Sejak orang-orang tau gue memutuskan akan kuliah lagi di Aberdeen, banyak yang nanya ke gue,

‘Kenapa Aberdeen Ta?’

“Aberdeen itu di mana Ta?”

“Kok makin cakep Ta?” (iya, yang ini bohong)

Bukan hal yang aneh sebenarnya, karena Aberdeen memang bukan kota yang familiar menjadi tujuan sekolah bagi orang Indonesia. Nggak kayak London, Manchester, Birmingham, atau Edinburgh, Aberdeen emang rada indie.

Buat yang belum tau, Aberdeen itu lokasinya ada di ujung dunia. Aberdeen merupakan kota ketiga terbesar di Scotland (bahkan bukan bagian Inggris lagi) setelah Glasgow dan Edinburgh. Jarak dari London ke Aberdeen itu sekitar 550mil. Bisa ditempuh selama 9 jam menggunakan mobil atau sedikit lebih lama jika menggunakan ojek sepeda.

Lokasinya berada jauuuuuuuuh di utara. Kalau London itu ibarat King’s Landing, Aberdeen itu kayak Winterfell.

Kalau orang Inggris bilangnya : A place where demons throw their kids alias tempat jin buang anak. Jauh banget!

“Trus kenapa lo kuliah disana Ta?”

Jawabannya satu, karena gue gak lulus ke universitas lain. Hahaha.

Ngga deng, gue juga lulus di University of Birmingham, Westminster University (di London) dan di University of Aberdeen.

Universitas pertama yang meluluskan gue adalah University of Birmingham. Gue lulus untuk program International Business intake September 2014. Tapi sayangnya, gue gak lulus beasiswa apapun untuk ke sana. Karena nggak mungkin (dan gak sanggup) untuk bayar sendiri, gue memutuskan untuk men-drop pilihan itu.

Untuk di Westminster University, gue lulus program MBA, tapi gue akhirnya men-drop Westminster karena alasan peringkat yang di bawah Aberdeen.

Kegagalan mendapatkan beasiswa, membuat gue berpikir ulang mengenai tujuan pilihan program dan kampus gue.

Pertanyaan yang diajukan sewaktu wawancara LPDP benar-benar menghantam gue dengan keras dan menghancurkan rasa percaya diri gue.

Pertanyaan yang gue duga menjadi penyebab kegagalan gue untuk menembus beasiswa LPDP waktu itu.

“Kamu ini ngambil International Business? Udah liat silabus nya?” tanya pewawancara kepada gue waktu itu.

“Udah pak” jawab gue lugas.

“Apa aja?”

“Lebih ke management perusahaan sih pak. Management sumber daya manusia, corporate finance dan sekitarnya.” kata gue percaya diri.

“Kalau cuma gitu, kenapa gak ngambil Magister Management di UI aja. Mata kuliahnya gak beda jauh kok. Toh dengan gaji kamu sekarang, kamu bisa tuh bayar sendiri kalau kuliah di UI.”

JEGERRRRR!!!!

Dan waktu itu gue cuma bisa terdiam dan tidak mampu berbuat apa-apa.

Ingin rasanya gue mengeluarkan kartu remi dari saku dan mulai menunjukkan sulap kepada mereka sebagai pengalih perhatian.

“Yang ini kartu bapak?”

Pulang dari interview, gue berpikir untuk mempersiapkan diri gue untuk term selanjutnya. Gue mulai menata ulang program yang akan gue pilih. Program yang akan membuat gue menjadi unik dan memberi nilai tambah yang lebih dari kandidat lain.

Gue mulai mencari ekonomi yang berkaitan dengan dunia migas. Sebuah dunia yang sudah gue tekuni empat tahun terakhir. Dunia yang sangat erat dengan kehidupan gue sekarang.

Dengan demikian, gue bisa mencari argumen yang tepat kenapa gue layak untuk mendapatkan beasiswa dibandingkan dengan ribuan kandidat yang lain.

Dari hasil nyari-nyari di Google. Ada beberapa program yang menawarkan oil and gas economics di UK.

Univeristy of Reading – MSc in International Energy Studies.

Imperial College London – MSc in Metal and Energy Finance

University of Aberdeen – MBA in Energy Management and MSc Petroleum, Energy, Economics and Finance (gue keterima di kedua program ini)

Sebenarnya Imperial College lebih bagus daripada University of Aberdeen dari segi ranking, tapi karena intake program itu baru ada di Sept 2015, gue belum sempat melamar ke sana.

Dan kebetulan, gue langsung keterima untuk program MBA Energy Management intake January 2015. Dan hal ini yang gue gunakan untuk melamar beasiswa kemana saja.

Reputasi Aberdeen sebagai Europe’s energy capital juga sedikit membantu gue untuk menjawab pertanyaan pewawancara : Why Aberdeen?

Di dekat Aberdeen, ada sebuah ladang minyak besar (North Sea) yang menjadi basis industri migas di UK selama beberapa puluh tahun ke belakang.

Jadi, universitas di Aberdeen memang sangat condong ke industri migas.

Ini yang meyakinkan gue untuk mengambil program ini. Dan semua pertanyaan pewawancara ketika melamar beasiswa bisa gue jawab dengan lancar.

Dan begitulah, sedikit alasan kenapa Aberdeen. Yang jelas, kota ini akan menjadi tempat tinggal gue at least untuk setahun ke depan.

Sekarang gue harap Aberdeen akan sedikit terkenal jadi gue nggak disangka gue kuliah di BSI nya UK. Nanti akan gue posting sedikit foto-foto gue dan situasi di Aberdeen.

Keep reading!