Setelah pulang dari Liburan ke Bali beberapa waktu yang lalu, akhirnya foto-foto selama liburan itu di share ke semua orang di lantai gue. Termasuk orang-orang yang ngga ikutan pergi.

Awalnya gue ngerasa gak masalah. Ampe akhirnya gue sadar kalo ada foto-foto seronok gue di pantai dengan kondisi perut tidak senonoh yang ikutan disebar.

Foto foto yang seperti ini.

bitch i'm fabulous

bitch i'm fabulous

Ya, gue emang menggendut sejak masuk kerja. Setelah dipikir-pikir, gue gak terlalu banyak makan, porsinya normal kok. Portugal. Porsi Tukang Gali.

Dan ngomongin makanan, gue emang suka makan. Tapi yang harus cocok dengan selera gue. Lidah gue kampungan, ngga cocok ama makanan aneh-aneh. Sangat Indonesia.

Dan ngomongin makanan ini, ketika gue jalan-jalan, gue selalu mencari makanan tradisionalnya. Maksud gue, Indonesia dengan beragam suku yang ada, pasti kaya dengan makanan surgawi. Dan makanan akan terasa lebih nikmat jika dimakan langsung di tempat aslinya.

Makan masakan padang di Padang.

Makan bakwan malang di Malang,

Makan bika ambon di Ambon,

 

Intinya adalah, ada beberapa makanan yang pernah gue makan dalam hidup gue yang paling berkesan. Ngga semuanya dari Indonesia, tapi ini sedikit dari yang gue inget :

1. Pecel Lele

Ya, pecel lele.

Makanan ini menjadi kejutan buat gue ketika pertama kali datang ke Bandung waktu jaman kuliah. Sebagai orang Aceh asli, gue gak pernah makan pecel lele sebelumnya. Dan waktu itu, pecel lele memang belum ada di Banda Aceh. Jadilah gue berkelana di Bandung tanpa mengetahui apa itu pecel lele.

Yang kebayang di otak gue waktu itu adalah : pecel, sayur-sayuran yang dikasi kuah kacang, dan lele goreng. Ketika gue mesen pecel lele, gue kaget. Mana pecel lelenya? Kok cuma nasi putih, lele goreng, dan daun-daunan? Dan gue harus makan daun-daun itu?

Kayak kambing.

2. Uta Dada di Palu.

Makanan ini gue coba langsung di Palu sekitar tahun 2011. Begitu nyampe di Palu, gue langsung nanya ke supir gue ‘apa makanan khas Palu?’ dan jawabannya adalah “Uta Dada dan Kaledo”.

Gue udah mikir aneh-aneh. Makanan ini mungkin sejenis tete yang di kasi kuah. Makannnya gimana? Gue bingung

Tapi tenang, tidak dada yang tersakiti dalam pembuatan makanan ini.

Uta dada ini sejenis opor ayam yang lebih pedas dan segar dibandingkan opor ayam biasa. Yang bikin khas adalah, uta dada menggunakan ayam kampung. Teksturnya agak sedikit a lot karena berbeda dengan ayam broiler biasa. Makan ayam kampung itu sehat, karena bebas dari suntikan vitamin atau penggemuk yang banyak di lakukan di perternakan-peternakan ayam.

Uta Dada

Dan di warung tempat gue makan waktu itu, semua bahan-bahannya berasal dari kebun sendiri. Sangat tradisional. Uta Dada diimakan bersama ketupat. Sangat cocok sebagai pemadam kelaparan.

3.  Kaledo

Kaledo ini adalah salah satu makanan khas Palu yang pernah gue cobain. Kaledo itu semacam sup iga yang sedikit lebih asam. Cuma rasa asamnya itu menyegarkan. Biasanya, kaledo dimakan bersama ubi kayu rebus, tapi bisa juga dimakan dengan nasi.

Kaledo

Nasi putih, kaledo segar yang mengebul dan es kelapa muda dingin menjadi salah satu ingatan menyenangkan gue dari Palu.

4. Goi Cuon di Hanoi – Vietnam

Pengalaman gue nyari makan di Vietnam sebenarnya ga terlalu bagus. Karena di Hanoi, sedikit sekali orang yang bisa berbahasa Inggris.

Jadi setiap gue ingin memesan makanan, gue harus memeragakan makanan yang ingin gue pesen. Bahasa tarzan.

Mesen air mineral : “ambil botol, puter, teguk, ahhhhhhh..one!” kata gue mempraktekkan.

Untung di Vietnam gak ada kue cubit dan kue tete. Kalo ada, gue bisa cubit-cubitan tete ama pelayannya.

Kami memesan makanan ini bukan karena suka, tapi karena orang-orang di sekeliling semuanya makan ini. Dan dengan analisis selevel protozoa, kami berasumsi kalo ini adalah makanan khas dari Vietnam.

Goi Cuon ini semacam risol yang dibungkus kulit lumpia yang berisi nasi, udang, semacam daun-daunan seperti daun mint. Risol ini akan dicocol ke semacam kuah tauco yang disediakan terpisah.

Goi Cuon

 

Gue emang bukan penggemar favorit dedaunan, karena menurut gue, sayur itu harus dimasak. Dan ketika gue makan Goi Cuon ini, si putu langsung nanya ke gue..

“Gimana ta? Enak” tanya Putu penasaran.

“Berasa makan sirih!”

5. Ular dan Kodok.

Bukan, gue bukan keturunan elang. Makan makanan ini cuma karena rasa penasaran yang terus muncul.

Kebodohan ini gue lakukan di semester-semester akhir kuliah di Bandung, bermodalkan penasaran, gue dan teman-teman gue memutuskan untuk nyobain daging ular kobra dan daging kodok.

Untuk daging kodok, teksturnya agak lembut. Dan kaki kodok yang disajikan masih lengkap dari paha hingga jari-jarinya. Dan ntah kenapa, waktu menggigit pahanya, engsel di lutut kodoknya masih meregang. Jadi makannya kayak niup terompet tahun baru, gerak-gerak sendiri.

Untuk ular kobra sendiri rasanya gak berbeda jauh ama ayam goreng. Mirip banget.

Perbedaaannya cuma efek setelah selesai makannya. Daging ular, membuat kita suka melet-melet sendiri.

Ngga lah!

Daging ular membuat badan terasa ‘panas’ dan ‘bergairah’. Oke, gue gak perlu menjelaskan panjang lebar lagi, tapi yang pasti, jika anda pengantin baru, gue saranin makan daging ular. Hehe

 

Segitu dulu, ada yang punya cerita makanan unik dan enak?

Gue tunggu di bagian komen ya?