Ketika lo ditanya, sebutkan nama penyanyi solo pria terbaik Indonesia, nama siapa yang kan lo sebut?

Gue bakal jawab dengan mantap, Glenn Fredly berada dalam urutan teratas. Menyusul dibawahnya ada Tompi, Sandy Sandhoro, dan Tirta Prayudha. Mehehehe.

Dan kemaren, gue dateng ke konser sweet seventeennya Glenn Fredly. Konser yang berjalan secara indie, tanpa dukungan sponsor manapun. Sebuah konser pergerakan yang berjudul Konser Cinta Beta.

Dari judulnya saja, kita sudah tau kalau konser ini membawa suara-suara dari Indonesia timur.

Istora, yang menjadi tempat konser ini berlangsung, penuh oleh wanita-wanita cantik, dan orang-orang gundah gulana. Jemaah galauiyah berbaris rapi memasuki venue.

Konser dibuka oleh Pandji Pragiwaksono, seorang penyanyi rap yang malam itu gak ngerap, tapi lebih membuka acara dengan sangat menyenangkan. Stand up comedy. Beberapa kali gue terbahak dengan bit-bit dari Pandji yang benar-benar menohok urat ketawa.

Kemudian konser dibuka dengan lagu Indonesia Raya, seluruh Istora bergemuruh, cara yang cukup mengesankan untuk membuka sebuah konser.

Oia, sebelum gue cerita lebih jauh, gue bakal ngasi tau satu hal. Ini adalah konser pertama gue. Gue gak pernah nonton konser sebelumnya. Konser yang benar-benar konser, bukan sekedar acara musik.

Jadi, gue bela-belain beli tiket festival. Berdiri di depan panggung. Biar gue bisa benar-benar ngerasain sensasi nonton konser. Bendera SLANK udah gue siapin. Gue pengen histeris! Gue pengen teriak! Gue pengen bakar ban!

Sesi pertama dimulai dengan lagu-lagu berirama sedikit cepat seperti Happy Sunday dan Selamat Pagi Dunia. Lagu yang terakhir kali gue denger waktu gue masih bau ketek baru puber.

Playlist lagu kemudian berlanjut ke lagu-lagu ngehits pengantar bunuh diri semacam Tega, Sedih Tak Berujung, dan Terserah.

Di bagian ini wanita-wanita mulai histeris, entah karena galau mengingat masa lalu atau kesurupan.

Satu persatu bintang tamu yang muncul menjadi kejutan bagi penonton, mulai dari Indra Lesmana ngebawain lagu Dimensi (atau Warna-Warna ya judulnya? Lupa.), Fariz RM, Sandy Sandoro, Endah n Rhesa, Pasto, dan favorit gue, Tompi.

Tompi nongol dengan pakaian adat Aceh lengkap dengan kopiah meukeutop, topi khas Aceh. Dengan suara melengking dan mendayunya itu, dia ngegantiin posisi Dewi Persik nyanyiin Hikayat Cintaku. Lagu itu dibawakan dengan irama padang pasir, bergejolak, panas dengan diiringi tabuhan rebana di belakang. Semua orang jadi ga jaim. Goyang semua!

That was the best part of the concert!

Istora berubah menjadi paduan suara massal ketika Januari dimainkan.

Mas-mas didepan gue ampe histeris :

“KAASIHKU..SAMPAI DISINI, KISAH KITA..JANGAN TANGISI KEADAANNYA..BUKAN KARNA KITA BERBEDAAAA…AARRRRRHHH!!!”

Pas lagu Sekali Ini Saja selesai dimainkan, ada tulisan besar dimunculkan di layar..

‘Cinta Sejati Hanya Datang Sekali’

Tulisan itu cukup untuk membuat penonton yang datang bersama pacar untuk pelukan makin erat, dan membuat penonton yang jomblo main pasir di pojokan.

Bajingan lo Glenn, aaakkkkkk!!

Sejak berubah menjadi musisi indie, gue melihat sedikit perubahan dari Glenn, ada jiwa pemberontak yang muncul. Hal ini terlihat dari playlist lagu yang dibawakan selanjutnya. Seolah ingin menyuarakan suara dari Indonesia Timur, Glenn membawa kan lagu Rame-Rame, Beta Maluku, Di Timur Matahari, dan Suara Kemiskinan.

Ketika suara kemiskinan dimainkan..ketika liriknya diucapkan..

Kami tidur diatas emas..

Kami berenang di lautan minyak..

Saat itu suasana hening. Gue terharu sekali. Suara-suara ketidakadilan disuarakan disini.

 

Konser diakhiri dengan lagu semacam Kisah RomantisCukup Sudah dan Akhir Cerita Cinta yang dibawakan secara akustik. Ketika acara dikira sudah selesai dan penonton berjalan pulang, ternyata di pintu gerbang keluar ada sebuah panggung kecil yang disediakan, dimana Glenn menyanyikan lagu My Everything hanya sebagai pengantar bagi penonton yang pulang.

 

Akhir kata, that was a great show!

Tapi ada yang sedikit mengganjal di gue.

Selama ini gue kira, orang yang merekam sebuah konser melalui telepon genggam sudah sangat menganggu, itu sebelum gue ketemu orang yang merekam konser dengan… Ipad!

Seriously? Gue tau hasil rekaman melalui Ipad, ga ada bagus-bagusnya untuk didengar ulang. Tapi orang-orang jenius ini seolah ga peduli. Tetap ngerekam make Ipad sepanjang konser. Nonton konser sambil bawa-bawa talenan.

Pokoknya lain kali gue mau bawa LED 42 inchi buat ngerekam di konser!

Yang kedua, adalah tipe orang yang berdiri paling depan di konser, tapi cuma berdiri diam. Jaim. Orang-orang kayak gini emang harusnya denger musik di CD, bukan di konser.

For me, watching a concert is about enjoying the moment, enjoying every penny that you spent for it. Simpan aja di kepala. Biar jadi memori yang menyenangkan. Jangan jaim ataupun disibukkan ama gadget.

Hal itu nyebelin bagi orang-orang pendek yang berdiri macam gue ini.

Tapi secara keseluruhan, konser Glenn membuktikan kalo orang akan menghargai musik yang bagus.  Bagaimanapun caranya. Dan terlihat jelas, konser Glenn tersaring rapi, penggemarnya spesifik. Gue ga melihat satupun alay dalam konser ini.

A great concert, a great friends, a great memories. That’s the way how you should spend your weekend.

 

EPILOG

Konser Glenn menjadi acara reuni yang sangat manis untuk orang-orang melankolis kayak gue. Orang-orang yang menyimpan kenangan lewat lagu. Orang-orang yang terjebak dalam romantisme masa lalu. Lagu-lagu Glenn benar-benar galau, bahkan sebelum kata ‘galau’ mengalami kebangkitan nasional kayak sekarang.

Ada masa-masa dimana lo akan berpikir

“Ini lagu gue..”

“ini lagu pertama gue belajar main gitar..”

“ini lagu putus gue..”

Dan buat gue, lagu itu adalah My Everything, lagu pertama yang gue nyanyikan di kampus. Tujuh tahun yang lalu. Dan lagu itu termasuk dalam playlist yang gue kasi ke dia dalam bentuk mixed CD setelah kencan pertama kami selesai. Lagu favorit gue.

“Take me to your place..where our hearts belong together..I will follow you..you’re the reason that I breath..”

 

Ahhh…Indahnya masa lalu.