Bekerja sebenarnya bukan hal yang baru buat gue. Keinginan untuk mandiri sudah ada di diri gue dari kecil. Mulai dari berjualan waktu SD hingga mencari orderan konveksi waktu kuliah di Bandung. Dan sepertinya, kebiasaan itu terbawa hingga ke Aberdeen.

Sebulan terakhir, ada kesibukan baru dalam hidup gue di Aberdeen. Bekerja part-time.

Kombinasi hobi traveling gue dan keparatnya Amazon dan eBay semakin menguras tabungan gue. Sebenarnya bisa aja sih gue survive di Aberdeen sampai selesainya masa studi nanti, tapi rasanya sayang aja gitu gue ngabisin tabungan dan gue gak pengen begitu balik ke Indonesia, gue harus makan nasi aking.

Alhasil beberapa waktu yang lalu, gue mulai nyari-nyari info lowongan kerja part-time di Aberdeen.

Secara garis besar, ada beberapa jenis pekerjaan part-time di Aberdeen untuk para mahasiswa. Ada yang memutuskan untuk berkerja di pub, ada yang menjadi pegawai di toko retail (Giordanonya kakaaa…) atau ada yang memutuskan untuk bekerja di restoran sebagai waitress atau kitchen staff.

Melihat jenis-jenis pekerjaan itu, gue awalnya menimbang-nimbang mana yang paling cocok buat gue.

Kerja di pub rasanya kok gak enak, melayani alkohol ke orang-orang yang pengen mabok. Apa kata bang haji Rhoma nantinya?

Kerja di restoran kok rasanya males banget. Gue nggak punya tampang yang mumpuni untuk jadi waitress dan mendapatkan banyak tip. Bekerja di dapur sebagai tukang cuci piring kok bertentangan dengan hati nurani dan rasa jijik gue.

My face when I touched the leftovers in the sink

My face when I touched the leftovers in the sink

 

Gue paling males kalau disuruh nyuci piring, karena jijik aja rasanya kalau nyentuh sisa-sisa makanan di tempat cuci piring.

Akhirnya bekerja di sektor retail menjadi tujuan utama gue. Rasanya gue cukup mampu untuk menyapa customer dan bersikap manis.

Gue akhirnya mulai memberanikan diri untuk mencetak beberapa CV sederhana yang gue buat dan mulai berjalan kaki mengitari toko-toko di dekat tempat tinggal gue.

Tujuan pertama ada SPAR, semacam Indomaret kalau di Indonesia. Begitu selesai menyerahkan CV gue ke SPAR, gue pergi ke BP petrol station.

Eh begitu nyampe BP, manager-nya langsung nanya. “When can you start working?”

Buset, kaga ada proses interview-interview nih?

Dia butuh banget kayaknya pegawai part-time. Dan alhasil tanpa proses panjang, gue mendapat pekerjaan part-time di BP Petrol Station. Wohoooo!

Sedikit kebetulan yang aneh karena gue bekerja di kantor yang sama di Jakarta sebagai financial analyst.

Di Jakarta gue menghitung sisi financial mereka, dan di Aberdeen gue bekerja di gas stationnya.

Untuk yang membandingkan pom bensin di sini dan di Aberdeen. Ada perbedaaan yang sangat signifikan di antara keduanya. Berbeda dengan mayoritas pom bensin Pertamina di Indonesia, semua pom bensin di UK sistemnya adalah self-service. Nggak ada pegawai yang berdiri di dekat mesin pom bensin sambil ngomong “From zero ya sir”.

Semua customer akan keluar dari mobil masing-masing, dan mengisi bensin ke mobil mereka. Ketika mereka mengangkat pompa, sebuah notifikasi akan keluar di mesin kasir, dan si kasir akan meng-authorize penjualan itu agar bensinnya bisa mengalir.

Soalnya kalau nggak di-authorize ama kasir dari dalam, bisa aja si customer guyur-guyuran pake bensin ama customer lain. Kan nggak lucu.

Nah itu lah tugas gue. Gue harus menjaga kasir, sekaligus menjaga dan membersihkan mini market yang ada di pom bensin itu.

Untuk mengisi posisi itu, gue mendapatkan training yang lumayan banyak. Ada beberapa video induction dan essay yang yang harus gue selesaikan. Sebuah proses yang cukup serius untuk sebuah posisi kasir part-time.

Bukan karena apa-apa, tapi karena ada beberapa age-restriction products yang dijual dalam mini market ini yang sudah ditentukan oleh pemerintah UK. Bahkan bensin adalah salah produk yang masuk dalam kategori satu age-restriction products.

Age-restriction products itu adalah produk-produk yang bisa dibeli dengan batas minimal umur tertentu.

Untuk bensin, batasnya 16 tahun. Jadi jika di bawah itu, gue nggak boleh menjual produk-produk itu kepada customer.

Ada produk-produk yang lain seperti rokok, alkohol, korek api, senjata tajam, lotere dan majalah dewasa yang hanya boleh dibeli jika customer di atas 18 tahun.

Dan pemerintah UK benar-benar serius mengenai masalah ini. Orang yang melanggar bisa didenda bahkan dipenjara.

Pemerintah UK akan biasanya membayar remaja-remaja ini untuk menjadi ghost shoppers, yang membeli alkohol atau rokok tanpa id. Dan jika kita menjual kepada mereka, maka di luar akan ada petugas yang telah siap sedia menangkap kasir yang menjualnya.

Iya, seserius itu.

Mini market di UK punya policy yang namanya Challenge 25, artinya kalau si pegawai nggak yakin si customer umurnya di atas 25, si pegawai harus meminta untuk melihat ID mereka.

Kalau si pegawai silap menjual age-restriction products ke anak-anak di bawah umur, siap-siap aja didenda atau masuk penjara.

Gue pribadi nggak mau masuk penjara, nanti kalau gue dipenjara kuliah gue nggak selesai, gue bisa dipecat dari kantor, gue jadi pengangguran dan anak gue jadi pelacur.

Alhasil gue sekarang udah pinter banget ngeliat bocah-bocah UK yang mau colongan beli rokok.

“Ah, ini baru mimpi basah kemaren nih. Mau beli rokok ya lo kampret?” ujar gue dalam hati setiap ngeliat bocah-bocah ingusan masuk ke dalam toko.

Shift kerja di gas station ini ada tiga. Yang pertama dimulai dari jam 6 pagi hingga jam 2 sore, jam 2 sore hingga jam 10 malam, dan jam 10 malam hingga jam 6 pagi.

Tebak gue dapet yang mana?

Iyak, jam 10 malem hingga jam 6 pagi. Gak pake tidur!

Untungnya gue cuma dapet 2 atau maksimal 3 shifts per minggu. Jadi nggak beban-beban amat. Dan di malam hari, mini market di UK dilarang untuk menjual alkohol. Jadi gue nggak dimarahin bang Rhoma.

Di malam hari, pintu mini marketnya akan ditutup dan gue akan melayani customer yang datang dari sebuah jendela di dekat kasir. Hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko dirampok tengah malam.

(((( DIRAMPOK ))))

Jendela untuk penjualan malam hari

Jendela untuk penjualan malam hari

 

Iya, pekerjaan gue ini emang berisiko tinggi.

Tapi setelah dipikir dan dijalani beberapa kali, gue lebih memilih shift malam daripada shift lain, karena jumlah customer yang dilayani jauh lebih sedikit sehingga gue bisa beristirahat. Bandingkan dengan shift pagi atau shift siang yang harus berdiri 8 jam tanpa duduk.

Bisa-bisa betis gue kondean.

Jadilah gue bekerja di shift malam dengan segala prosedur untuk meminimalisir kejahatan.

On a serious note, gue kagum dengan control check di mini market ini. Untuk menghindari tindak kejahatan, ada beberapa tindakan pencegahan yang harus dilakukan tiap malam.

Mulai dari menutup pintu, panic button untuk memanggil polisi, jumlah uang maksimum dalam mesin kasir setiap malam, hingga buddy check process, yaitu pada jam tertentu gue harus menelpon mini market lainnya untuk menanyakan kabar mereka.

Preventive control-nya berlapis. Keren banget gak sih?!

Oia, untuk yang penasaran berapa upah gue per jamnya, yaitu 6.5 pounds per jam (sekitar 130 ribu rupiah). Jadi kalau satu shift gue bekerja 8 jam, gue dapet 52 pounds alias sekitar 1 juta rupiah lebih sedikit.

Demi susu si kecil

Demi susu si kecil

 

Dan itu adalah minimum wage di UK.

Sejauh ini gue sih senang-senang aja bekerja part-time di sini. Jadi pengalaman yang seru sekaligus menyenangkan.

Seorang teman sempat bertanya waktu itu karena dia heran melihat gue yang rela bekerja di saat orang lain sudah terlelap tidur.

“Is it worth it, Ta?”

“What? The money?” I asked.

“Yes”

“Hell no. I prefer to sleep”

“So why are you doing it?” dia keheranan.

“It’s an experience for me, man. One day it will be a story that I can tell my children, how their father worked to pursue his dreams.”

Dan dia cuma terdiam sesaat, lalu dia membalas dengan sebuah kalimat.

‘You are a hard working man, Tirta. I give you that.”

Dan mendengar kalimat itu, membuat cukup gue bahagia.