Mata gue menyipit, membiasakan dengan cahaya dan kantuk yang masih mendera.

Suasana masih gelap, lampu nya belum gue nyalakan, dan sepertinya akan gue biarkan seperti itu.

Ruangan ini masih kosong, belum banyak isinya. Hanya sebuah sofa hitam, dan meja kaca. Tanpa ada lukisan atau foto besar yang tergantung di dindingnya.

Hasil housing loan dari kantor, cukup untuk membeli rumah kecil ini. Hanya ada dua kamar, dan gue tinggal sendiri disini.

Sedikit jauh dari ibukota, but hey, rumah adalah rumah.

Gue ambil sepatu lari gue dari rak di belakang. Gue berjalan kembali ke ruang tamu. Dengan perlahan gue meraba pinggiran sofa, dan duduk disana.

Sambil mengikat tali sepatu, gue melirik jam dinding berwarna hitam yang tergantung di pojok ruangan.

Pukul lima lewat empat belas menit.

Semoga belum terlalu banyak mobil di jalanan.

Gue memeriksa kembali barang-barang di kantong celana.

Cuma ada beberapa lembar rupiah disana. “Cukup untuk membeli minum.” pikir gue

Ipod touch sudah gue set ke arah shuffle, biarkan alat itu memainkan lagu acak sesuai keinginannya.

Gue putar kunci pintu masuk ke arah kiri. Suara derik pintu kayu langsung menyapa ketika gue menarik handle pintu. Udara fajar yang dingin langsung menerpa wajah gue.

Sambil melakukan peregangan, gue melihat sekeliling, jalanan komplek ini masih sepi, belum banyak orang yang terbangun. Di ujung jalan, gue cuma melihat seorang tukang sampah yang rutin mengambil sampah dari perumahan ini setiap pagi.

Setelah kembali mengunci pintu, gue mulai berjalan.  Pelan.

Supaya otot otot kaki ini tidak kaget langsung dibawa berlari.

Di pintu gerbang komplek, gue melihat seseorang yang familiar berdiri disana.

“Lari pagi pak?” tanya pak Maman, satpam komplek ini.

“Iya pak, biar kurus” kata gue singkat.

Pak Maman ini sudah bekerja di kompleks ini sebagai satpam hampir sembilan tahun. Dia selalu sabar membukakan pintu gerbang ketika gue pulang tengah malam dari kantor.

Begitu melewati gerbang komplek, gue mulai berlari.

Ntah kenapa, gue jadi senang lari belakangan ini.

Tujuan utamanya, membakar lemak. Napas yang semakin pendek membuat gue gampang merasa lelah. Stamina yang menurun sejak masuk kantor membuat gue merasa harus kembali berolahraga.

Lari adalah olahraga paling mudah dilakukan. Tidak perlu perlengkapan khusus. Cukup sepatu yang nyaman, dan berlarilah.

Tujuan lainnya adalah gue ingin lari, lari dari masa lalu yang menghantui gue. Lari dari kenyataan. Lari dari rutinitas.

Ketika berpisah dengannya minggu lalu, gue merasa harus berubah. Agar tidak terjebak dalam infinity loop yang terjadi ketika patah hati.

Penyesalan, denial, sedih, amarah dan rasa kesal. Beberapa rasa menyebalkan yang terus menerus datang bergantian. Terjebak seperti putaran tak berbatas. Ibarat pusaran air yang terus menerus berputar tanpa akhir.

Dan gue harus melakukan hal yang berbeda, untuk mendobrak lubang hitam perasaan.

Berusaha menyibukkan diri.

Berusaha membuat rutinitas baru, dan mencoba hal-hal baru.

Agar tidak terperangkap di jebakan bernama memori.

Dan berlari menjadi jawabannya.

Gue berharap dengan berlari, jantung gue akan memompa darah lebih cepat ke paru-paru dan otak.

Bukannya ke hati.

Gue berharap gue akan terjatuh.

Karena kelelahan, bukan karena sakit yang ditimbulkan oleh patah hati.

Karena dengan hanya diam, kepingan masa lalu bisa menjadi sangat menyakitkan.

Dan sekarang, semakin sakit hati gue, semakin cepat gue ingin berlari.

Perlahan gue naikkan kecepatan lari gue.

Hentakan hentakan sol sepatu yang bersentukan dengan aspal memberikan ritme sendiri.

Udara yang dingin semakin cepat masuk melalui lubang hidung, memberi supply oksigen ke paru-paru dan otak.

Suasana jalan yang masih sepi membuat gue seperti raja jalanan pagi ini.

 

Dan kini, dengan napas yang tersengal, kaki yang mulai berat, keringat yang mulai bercucuran.

Gue lagi-lagi mempercepat langkah kaki.

Anehnya, kenapa semua ini tidak berhasil.

Kenapa semakin cepat gue berlari, semakin susah gue untuk ‘maju’?