini disajikan dengan roti canai yang digoren di dalamnya. Telur yang digunakan juga bisa dipilih menggunakan telur ayam atau telur bebek.

Roti canai yang dibaluti telur yang bercampur dengan sayur dan potongan daging, akan memanjakan lidah waktu digigit. Nikmat!

Martabak Aceh bisa dengan mudah ditemukan di warung makan mana saja di malam hari.

Harga : Rp10.000-15.000

g. Sambal Ganja dan Ikan Kayu.

Di rumah makan Aceh, biasanya ada menu ini. Sambal ganja bukanlah sambal yang menggunakan ganja. Ini adalah sambal belimbing segar dengan campuran udang di dalamnya.

Menu pendampingnya biasanya adalah Ikan Kayu (keumamah), ikan ini berasal dari ikan tongkol yang diawetkan sehingga sedikit keras sehingga dianalogikan seperti kayu. Nasi putih panas, tambah kuah kari, sambal ganja dan ikan kayu, sepiring rasanya tak akan cukup!

 

Lumayan panjang juga ternyata tulisan gue, padahal belum semuanya bisa gue ceritain. Sementara ini dulu yang bisa gue informasikan. Postingan berikutnya akan gue bikin rencana perjalanan (itinerary) sederhana jika ingin berkunjung ke Aceh dan Sabang.

Jadi mulai sekarang, masukkan Aceh sebagai destinasi wisata kalian!

Let me hear your comments.

PS : Foto-foto keren objek wisata lainnya di Banda Aceh bisa dilihat disini.

Postingan dan tutorial liburan ke Sabang ada di postingan selanjutnya di sini