Berawal dari salah satu mention di Twitter gue, yang meminta gue untuk menjelaskan krisis Yunani secara sederhana, gue kepikiran untuk menuliskan hal ini. Katanya sih gue bisa menjelaskan isu-isu kayak gini jadi mudah dimengerti (seperti tulisan gue tentang bbm beberapa waktu lalu).

Tujuannya sih sederhana, biar orang-orang Indonesia (at least pembaca blog gue) bisa peduli terhadap hal-hal yang lebih krusial daripada cuma ngeributin masalah LGBT di US atau Marshanda pamer perut di Instagram.

Disclaimer : Ilmu ekonomi makro gue masih dangkal banget, kalau ada hal-hal yang nggak tepat silakan dikoreksi. Dan banyak hal di bawah ini yang gue sangat sederhanakan biar gampang dimengerti (over simplified).

Oke mari kita mulai.

Pertanyaan dasarnya sih cuma ada dua.

1. Apa sih yang bikin krisis Yunani itu terjadi?

2. Dan apa bisa krisis serupa terjadi di Indonesia?

Sekarang kita liat dulu masalah di Yunani itu seperti apa.

Yunani sekarang lagi megap-megap karena ekonominya lagi berdarah-darah. Tingkat pengangguran udah menyentuh 25%, bahkan youth unemployement nya udah hampir 50%. Katanya kalau musim dingin, kota-kota di Yunani itu penuh asap karena orang-orang membakar apapun untuk tetap hangat karena udah nggak mampu lagi untuk membayar listrik atau heater.

gambar dari http://fxtrade.oanda.com/

gambar dari http://fxtrade.oanda.com/

 

Pokoknya kacau!

Penyebab awalnya kenapa? Kalau menurut gue, karena pemerintah Yunani dan Uni Eropa sama-sama brengsek. There I said it.

Kenapa Pemerintah Yunani brengsek?

Karena dari dulu kebijakannya udah salah. Mulai dari tunjangan sosial yang memanjakan rakyatnya, pemungutan pajak yang nggak bener, defisit anggaran yang besar sekali (uang masuk ama uang keluar nggak seimbang).

Masalah lain adalah korupsi yang merajalela. Sebagai contoh, Olimpiade Athena 2004 yang awalnya diperkirakan cuma bakal ngabisin 9 milyar dolar akhirnya membengkak jadi 15 milyar dolar.

Yunani bahkan sering disebut-sebut sebagai negara Eropa yang paling korup.

Untuk menutupi anggarannya yang bolong ini, pemerintah Yunani bukannya memperbaiki sistem ekonominya, mereka malah ngambil jalan pintas paling mudah.

Hutang. Hutang yang dilakukan selama bertahun-tahun.

Rasio hutang Yunani bahkan udah menyentuh 160%, yang artinya kalau Yunani dapet duit sebesar 1.000 dia harus membayar hutang dan bunganya sebesar 1.600. Hutang-hutang ini bahkan gak dilaporkan ke publik dengan benar alias disembunyikan, yang baru diketahui kemudian.

Perlu diketahui, hutang bukan selalu merupakan hal yang buruk selama rasio nya masih bisa dijaga. FYI, rasio hutang pemerintah Indonesia sekarang berkisar di angka 25%.

Uang dari hutang ini yang harusnya digunakan ke memperbaiki sendi-sendi ekonomi Yunani (yang didominasi oleh agriculture dan tourism), malah digunakan untuk kebijakan-kebijakan yang salah, tunjangan pensiun yang berlebihan contohnya.

Pas krisis ekonomi 2008, semuanya makin parah. Defisit mereka makin gede dan makin nggak sanggup untuk bayar hutang dan bunganya.

Trus kenapa Uni Eropa brengsek Ta? 

Oke, kita mundur sebentar ke 2001 pas Yunani bergabung dengan Uni Eropa (termasuk zona ekonomi nya). Ketika Yunani meninggalkan mata uang Drachma dan mulai menggunakan Euro. Dengan adanya zona ekonomi seperti ini harusnya bisa menjadi hal yang positif. Mata uang yang sama yang mudah digunakan antar negara, ekspor akan mudah berjalan, perpindahan barang dan jasa jadi bebas. dll.

Tapi disisi lain, kebijakan moneter harus dibikin secara terpusat yaitu oleh European Central Bank (ECB).

Artinya, kebijakan moneter Yunani pun harus tunjuk kepada ECB ini. Harusnya, ketika mereka butuh duit, mereka bisa mencetak Drachma sendiri meskipun akan menurunkan nilai mata uangnya karena volume uang yang bertambah banyak.

Harusnya dalam situasi seperti ini, mencetak Drachma sendiri akan membuat mata uang mereka (Drachma) melemah, barang-barang dari Yunani jadi terasa murah, dan ekspor mereka meningkat, ekonomi akan menggeliat kembali.

Tapi hal ini nggak bisa dilakukan karena mereka sudah termasuk dalam Uni Eropa.

Jadi, Yunani cuma punya satu cara. Hutang lagi ke ECB dan IMF. Hutang baru untuk membayar hutang lama.

Dan disini brengseknya Uni Eropa, dalam hal ini ECB (yang mayoritasnya dikuasai Jerman sebagai ekonomi terkuat di EU). Mereka nggak ngasih pinjaman ke Yunani dengan mudah (yang notabene anggota mereka sendiri).

Mereka nggak mungkin ngasih pinjaman ke Yunani pake uang pembayar pajak mereka. Ada beberapa pertanyaan mendasar yang mengganggu mereka.

Apa yang mencegah kalau Yunani berulah lagi? Apa jaminan Yunani bakal berubah?

Tapi di sisi lain, mereka nggak mungkin ngebiarin Yunani kolaps. Karena hal itu akan mengganggu stabilitas ekonomi Uni Eropa. Dan sudah ada beberapa negara penyakitan yang menunjukkan gejala-gejala yang mirip ama Yunani, kayak Portugal dan Spanyol.

Dan dengan membiarkan Yunani jatuh, akan menggoyang ekonomi Uni Eropa (atau bahkan mungkin dunia).

Lalu, mereka memperlakukan Yunani dengan standar dan kebijakan yang mereka anggap baik yang belum tentu cocok ke Yunani.

Jadi lah mereka ngasih syarat ke Yunani.

“Oke Yunani, gue pinjemin lo duit lagi dengan berbagai syarat. Lo harus reformasi total semua kebijakan lo. Mulai dari naikin pajak, memotong tunjangan sosial dll. Jadi pelan-pelan defisit anggaran lo bisa berkurang.”

Yunani terus ngomong :

“Wah gak bisa gitu dong. Nanti rakyat gue makin susah. Makin kejepit.”

Di sisi lain, pembayar pajak di EU juga bilang,

“Woi, enak aja lo ngasi pinjaman ke Yunani lagi. Itu uang dari pajak gue! Masa dengan mudahnya lo ngasih pinjem ke Yunani yang mengelola negara aja nggak bisa?!”

Jadilah semuanya makin kacau sekarang.

Trus sekarang gimana?

Satu yang pasti, Yunani udah default. Artinya tenggat waktu untuk Yunani untuk bayar hutang dan bunganya udah lewat. Ini yang sering dikutip media sebagai “Yunani udah bangkrut”.

Pemerintah Yunani sudah menggelar referendum untuk nanya ke warganya

“Wahai rakyat Yunani, kita ikut aturan ECB atau gimana nih? Apa kita keluar aja dari Uni Eropa dan bikin mata uang sendiri lagi?”

Hasil referendumnya : Menolak syarat dari ECB dan yang seolah bilang “F*ck you” ke ECB.

Sekarang para pengambil kebijakan Uni Eropa mulai memikirkan ulang, karena sulit bagi mereka melepas Yunani keluar dari Eurozone. Akhirnya mereka bilang ke pemerintah Yunani.

“Yauda, kalem. Kita obrolin dulu yuk? Sini ngobrol dulu. Sini ngobrol sambil ngeteh (atau kopi, gue nggak tau).”

Mereka sedang bernegosiasi.

Sementara itu, karena nggak ada pinjaman yang diberikan, stok uang di Yunani mulai menipis. Rakyat mulai panik dan berusaha mengambil uang mereka di bank. Bank pun nggak bisa membiarkan hal itu dengan bebas, dan mereka mulai membatasi penarikan uang buat nasabahnya.

Alhasil, antrian panjang terjadi di seluruh ATM. Dan bank-bank di Yunani mulai kehabisan duit. Makin chaos!

Jadi solusi terbaik kayaknya Yunani harus harus keluar dari Eurozone ya?

Nggak juga. Karena kalau Yunani keluar dari Eurozone, mereka nggak bisa memakai Euro lagi sebagai mata uangnya. Let’s say, mereka kembali ke Drachma, mereka harus mencetak ulang uang mereka.

Yang bikin mata uang itu nggak akan berharga di mata negara lain. Harga barang akan mahal, inflasi akan tinggi, kepercayaan publik terhadap mata uang itu akan jatuh, dll. Bahkan masalah-masalah sederhana kayak transaksi ulang di bank yang harus di-reset ulang akan menjadi masalah besar.

Dan Yunani nggak siap untuk dapat masalah tambahan seperti itu.

Intinya sekarang, rakyat Yunani sedang menderita.

Dan buat Uni Eropa, keluarnya Yunani akan menjadi momentum buat negara-negara lain untuk memikirkan keluar dari Uni Eropa setiap ada masalah ekonomi.

“Kalau Yunani aja bisa, kenapa kita nggak?”

Keluarnya Yunani dari Eurozone adalah lose-lose situation.

Terus pertanyaan pamungkasnya : Indonesia bisa nggak jadi kayak Yunani?

Jawabannya : Bisa.

Jika kebijakan-kebijakan populis yang salah masih terus dilakukan, kayak subsidi bbm atau pemungutan pajak yang nggak digalakkan.

Tapi hal itu masih jauh sekali. Rasio hutang kita masih di angka 25% dan gue melihat pemerintahan yang sekarang benar-benar sedang menggenjot penerimaan pajak. Mulai dari menaikkan bea materai hingga mengejar pajak ke profesi-profesi yang selama ini jarang disentuh oleh pajak.

Di sisi lain, kebijakan-kebijakan nggak populisnya mulai berkurang. Subsidi bbm dihapus. Pembangunan infrastruktur dipercepat, dan kebijakan-kebijakan lainnya.

Karena untuk membiayai negara, ada tiga opsi yang bisa diambil. Pajak, ekspor sumber daya, atau hutang.

Tinggal pilih mana yang mau dilakukan. Idealnya, tiga-tiganya harus berada dalam porsi yang seimbang. Kecuali kita berada dalam negara kaya raya dengan sumber daya seperti negara-negara teluk yang kaya akan minyak.

***

Demikianlah tulisan gue tentang krisis Yunani, semoga bisa sedikit membantu untuk mengerti apa yang sedang terjadi di sana. Silakan dikritik dan ditambahkan jika ada yang salah.

Dan ada banyak sekali tulisan lain di internet mengenai krisis Yunani yang bisa dijadikan referensi tambahan.

Sekarang, gue mau buka Instagramnya Marshanda dulu.

PS : Ini ada infografis yang keren kenapa Yunani bisa mengalami krisis ini.