Setelah hampir setahun meninggalkan Indonesia, dan mengunjungi belasan negara, ada satu hal yang aneh yang gue temukan.

Gue nggak bisa menemukan Kampung Indonesia, suatu daerah yang mayoritas ditinggali oleh orang-orang Indonesia.

Bandingkan aja ama Kampung China (Chinatown). Gue kira di kota mana aja, pasti ada daerah yang ditinggali oleh mayoritas orang China dan terasa seperti di China.

Di Chinatown, menemukan hal-hal dari Tiongkok itu gampang banget, mulai dari pernaik-pernik hingga makanan. Dan begitu juga dengan India. Rasanya gampang banget ketemu orang India dan makanan India di kota mana saja.

Tapi sepertinya halnya ini berbanding terbalik ama Indonesia.

Di Aberdeen aja misalnya, nggak ada restoran Indonesia. Lebih mudah buat kita untuk menemukan restoran Thailand atau Vietnam di sini. Banyak teman-teman gue yang penasaran dengan masakan Indonesia itu seperti apa hingga berulang kali meminta gue untuk membuat Indonesian dinner untuk mereka.

Menemukan makanan Indonesia itu nggak mudah!

Berdasarkan pengalaman gue, restoran Indonesia itu cuma ada di kota-kota besar kayak London atau Amsterdam dan jumlahnya nggak banyak.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, kenapa sih nggak ada Kampung Indonesia?

Kita itu negara dengan populasi terbesar ke empat di dunia setelah China, India, dan USA. Masa sih kita nggak bisa ‘menjajah’ negara lain dengan jumlah penduduk kita yang banyak? Masa kita nggak bisa menyebarkan masakan Indonesia? Masa kita kalah dengan tetangga kita Thailand atau Vietnam?

Akhirnya setelah melihat kenyataan dan merasakan sendiri, sekarang gue tau jawabannya.

We travel, but we do not stay. 

Ada kecenderungan untuk selalu pulang ke Indonesia.

Indonesia itu terlalu nyaman untuk ditinggalkan untuk selamanya. Itu yang bikin semua orang Indonesia yang pernah bekerja atau belajar di luar negeri untuk selalu kembali pulang ke Indonesia.

Bagaimanapun tidak nyamannya Indonesia, dan bagaimanapun banyak masalahnya, tapi tetap aja Indonesia adalah rumah yang menenangkan.

Mayoritas orang Indonesia akan selalu pulang sejauh apapun mereka melangkah pergi.

Dan itu juga yang kini gue rasakan sekarang.

Tahun lalu, ketika gue pertama kali berangkat, niat gue adalah menetap untuk mencari pekerjaan di UK. Tawaran untuk bekerja dan gaji di sebuah negara maju tampak menggiurkan untuk gue pada waktu itu.

Tapi makin ke sini niat itu makin pudar. Kenyamanan negara maju tidak lagi menggugah minat gue untuk menetap. Gaji dan tunjangan yang lebih tinggi seolah tidak ada lagi harganya. Tidak ada lagi keinginan untuk tinggal lebih lama di luar Indonesia.

Kenyamanan tinggal di luar Indonesia seolah memiliki tanggal kadaluarsa.

Kastil-kastil tua yang bagus untuk dipamerkan di social media kini tidak lagi memukau. Cuaca empat musim yang bisa membuat kita tampil cantik dan tampan seolah tidak lagi menarik. Fasilitas dan teknologi yang canggih kini terasa biasa saja.

Gue kangen Indonesia.

Gue kangen hal-hal sederhana yang selama ini bahkan nggak pernah gue sadari kalau gue suka.

Gue kangen nasi padang. Gue kangen keramahan orang-orangnya. Gue kangen ramainya persimpangan jalan dengan pedagang asongan. Gue kangen makan ketoprak kaki lima seharga sepuluh ribu rupiah saja.

Dan benar kata Pandji. Semakin jauh kita melihat dunia, semakin rindu rasanya untuk pulang ke Indonesia.

Penggalan lagu Tanah Airku kini menjadi masuk akal.

Walaupun banyak negeri kujalani
Yang mahsyur permai di kata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Disanalah ku rasa senang
Tanah ku tak kulupakan

Gue harus akui, Indonesia itu nggak sempurna.

We are not great (yet) and far from perfect.

Masih banyak orang-orang jahat yang saat ini berkuasa. Masih bertebaran bigot-bigot agama yang berusaha menghilangkan kebhinekaan Indonesia. Tapi ada rasa optimis yang gue liat di sana. Ada harapan di masa depan yang bisa dibangun untuk gue, lo dan mereka.

Sekarang gue nggak tau sudah sejauh apa gue berkembang. Sudah seberapa jauh gue tumbuh. Sudah sebanyak apa ilmu yang berhasil gue serap.

Tapi satu hal yang pasti, gue akan pulang.

Berusaha bekerja dan membangun Indonesia dengan apa yang gue bisa.

Gue berjanji akan pulang ke sebuah kampung.

Kampung Indonesia.

2 Anak Sekolah Kehujanan

Foto di ambil di sini