Ya, seperti yang kalian tau, gue baru aja pindah kantor. Jadi sekarang gue ga lagi berprofesi sebagai auditor seperti yang gue ceritain disini.

The good news is, gue ga akan susah payah menjelaskan kerjaan gue ke orang rumah lagi dan gue ga akan salah di panggil lagi.

Berita kepindahan gue ini gue warta kan ke keluarga gue.

“abang udah resign lho, udah pindah kantor..” kata gue pamer.

“ohhh, udah ngga jadi editor lagi bang?”

“………..”

“auditor dek..” ujar gue putus asa karena udah hampir 2 tahun masih salah.

Anyhoo, gue sekarang bekerja di salah satu perusahaan di pinggiran Jakarta Selatan.

Berbeda dengan pengalaman kerja gue sebelumnya, kali ini gue bekerja di perusahaan (company) bukan sebuah firma (firm) seperti kantor sebelumnya.

Buat gue, kantor baru adalah lembaran baru, kesempatan baru, kultur baru dan orang-orang baru.

Dan dengan komposisi divisi finance yang terdiri 70% wanita seperti perusahaan gue ini, kedatangan gue di hari pertama kerja cukup disambut sorak sorai wanita.

Itu berita baiknya.

Berita kurang baiknya adalah

Wanita itu adalah…..ibu-ibu dan mbak-mbak putus asa.

“Kenalin mbak, ini tirta, anak baru kita”

“Nah, gini dong, nyari anak baru jangan cewe melulu. Kan suka ngantri kalo ke toilet” kata si ibu cenderung curhat.

Dan ngga jarang, ketika gue lagi duduk diem di cubicle gue, ada yang nyaut..

“Tirta, sini dong. Ada yang mau kenalan..”

atau

“Anak baru ya? Siapa namanya?”

Intinya, pindah kantor baru membuat gue seketika menjadi Dude Herlino.

Digemari ibu-ibu. hahaha

Selain itu, culture shock yang paling susah gue sesuaikan dari kantor baru ini adalah masalah jenjang umur.

Kalo di kantor yang lama, rata-rata umur pekerjanya di bawah 30 tahun, sedangkan disini, kisaran umur pekerja nya lebih beragam.

Ada yang seangkatan, lebih mudah dan banyak yang lebih tua.

Efeknya adalah, harus pintar-pintar membawa diri. Becanda ama yang sebaya, sopan ama yang lebih tua, atau adu panco ama yang lebih muda.

Cuma butuh penyesuaian aja.

Dan disini, gue harus terbiasa dengan lelucon-lelucon khas orang tua, yang kadang bikin gue bingung, entah dimana letak lucunya.

“elo nih BT, Belah Tengah!!”

“Dari pada elo, AK. Anjing Kurap! Huahahahaha” canda seorang bapak

Gue : “………”

Gue : “huahahahaha” (damn, gue telat!) kata gue dalam hati.

Hufffftttt…

Hal yang juga harus gue biasakan dari kantor baru ini adalah.. Jam masuk kantor.

Di kantor yang lama, jam masuk kantor itu jam 08.30, tapi gue sering dateng jam 9 atau kadang setengah 10.

Sedangkan di kantor yang baru, jadwal masuknya itu jam 7.

Ya, jam TUJUH sodara-sodara.

Meskipun gue berhasil mendapatkan kosan yang cuma membutuhkan waktu 5 menit dari gue keluar kamar ampe ke meja kerja gue, tapi tetep aja, hari-hari pertama gue lalui sebagai anak kekurangan gizi.

Mau jalan kemana agak semaput. Ngantuk!

Tapi tenang, untuk menyiasatinya, gue gak kehabisan akal.

Ketika jam makan siang tiba, gue bisa balik ke kosan dan… TIDUR SIANG!

Lumayan, jatah satu setengah jam makan siang bisa gue pake sejam buat tidur.

Intinya gue kini seperti anak SD, yang ketika siang abis makan langsung bobo. Atau kalau gue kasi nama, bobo-bobo ganteng!

And back to the office after having your beauty sleep feels great! *nyengir babon*

Jadi, kalo kita gabungin, gue sekarang ibarat Dude Herlino yang lagi SD. hahahaha

New office means new environment, new people, and new habits!

And for me, so far so good!

Ini cerita ku, mana cerita mu? #IndomieOD