Dan disinilah gue.

Uring-uringan diatas kasur. Bersembunyi dibalik selimut tebal yang melindungi gue dari udara dingin yang menyembur dari AC kamar ini. Tetesan hujan diluar mengetuk-ngetuk kaca jendela, membuat udara malam ini menjadi semakin dingin.

Pandangan kosong tertuju pada layar TV LED tiga puluh dua inchi di pojok kamar. Acara di Animal Planet tentang proses metamorfosis kupu-kupu sama sekali tidak menarik minat gue. Suara yang muncul hanya dijadikan suara latar, supaya kamar ini tidak terlalu sepi. Pikiran gue sendiri melayang entah kemana.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan lebih empat puluh tujuh. Sudah lewat lima belas menit ketika gue memutuskan untuk melakukan hal itu.

 

Lima belas menit yang lalu :

Gue menimbang-nimbang smartphone di tangan gue ini. Gue buka twitter, hanya sekedar untuk mengalihkan pikiran gue. Ngga seru.

Semua orang di TL bermain plesetan dengan hestek tertentu. Gue paling benci twitter pada kondisi-kondisi seperti ini. Tweet semua orang menjadi seragam. Like I just followed one big fat chatty bitch in my timeline. Ga lama, gue langsung sign out dari twitter client gue.

Lalu gue buka aplikasi sebuah portal berita, tapi ngga ada satupun yang benar-benar menarik perhatian gue.

Semua tweet orang-orang gue liat tanpa arti, semua berita gue baca tanpa makna.

Pikiran gue cuma ke satu hal.

Dia.

Wanita yang gue kenal beberapa waktu yang lalu. Wanita yang beberapa hari ini lalu lalang di pikiran gue. Wanita yang beberapa hari ini membuat gue seperti pencandu.

Uring-uringan dan merasa bersalah.

Mereka bilang, flirting itu adalah proses yang menyenangkan. Nikmati saja.

Mungkin sebagian besar ada benarnya, tapi tidak bisa dipungkiri ada juga bagian-bagian yang gue benci.

Gue benci rasa penasaran yang muncul.

Gue benci tebak-menebak yang terus terjadi.

Gue benci jawaban-jawaban aman yang diberikan.

Dan mereka bilang, ada peraturan tidak tertulis di dunia pria selama proses perburuan asmara ini..

“Three Days Rule” atau “Tarik Ulur” dalam bahasa Indonesia nya.

Mereka bilang :

“Kalau suka ama cewe, jangan langsung dihubungi, nanti keliatan banget suka nya”

atau

“Kalau suka ama cewe, jangan keseringan dihubungi, nanti dia bosen. Tarik ulur kayak layangan”

Muka lo layangan?! Ntah siapa yang pertama kali memunculkan hukum-hukum sialan ini, tapi yang pasti sekarang gue galau.

Otak gue bilang, ‘Jangan hubungi dia!’

Hati gue bilang, ‘Smsin dia sekarang!’

Gue kecanduan dengan tawanya, gue suka dengan suaranya, gue suka emoticon-emoticon lucu yang selalu dia kirim.

Dia telah menjadi candu buat gue.

Tapi gue benci cerita-cerita nya yang selalu menceritakan pria lain yang mendekati dirinya. Gue benci sikap defensifnya yang muncul ketika gue berusaha menggali perasaannya jauh lebih dalam.

Gue merasa bodoh dan tak berdaya. I feel powerless.

Love switch off your brain, man.

Hati dan otak gue sedang bertarung sengit.

Dan sepertinya otak gue bakal kalah.

Untuk kali ini, hati gue menang.

Jari-jari gue mengetik cepat di aplikasi chatting berwarna hijau itu, tapi tak lama berapa lama, gue delete lagi draft yang sudah gue ketik.

Shit, nulis kalimat kayak gini doang butuh berapa lama sih?

Gue ketik lagi, tapi lagi-lagi gue hapus karena gue ngerasa pickup line gue murahan.

Gue ketik ulang, gue hapus lagi..

Oh God, why this became so hard to do?

Otak gue gak jalan. Akhirnya gue cuma bisa ngetik,

 “Nothing to do here, so I guess I need someone to talk to”  – Sent.

Dan bencana baru saja dimulai.

 

Satu menit berlalu..

Mungkin dia belum baca..

 

Menit kedua baru saja terlewati..

Mungkin dia lagi ngga ngeliat handphone..

 

Empat menit berlalu..

Gue mulai pengen muntah..

 

Lima menit berlalu..

Oh shit, Apa yang udah gue lakukan?

Gue mulai memarahi diri sendiri, kenapa tadi gue hubungi duluan? Harusnya sekarang adalah saatnya melihat reaksi dia ke gue. Jual mahal dikit kenapa?!

Bodoh!

Itu adalah monolog yang otak gue lakukan. Mungkin sambil memarahi hati gue yang telah salah mengambil keputusan.

 

Sekarang sudah tujuh belas menit sejak chat itu terkirim.

Rasionalisasi-rasionalisasi mustahil mulai muncul dikepala gue.

Mungkin dia sudah tidur. Mungkin hapenya mati. Mungkin dia lagi beli nasi goreng. Atau mungkin dia diculik alien ketika beli nasi goreng.

Setelah rasionalisasi-rasionalisasi itu selesai muncul, kini giliran temannya yang datang.

Denial.

‘Ngga apa-apa kok, itu cuma sebuah chat yang sangat kasual.’

‘Ngga apa-apa kok, chat itu isinya wajar banget, ga keliatan kalo lo suka ama dia’

‘Ngga apa-apa kok, baygon sisa semalem masih ada.’

Semua itu muncul bergantian.

Menonjok-nonjok perut dan harga diri pada saat bersamaan.

Gue hampir pingsan ketika handphone gue bergetar. Dengan semangat sumpah pemuda, gue langsung membukanya.

Dan ternyata itu sebuah sms dari operator.

Really Telkomsel?! Now?!

Arrrgghhhhh…

Sms itu langsung gue delete, dan gue kembali melanjutkan ritual harakiri gue.

Gue kembali mengambil handphone yang tergeletak itu..

Melihat layarnya, dan menyesali kebodohan yang sudah gue lakukan.

Ingin rasanya melemparkan handphone ini ke dinding, persis seperti yang biasa kita lihat di video klip lagu-lagu Kerispatih. Namun niat ini gue urungkan karena gue gak cukup kaya untuk membeli handphone baru dan gue sama sekali gak mirip Sammy Simorangkir.

Gantengan gue.

Dan disaat harapan gue hampir hilang..

Disaat itu juga handphone gue kembali bergetar..

Layar yang hitam kembali bercahaya, sebuah notifikasi muncul di layar..

Kali ini benar, aplikasi chatting itu muncul dan namanya terpampang disana

Gue buka chat yang masuk.

 “Really? You can talk to me then..”

Kini gue bimbang..

Apa gue harus langsung bales? Nanti keliatan banget murahannya.

Bodo amat dengan teori layangan tadi, gue langsung bales chat itu.

Dua puluh empat menit sejak gue mengirimkan chat pertama gue, dan hanya selang satu menit untuk gue membalas chatnya.

I’m so weak on this. I’m sooo fuckin weak.

 “Instead of texting you, may I just call you?”  - Sent.

Tapi kali ini gak butuh waktu terlalu lama..

Dia langsung membalas..

 “Sure..why not..”

Dan kali ini sebuah senyum lebar muncul di wajah gue.

Ketika hati mengalahkan otak..