Berbeda dengan mayoritas tulisan gue biasanya, tulisan gue kali ini agak serius dan agak panjang. Be prepared.

Beberapa waktu belakangan, di timeline twitter gue beredar nama yang mungkin cukup familiar. Ustad Felixsiauw, yang getol banget ‘berdakwah’ sambil jualan buku anti pacaran.

Timeline Twitter gue pun seolah terbelah, satu yang mendukung isi twit dia, dan yang lain menyindir terhadap isi-isi twitnya. Gue sih bisa dibilang netral, gue gak follow akun itu. Gue juga gak anti dengan orang yang menggunakan twitter untuk promosi.

Tapi sejak twit kontroversial dia tentang ‘ibu atau pegawai’ itu, gue jadi tertarik terhadap apa masalah yang dia bahas. Dan terakhir, dia melancarkan serangkaian twit tentang penolakan pengurangan subsidi bbm, dan secara gak sengaja, gue menemukan blognya felixsiauw dan menemukan analisanya tentang penolakannya. Link artikelnya bisa ditemukan disini.

Artikel ini sebenarnya ditulis 1 Juli 2012, waktu pemerintah waktu itu berencana mengurangi subsidi bbm, yang kemudian gagal. Namun karena isunya kembali naik ke permukaan, si ustad kembali mempromosikannya.

Sebagai orang yang bekerja di perusahaan minyak, sedikit banyak gue tahu tentang mekanisme industri ini. Dan membaca analisa ustad felixsiauw yang asal-asalan dan berkedok islami, gue jadi gerah.

Orang dengan jumlah follower 320 ribu orang (per Juni 2013), sudah dianggap sebagai ustad oleh orang banyak, harusnya dia bisa lebih berhati-hati dalam menyuarakan opini. Apalagi terhadap isu yang sensitif dan mengatasnamakan Islam.

Jadi dengan ini, gue tergerak untuk mengkoreksi postingan felixsiauw itu. Sebelum itu ada beberapa yang harus gue jelaskan.

  1. Meskipun masih jauh dari kata taat, gue masih seorang muslim. Jadi bagi pendukung fanatik ustad, jangan jadikan ini isu penyerangan agama.
  2. Ilmu tentang industri migas gue masih sangat cetek, jadi kalau ada koreksi sangat dianjurkan.
  3. Gue sebenarnya bukan orang yang doyan meladeni hal-hal kayak gini. Gak pernah ikutan twitwar, bukan selebtwit, dan gak suka mencari sensasi. Namun, aktivitas ‘berdakwah’ dengan modal ketololan bikin gue gerah.
  4. Gue ingin menjelaskan satu hal sebelum mulai. Teori Yahudi : yaitu teori dimana akal sehat dan logika gak bisa lagi berfungsi, salahkan Yahudi, Amerika, Illuminati, IMF, Asing, atau siapapun. Pokoknya salahkan orang lain atas ketololan kita.

Got it? Let’s get started. Kita bahas per twit di artikel yang ditulis si ustad.

1. gonjang-ganjing kenaikan BBM kembali menggema, kita lihat banyak reaksi bermunculan dimana-mana, tanda ketidakpuasan pada pemerintah

2. maklumlah, rencana kenaikan BBM ini membarengi rencana kenaikan TDL 10% pula pada awal April 2012, rakyat yg selama ini susah, bertambah

3. ada beberapa alasan pemerintah menaikkan BBM, yg paling getol katanya “subsidi BBM terlalu banyak dan dinikmati malah oleh orang kaya”

4. bila alasannya adalah subsidi, dan pemerintah kata “seharusnya subsidi ini bisa dipakai membangun sektor lain” maka ini adl akal bulus

5. karena pada faktanya, tak pernah ada pembangunan yg dirasakan kecuali sangat sedikit sekali, ambil contoh jalan raya yg tak pernah laik

Versi gue, ini cuma masalah sebab akibat. Kenapa pembangunan mandek? Karena uangnya habis untuk subsidi bbm dan listrik. Bukan sebaliknya.

Setau gue, porsi belanja terbesar APBN itu habis untuk subsidi dan gaji pegawai negeri. Sisanya baru dibagi-bagi untuk pendidikan, kesehatan, pembangunan, dan lain-lain. Jadi, dengan logika melakukan pembangunan dulu dengan tetap mensubsidi bbm, uangnya datang dari mana? Dari langit?

6. bila dikata pemerintah merugi krn subsidi tll besar, inipun penipuan dan jg pengakuan bhw pemerintah adl perusahaan, bukan pelayan rakyat

7. semua alasan pemerintah untuk menaikkan BBM adl mengada-ada, dan tak pernah ada, penipuan untuk menutupi alasan hakikinya

Ini murni opini. Gue mendukung seseorang untuk bebas berpendapat.

8. hakikat kenaikan BBM ini sebenarnya adl liberalisasi ekonomi dlm sektor migas, yg merupakan kesepakatan dgn IMF pd 1997

9. dan liberalisasi ekonomi ini tmsk 1 diantara 4 poin kesepakatan dgn IMF yaitu 1) hilangkan campur tangan pemerintah

10. 2) privatisasi (swastanisasi) 3) liberalisasi (hilangkan proteksi dan subsidi) dan 4) memperbesar masuknya investasi asing

11. sederhananya, IMF minta agar Indonesia menjual negara dan penduduknya ke tangan asing, meminta rakyat bersaing dgn perusahaan raksasa

12. hasil akhirnya sudah bisa kita tebak, pengerukan besar2an kekayaan kaum Muslim, dan penjajahan secara ekonomi kepada kaum Muslim

13. terang sudah, alasan naiknya BBM krn “harga minyak dunia naik” hanya dibuat2, nyatanya itu sudah jadi kesepakatan dgn IMF sejak 1997

Gue ketawa waktu baca ini. Tulisan dibuat tahun 2012. And for your information, hutang Indonesia kepada IMF sudah lunas sejak tahun…2005! Silahkan baca artikelnya di sini atau di sini.

Kita pake akal sehat aja, kenapa kita masih harus mengikuti perintah IMF, padahal kita udah gak ada kepentingan dengan IMF.

Mungkin bakal ada yang bilang : “Tapi bisa aja mereka tetap mengendalikan Indonesia gitu ta.” : Masukkan Teori Yahudi disini sebagai jawabannya.

Hutang pemerintah Indonesia saat ini kebanyakan berasal dari penerbitan surat hutang atau obligasi.

Lanjut?

14. dalam Islam, amalan seperti ini adl haram, krn Allah memerintahkan agar kaum Mukmin tak boleh dikuasai oleh kaum kafir

15. selain itu, Islam telah menggariskan bahwa barang tambang termasuk minyak, bukanlah milik negara melainkan milik ummat seluruhnya

16. sabda Rasul: “Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal; air, padang rumput dan api (energi/barang tambang)” (HR Abu Dawud, Ahmad)

Hadits ini sahih, gue pernah dengar. Gak akan gue ragukan.

17. artinya, pemerintah tak boleh menghargai minyak yg tersimpan di bumi kaum Muslim dgn harga dunia, yg naik seiring naiknya harga dunia

18. dalam Islam, harga minyak yg diambil oleh pemerintah di bumi Muslim adalah 0$ karena kepemilikannya teruntuk ummat seluruhnya

19. dan sebenarnya yang dikatakan “pemerintah mensubsidi BBM, sebenarnya tak pernah ada, malah pemerintah diuntungkan, bukan subsidi

20. coba kita sejenak berpikir, Indonesia itu negara plng repot, harga minyak dunia naik dia susah, harga minyak dunia turun diapun susah

21. harusnya kl pemerintah bilang dia subsidi minyak, dia hepi dong kalo harga minyak turun, tapi dia susah juga krn ktny eksportir minyak

22. lha kalo eksportir minyak harusnya kan hepi kalo harga minyak dunia naik, tapi Indonesia nggak, aneh kan? akal bulus aja tuh naik BBM.

Faktanya, Indonesia adalah negara importir minyak. Sejak tahun 2008, kita sudah keluar dari OPEC (negara-negara penghasil minyak). Konsumsi bbm sudah melebihi produksi dalam negeri. Efeknya, kita harus impor dari negara lain.

Produksi harian kita cuma sekitar 800 ribu – 900 ribu barel per hari. Jauh dari masa keemasan kita di tahun 70an yang bisa mencapai 1,6 juta barel per hari tahun 1977. Dengan jumlah kendaraan yang jauh lebih sedikit, bisa dibayangkan kan kenapa harga bbm murah?

Saking putus asanya, pemerintah memanggil bos 10 perusahaan minyak untuk menggenjot produksi minyak dalam negeri. Beritanya bisa dibaca di sini.

Jadi, dengan membeli dari luar negeri wajar dong kalo pemerintah khawatir subsidi bbm akan membengkak?

Udah? Ini bagian paling menarik dari analisa si ustad.

23. sy coba share apa yg dimaksud “subsidi” oleh pemerintah, begini ceritanya,

24. pemerintah anggap minyak kita sama seperti harga dunia, taruhlah skrg 120$/barel dan biaya produksi sampe jd BBM 10$/barel

25. jadi harga minyak seharusnya = (120$/barel + 10$/barel x Rp. 9000/1$) : 159 lt/barel (1 barel = 159 lt) = Rp 7.358 / liter

26. nah, jadi krn sekarang pemerintah jual Rp. 4500/lt jadi dia klaim udah rugi krn subsidi sebesar Rp. 2858/lt (rugi? emang perusahaan?)

27. pdhl kejadiannya gak bgt, sebenarny nilai minyak yg diangkut dari tanah kita sendiri adl 0$/barel (kan punya sendiri, gak beli ini)

28. jd harga minyak sebenernya = (0$/barel + 10$/barel x Rp. 9000/1$) : 159 lt/barel = Rp. 566 / liter (hah? serius? >> bener kok)

29. jadi sebenernya rakyat Indonesia sudah subsidi pemerintah 4500 – 566 = Rp. 3936/liter >> bukan pemerintah yg subsidi kita

30. emang mungkin harga minyak semurah itu? >> mungkin banget, coba cek gambar ini >>

31. memang harga BBM di Indonesia lbh mending dr jepang yg Rp. 9292/lt >> tp inget, jepang gak punya minyak, dan coba liat GNP nya!

32. harga Rp. 9292/lt affordable bg org jepang yg kaya2, indonesia GNP-nya seupil mau dihajar lagi sama kenaikan BBM >> *tepokjidat capede!

Reaksi pertama gue waktu baca itu ngakak, terus ngerasa miris.

Menurut si ustad, cuma perlu uang sebesar $10 dolar per barel, untuk mencari, menggali, mengekstraksi, memproduksi, memindahkan, menyuling, menyimpan, dari minyak mentah yang tersimpan ribuan kaki dibawah tanah, yang lokasi penggaliannya mungkin berada di tengah hutan atau di tengah laut, hingga bisa dipake di kendaraan.

Atau ustad punya doa khusus yang bisa bikin hal kayak gitu jadi kenyataan?

Mungkin ustad lupa kalo harga minyak dunia itu sesederhana hukum permintaan dan penawaran. Dimana kalau permintaan meningkat, pasokan tetap, harga akan meningkat.

Dan kita tidak bisa semata-mata mengkonsumi semua minyak yang kita terima, karena jenis minyak itu berbeda. Tingkat gravity dan kadar belerang yang dikandungnya. Hal ini juga harus dicocokkan dengan kapasitas penyulingan yang ada di Indonesia. Gak semudah gali, ambil terus masukin ke tangki bensin mobil.

Kita tetap harus membeli minyak dari luar sesuai dengan apa yang kita butuhkan.

33. jadi dear tweeps, dari segi logika kenaikan BBM ini adl penipuan, dan dari sudut pandang Islam ini adalah keharaman yg besar

34. di zaman Rasulullah dan Khulafaurrasyidin, fungsi pemimpin adl pelindung ummat, Rasul katakan “Imam laksana perisai”

35. di zaman kapitalisme, pemerintah berubah jd broker penjajah yg menjual kekayaan ummat, dan menguntungkan dirinya sendiri

36. di masa Rasulullah dan Khulafaurrasyidin serta Khilafah Islam, ummat terjamin terpenuhinya keperluan pokok, dgn hukum syariat Allah

37. di masa ini, saat kapitalis merajalela, ummat-lah yang harus menjamin keperluan pokok pemerintah, bahkan keperluan mewahnya, pesawatnya

38. maka kenaikan BBM ini bukan hanya harus ditolak, namun kita pun harus menyadari, ini akan selalu terjadi selama kapitalis sistemnya

39. karena itu haruslah kita serukan, hanya syariat Islam yg akan mengatur dengan adil, hanya Khilafah yg mampu kembalikan kebaikan ummat

40. disampaikan Rasul “seorang imam (khalifah) adl pengatur urusan rakyat dia dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya” (Mutafaq alaihi)

41. hanya syariah dan khilafah yg mampu menghapuskan kedzaliman dan mengangkat penjajahan, dan itu adalah tuntutan iman

Sebagian besar hanya opini. Gue gak akan mendebatnya.

 

Sebenarnya, gimana sih mekanisme industri migas di Indonesia?

Industri migas itu adalah industri yang sangat beresiko, mahal dan rumit. Lo mencari minyak yang tersimpan ribuan kaki dibawah tanah, dengan ‘membaca’ kondisi tanah di atasnya. Lokasinya bisa di gurun, di hutan, di kutub bahkan di tengah laut. Gue pernah baca, persentase keberhasilan eksplorasi migas itu cuma sekitar 30%.

Kalo lo sebagai negara, punya duit 100 juta dolar, lo mending bikin jalan, jembatan, sekolah, atau eksplorasi migas yang kemungkinan berhasilnya cuma 30%?

Trus gimana?

Gue akan menjelaskan sedikit. Indonesia menganut konsep Production Sharing Contract (PSC) dalam industri migasnya.

Berbeda dengan konsep Tax and Royalty yang banyak dianut di luar negeri, kita jauh berbeda. (konsep Tax and Royalty menyatakan setiap minyak yang ditemukan adalah milik perusahaan migas, pemerintah hanya mendapatkan persentase royalty dan pajak.)

UUD 1945 pasal 33 kita melarangnya.

“Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”

Minyak yang terkandung di dalamnya tetap milik pemerintah.

Pemerintah punya lapangan nih (yang mungkin letaknya di hutan atau di tengah laut), dia bilang ke perusahaan minyak (yang dianggap mampu dari sisi teknologi, modal dan sumber daya) yang tentunya sudah melewati proses bidding.

“Eh, lo cari deh minyak di tanah gue itu. Kalo ada minyaknya, kita bagi dua minyaknya (persentasenya biasanya 85-15). Kalo gagal, biaya lo yang udah keluar gak mau gue ganti. Kan gue menganggap lo mampu, gak mungkin gagal dong?”

“Kalo ketemu minyaknya, lo produksi deh selama 20-30 tahun. Gue bakal ganti semua biaya resmi yang lo keluarkan (cost recovery). Selesai masa kontrak, semua aset yang udah lo bangun itu akan gue ambil alih karena status kepemilikannya yang dari awal emang punya gue.”

“Oia, gue juga pasti ngaudit lo tiap tahun dan semua biaya yang mau lo keluarkan harus gue setujui dulu.”

Nah, itu production sharing contract secara sangat sederhana. Pinter kan pemerintah? Ustad ngerti gak masalah ini?

Jadi, sering banget kan ngeliat gambar peta Indonesia dengan bendera-bendera asing letak ladang minyak? Pertanyaan gue, pernah ngeliat dimana bendera Indonesia yang diwakili Pertamina? Enggak kan? Mungkin jauh lebih banyak.

Lagipula kenapa? Itu kan letak ladang-ladang dimana perusahaan minyak bekerja untuk pemerintah. Semua minyaknya itu milik pemerintah. Itu kayak lo nunjukin dapur, dimana ada pembantu rumah tangga lo yang lagi masak buat makanan keluarga lo.

Gue setuju kalo pemerintah seharusnya bukan perusahaan, tapi harusnya menjadi orang tua. Yang kadang, cara mengajarkan anak-anaknya bukan melulu memanjakan dengan bbm murah, tapi kadang harus dengan cara yang agak keras.

Perilaku manusia, semakin murah barangnya, kita akan semakin merendahkan nilainya. Kita akan jadi semakin boros, subsidi akan semakin besar, dan sektor-sektor lain akan semakin tertinggal.

Gue sangat segan dengan seorang ustad (guru). Guru mengaji gue dulu selalu berhati-hati, menjaga lisannya, berwibawa, dan memilih diam jika tidak mengetahui isu-isu tertentu. Gue selalu segan dengan seorang ustad.

Tapi entah kenapa, makin kesini makna kata ustad makin terdegradasi.

Hal-hal yang gue tulis di atas sebenarnya cuma modal googling, dan tersebar di seluruh media di Indonesia.

“Ya tapi keabsahan media emang masih bisa netral? Media udah dikuasain Yahudi!” masukkan Teori Yahudi disini sebagai jawaban.

Seandainya si ustad lebih bijak menyebarkan informasi berkedok dakwah terhadap ratusan ribu followersnya. Atau kalau emang gak terlalu mengetahui isu sebenarnya, mungkin lebih baik diam dan berkonsentrasi terhadap isu pacaran atau terus jualan buku #UdahPutusinAja.

Dunia menjadi semakin buruk bukan karena orang-orang tolol yang terlalu banyak, tapi karena orang-orang pintar memilih berdiam diri.