Ini bukan marcel dan micha candradinata

Kadang gue mikir, enak ga ya punya saudara kembar?Muka mirip, suara mirip. Enak aja gitu kayaknya kalau punya saudara kembar. Kalo sakit, kita tinggal suruh saudara kita yang masuk kuliah.Kan enak tuh.

Dan entah kenapa, gue selalu dikelilingi orang kembar dari dulu.

Di jaman SMA aja, gue punya tiga orang temen yang kembar. Salah satunya termasuk mantan gue. Dua lainnya adalah temen deket gue.

Salah satu dari yang kembar ini adalah Nawar dan Nawir.Kita tetanggaan dari kecil..Gue temenan dengan keduanya sejak SMP.Dan gue satu kelas pas SMA dengan Nawir.

Karena nawir punya motor, nawir adalah sasaran tebengan gue pas waktu SMA. Dan ketika kita muda, bawa motor aja udah berasa ganteng banget.

Merajai jalanan.hahaha. maklum, darah muda.haha..Suatu ketika gue dan nawir ditilang polisi karena naek motor ngga pake helm. polisi itu mendekati kita dan bilang..

Polisi : tolong SIM dan STNK

Nawir: Ini pak…

Gue Cuma bisa diem di boncengan. Setelah nego sekian lama, akhirnya gue dan Nawir bisa lolos tanpa membayar sepeserpun (u know, kebiasaan oknum polisi kalo udah nilang orang, pasti ujung-ujungnya duit). Setau gue, nawir belom bikin SIM waktu itu.Karena penasaran, akhirnya gue nanya..

Gue : Wir, kapan lo bikin SIM? (penasaran)

Nawir: Ah ngga, ini SIM Nawar (sambil ketawa cengengesan)

Gedubrakkk!!

Ternyata jadi orang kembar sangat menyenangkan. Bisa tukeran baju, tukeran sepatu, ampe nipu polisi pake SIM sodara. Masih tentang Nawar dan Nawir. Mereka ini adalah termasuk anak yang cerdas di masing2 SMA nya.

Jadi setiap ada seminar atau lomba tingkat Sma, maka keduanya pasti dipilih untuk mewakili Sma nya masing2. Jadi pernah suatu kali, gue dan Nawir mewakili Sma gue untuk ikutan lomba.Dan kebetulan Nawar mewakili SMA nya juga.


Pas waktu istirahat, gue dan Nawir lagi duduk nunggu konsumsi.Tiba2 ada bapak2 yang ngedeketin kami dan bilang,

Si bapak : (sambil ngomong ke nawir) War, kamu kemana aja??kok telat!!!

Nawir : (Cuma bisa bengong kayak orang bego)

Si bapak : (akhirnya ngeliat simbol Sma di baju nawir)lho??kamu siapa?adeknya nawar?

Abis itu si bapak minta maaf sambil ngeloyor pergi. Gue cuma bisa ketawa2 dan Nawir bawaannya udah mulai pengen nabok.

Akhirnya gue menyadari suatu hal. Bahwa menjadi kembar tak selamanya menyenangkan.Kultur masyarakat kita masih menganggap bahwa anak kembar itu adalah satu orang yang sama. Kita masi sering melihat anak kembar dipakaikan baju yang sama, sekolah yang sama bahkan nama yang mirip.

Mungkin pada waktu masih kecil itu kelihatan lucu. Namun apa jadinya jika masing2 sudah dewasa. Mereka sudah punya jalan dan impian masing2.

Gue pernah nanya ke mantan gue yang kembar tadi. Apa hal yang paling dia benci dari menjadi seorang kembar.

Jawabannya itu tadi, mereka masih sering dianggap satu orang yang sama oleh orang lain. Bahkan pernah suatu ketika, salah satu diantara mereka dideketin oleh seorang cowok.

Namun karena ngga suka, cowoknya ditolak. Eh, si cowok malah gentian ngedeketin kembarannya. Dengan kata lain, kalau si cowok menganggap mereka satu orang. Dan menganggap kalau jika dia gagal masih ada kembarannya alias dijadikan cadangan.

Dan tidak bisa kita pungkiri kalau masi banyak diantara kita yang masih berpikiran seperti itu.Kita masih akan memberikan nama yang mirip jika kita mempunyai anak kembar.Kita akan membelikan atribut yang sama bagi mereka.

Masih banyak orangtua yang membelikan anaknya baju, tas, tempat pensil, ataupun sepatu yang sama untuk anak kembar mereka.

Gue pernah baca kalau itu bisa mempengaruhi kondisi mental sang anak.Sang anak dituntut untuk menyamai kembarannya.Baik prestasi ataupun semacamnya.Kalo anaknya baek dua2nya. Kalo yang satu ilmuwan yang satu lagi rampok gimana?

Bukan ngga mungkin ntar terjadi kejadian kayak gini..

Halo, bisa bicara ama pak presiden??’

‘Ya, ini dari siapa ya?’

“Dari saudara kembarnya.

“Pak, kalo mau nelpon ngantri, ngga usah ngaku-ngaku!’

‘????’

Inspired from : Jomblo, Adhitya Mulya..