Beberapa waktu yang lalu gue dapet pertanyaan via mention di account twitter gue. Sebenarnya udah gue jawab, tapi ntah kenapa gue kurang puas karena ada beberapa hal yang belum sempat gue jabarkan.

Pertanyaannya kira-kira kayak gini :

“Bang, nanti kalo udah nulis buku, bakal kayak Raditya Dika yang berhenti menulis di blog gak?”

Oke, ini jawaban gue : Engga.

Sejauh ini, blogging buat gue adalah hobi yang (kadang) menghasilkan uang. Gue gak akan berhenti blogging hanya karena gue sudah menulis buku. Gue memiliki cara lain untuk menghasilkan uang. Untuk bertahan hidup, gue masih memiliki pekerjaan sebagai model penuh waktu.

Kalaupun ada kemungkinan gue berhenti menulis blog, hal itu lebih mungkin disebabkan pekerjaan utama gue telah mengkonsumsi sebagian besar waktu gue sehingga tidak ada lagi waktu yang tersisa untuk menulis blog. Jadi, selama gue masih punya waktu kosong, gue akan akan tetap menulis blog.

Hal ini berbeda dengan Raditya Dika yang mencari nafkah dengan kreativitasnya. Mungkin hal ini yang menyebabkan Radit sudah jarang sekali bercerita di blognya.

Tapi, coba pikir lagi, Radit (azeegg, manggilnya kayak akrab) itu gila! Dia udah bikin buku (dan sebagian besarnya adalah best seller), talkshow, standup shows, serial di Youtube, menulis skenario, main film hingga bikin film. Kreativitasnya seolah tanpa batas. Ya wajar aja dia gak sempat menulis blog lagi.

Ide-ide terbaiknya sudah dituangkan dalam bentuk yang lain. Bedanya, mungkin sebagian besarnya sudah tidak lagi gratis. Dia sudah mengkomersilkan karya dan kerja kerasnya.

Salah? Menurut gue enggak.

Kayak kata Joker di film Batman : If you’re good at something, never do it for free.

Kayak yang pernah gue bahas di Kekeluargaan Yang Salah Kaprah, gue pengen sekali menghapus mental gratisan yang udah melekat di masyarakat kita. At least, tulisan ini sebagai bentuk upaya untuk mengubah pola pikir para pembaca gue. Kenapa kita gak rela membayar untuk sesuatu yang sebenarnya kita nikmati?

Seolah gak pernah berubah, gue makin menyadari betapa pelitnya kita untuk menghargai kerja keras seseorang. Maunya selalu diberikan secara cuma-cuma. Suka dengan barang-barang gratisan tanpa pernah bisa melihat bagaimana kerasnya upaya orang tersebut.

Hal ini terus menerus gue lihat. Overtime yang dipotong, barang-barang yang diminta secara gratis, keahlian yang diminta secara cuma-cuma dan hal-hal lainnya.

Belajarlah untuk menghargai karya dan kerja keras seseorang. Buy that stuff. Pay for that effort.

“Gila! buat desain gitu doang mahal amat? Kerjanya cuma lima menit padahal”

Iya, tapi lo gak pernah tau berapa tahun dia harus belajar hingga dia bisa mendesain dalam lima menit.

Hal yang sama untuk teman lo yang jago main musik.

“Ih, mahal amat padahal cuma tampil lima belas menit”

Iya, tapi dengan membayar dia tampil selama lima belas menit, lo juga membayar ratusan jam dia latihan, alat musik, biaya listrik, transport dll. Belum lagi unsur kreativitas yang dia keluarkan.

“Ih, sekarang blognya makin banyak paid post. Males deh.”

Hey, blogging isn’t free. Biaya listrik, internet, laptop, domain, hosting, dan ratusan menit dihabiskan untuk menulis.

“Ih, ngetwit produk mulu. Sekarang jadi buzzer.”

Coba lihat dia sudah berapa kali ngetwit, puluhan ribu kali. Kalau semua twit promo itu dijumlah dan dipersentase, gue yakin jumlahnya gak nyampe 1%.

“Tapi kan blog itu awal mula lo, masak ditinggalin?”

Raisa yang dulu terkenal via youtube, apa pernah menyanyi gratis lagi di Youtube? Menurut gue, gak ada yang salah dengan orang-orang yang mengkomersilkan karyanya.

Dan buat kita sebagai konsumen, cobalah untuk mengapresiasi karya itu. Karena bagaimanapun, industri kreatif bergantung pada hal itu. Makanya sekarang sering banget kan ngeliat seniman, pelukis yang cuma bisa berkarya di pinggir jalan? Seniman yang hidupnya luntang lantung mencari nafkah. In my opinion, they deserve better.

Think about it.

Think about it.

 

Konsep gue sederhana, ketika lo bisa menikmatinya sebuah karya, lo “harus” bayar untuk itu. Contoh paling gampang, ketika lo menikmati lagu pengamen di jalanan, lo berarti “wajib” untuk ngasih uang.

Sejak gue menulis buku, gue berhenti mendownload mp3 bajakan. Karena gue tau gimana susahnya berkarya. Menghabiskan berjam-jam untuk menghasilkan sesuatu. Jadi sekarang ini, gue berusaha membeli lagu atau albumnya via iTunes. Atau kalau gue gak punya uang, gue mendengar lagunya di radio atau buffering di Youtube.

Kasian aja gitu, seniman, pelukis, pematung, penulis, yang telah menghabiskan waktu dan kerja kerasnya, karyanya malah dibagikan secara cuma-cuma.

Padahal, kalau kita pikir berapa sih harganya? Sebuah buku paling cuma lima puluh ribuan. Kaset CD juga segituan. Dan kita bisa menggunakannya secara berulang-ulang.

Mulai sekarang, kalau ada teman kalian yang jago mendesain, menggambar, main musik, menulis, atau jadi MC, please jangan minta bantuan atau karya mereka secara gratis. Kalau pun mereka baik, mereka pasti akan ngasih “harga teman”.

harga temen

harga temen

 

Bukan, ini bukan ajakan untuk jadi mata duitan dan menghitung semuanya dengan satuan mata uang. Ini hanya lebih kepada bentuk menghargai kerja keras seseorang. Kita harusnya bisa membedakan mana bantuan mana memanfaatkan. Bukan berarti semuanya harus diukur dengan rupiah.

We ask for their time, it is our obligation to pay for it.

Mereka menghabiskan waktu mereka, dan sudah selayaknya mereka mendapatkan bayaran yang setimpal. Konsepnya sama seperti orang kantoran, dimana mereka digaji karena bekerja sebagai pengganti waktu mereka yang terbuang.

Jadi, jangan takut untuk membeli sebuah karya. Bagaimana pendapat kalian?