“Ada lowongan di kantor Tirta?”

“Wah, gak tau bang. Coba cek websitenya aja.”

“Coba liatin lah, ini abang pengen cari kerja.”

“Beneran gak tau bang, coba cek ke situsnya aja. Setiap lowongan pasti dipasang disana”

“Iya, tadi udah abang liat, tapi gak ada. Coba Tirta masukin dulu abang kesana. Kan Tirta udah kerja disana.”

“Wah, Tirta kerja di Finance bang, bukan di bagian HRD. Kalaupun kerja di HRD, gak bisa sembarangan masukin orang lain.”

“Oh, jadi abang sekarang udah jadi orang lain?”

“……” *makan kain lap*

Yup. Itu kisah nyata.

Itulah kejadian yang benar-benar terjadi kepada gue beberapa waktu yang lalu. Gue harus menghadapi pola pikir sebagian besar orang Indonesia yang masih berharap kepada jalur kekeluargaan dan keakraban.

Tanpa memperdulikan kapasitas dan kerja keras. Kekeluargaan yang tidak pada tempatnya. Kekeluargaan yang muncul hanya ketika ada perlunya. Entah itu untuk mencari kerja atau meminjam uang.

Hal yang mirip muncul ketika orang pergi ke suatu daerah atau traveling. Kata-kata pertama yang keluar adalah “jangan lupa oleh-oleh ya?”

Menurut gue, oleh oleh bukanlah hal yang harus diminta. Oleh-oleh adalah bentuk kesadaran sendiri. Kalau lo emang cukup penting buat orang itu, oleh-oleh akan diberikan tanpa diminta.

Tapi sekarang, ntah niatnya cuma berbasa-basi atau memang mendadak melarat, kata-kata “oleh-oleh ya?” rutin keluar setiap kali seseorang ingin pergi jalan-jalan.

Mereka mungkin tidak sadar, bahwa kadang seseorang harus berhemat dan berusaha mengumpulkan rupiah demi rupiah dari gaji bulanan untuk bisa traveling. Untuk mewujudkan mimpi masa kecil mereka untuk melihat dunia.

Setidaknya ini yang berlaku buat gue. Gue adalah tipe traveler gembel yang gak suka ribet. Ketika traveling, seringkali gue cuma membawa satu tas punggung biar ringkas dan tidak harus memasukkannya ke dalam bagasi. Agar bisa cepat keluar masuk bus atau kereta dan hostel-hostel murah.

Gue gak pengen dibikin repot oleh hal-hal lain.

Dan traveling dengan budget murah, uang terbatas, dan kapasitas tas yang tidak seberapa, pembelian oleh-oleh adalah hal terakhir yang gue pikirkan. Gue jarang membeli oleh-oleh dan sangat jarang meminta oleh oleh.

Ada dua tipe traveler di dunia ini : People who buy things, and people who buy experiences.

Which one are you? Gue adalah tipe yang kedua.

Gue lebih suka memenuhi memori kamera gue dengan foto-foto daripada memenuhi tas gue dengan barang-barang. Beli baju branded bisa dilakukan di Jakarta, tapi kapan lagi kita bisa berenang dengan stingless jelly fish?

Sering kali dengan meminta oleh-oleh, apa yang biasanya kita dapat? Paling mentok cuma gantungan kunci, tempelan kulkas atau cokelat dari duty free. Semuanya adalah barang remeh temeh yang sebenarnya bisa dibeli tanpa jalan-jalan.

So, stop asking for that thing.

If you are important enough, people will give you oleh oleh without even asking. Mereka akan memberikan hal yang jauh lebih berharga dari sekedar gantungan kunci. Percaya deh.

Hal terakhir yang juga merupakan bentuk kekeluargaan yang salah kaprah adalah ‘minta gratisan’.

Semua orang emang suka barang gratisan, gue kadang-kadang juga suka minta gratis. Tapi tolonglah, minta gratisan itu pake perasaan. Ini kejadian waktu gue nulis novel Traveloveing2 kemaren.

“Lo nulis novel Ta? Gue minta satu ya?”

“Lo nerbitin novel Ta? Mana jatah gue?”

“Abang nulis novel ya? Mana buat kakak? Masa saudara sendiri harus beli?”

Sini gue kasi tau, penulis yang nerbitin novel itu cuma dapet novel gratis dari penerbit dalam jumlah yang sangat sangat terbatas. Apalagi kalau nulisnya rame-rame, jatah masing-masing penulis itu semakin dikit. Kita gak punya ribuan novel di bawah meja yang siap dibagikan gratis ke semua orang.

Biasanya, novel gratis yang jumlahnya tidak banyak itu dipakai penulis sebagai ucapan terima kasih kepada para endorser, buat kenang-kenangan penulis itu sendiri atau bahkan dijadikan hadiah kuis untuk bahan promosi.

Penulis pemula itu harus mati-matian mempromosikan karyanya. Karena tanpa nama besar, novel itu akan sulit laku di pasaran tanpa promosi gila-gilaan. Ini juga berlaku untuk seniman-seniman lainnya seperti pelukis, fotografer atau musisi.

Hasil kerja keras selama berbulan-bulan akan cuma menjadi sampah atau stok yang gak terjual di toko buku.

Kami ingin karya kami dihargai oleh orang lain. Dengan cara membacanya. Menikmatinya. Bukan memintanya sebagai barang gratisan.

People are actually make a living from it. Trying to make money from their creativity.

Berkarya itu tidak mudah. And suddenly you guys as so-called friends and families are asking it for free? Teman yang baik akan berusaha menghargai karya temannya. Bukan memintanya sebagai barang gratisan. Tolong jangan terjebak dalam kekeluargaan yang salah kaprah.

Karena kerja keras, bukanlah hal yang layak diberikan secara gratis.