Oke gue udah ga tahan.

Kemaren-kemaren gue udah niat buat nulis ini, tapi ga sempet-sempet. Tapi berita akhir-akhir ini membuat gue ga tahan lagi.

Gue sudah bosan, muak lebih tepatnya dengan tingkah orang-orang yang mengaku sebagai wakil rakyat.

Setelah gaji yang lebih dari cukup, komputer seharga 15,5 juta rupiah (komputer sehebat ini biasanya untuk programmer tingkat tinggi, baca disini dan disini untuk detailnya.) fasilitas yang mewah, gedung seharga 1,8 T, jalan-jalan ke luar negeri tanpa alasan yang jelas, lalu apa yang mereka lakukan.

Tidur di rapat paripurna?

Gue agak bingung dengan konsep studi banding yang anggota dewan kita lakukan.

Kita ambil satu contoh studi banding ke Afrika Selatan mengenai studi masalah pramuka. Afrika Selatan adalah Negara yang pramuka nya gagal.

Apa yang mau kita pelajari dari Negara yang gagal. Ambil lagi lagi masalah studi banding etika ke Yunani.  Yunani sekarang adalah Negara eropa yang gagal dalam pengelolaan keuangan.

Mereka adalah Negara yang sekarang sangat terpukul akibat krisis ekonomi global. Mereka adalah Negara terkorup di eropa tahun 2007 (baca disini)

Etika apa yang mau dipelajari disana?? Etika Berkorupsi?

Gue pribadi pernah punya pengalaman langsung masalah studi banding anggota dewan ini.

Dulu, ditahun 2008, sewaktu gue kuliah di bandung, gue tinggal di asrama mahasiswa aceh. Gue ga ngekos, gue memutuskan untuk tinggal di asrama walaupun agak jauh dari kampus.

Meskipun independen, asrama gue tetap berada di bawah pengawasan pemda Aceh.

Waktu itu gue sempat menjabat sebagai ketua Asrama. Dan tiba-tiba, gue dikabari bahwa beberapa anggota dewan (DPRD tingkat provinsi) akan datang untuk kunjungan ke Asrama.

Gue dikasi tau mendadak, cuma beberapa jam sebelum kedatangan.

Jadi dengan persiapan mendadak, gue beli beberapa teh botol dengan menggunakan kas asrama untuk bapak-bapak dewan terhormat.

Karena dalam pikiran gue mereka sudah jauh-jauh datang dari Aceh untuk kunjungan ke bandung untuk melihat asrama gue (yang kondisinya memprihatinkan), dan otomatis akan memperbaiki kondisi asrama gue.

Minimal beberapa lembar rupiah dari kantung pribadi mereka untuk kas asrama ini.

Dan tibalah mereka, anggota dewan dari beberapa partai besar, dengan baju safari, jam tangan berwarna kuning mencolok, khas pejabat daerah yang sedang studi atau kunjungan kerja ke Bandung.

Mereka cuma duduk bentar, ngeliat kondisi asrama gue, dan kemudian ngobrol dan kemudian pulang. Ga lebih dari setengah jam.

Gue pribadi mengharapkan akan adanya diskusi mengenai kondisi asrama, bantuan dana untuk pengelolaan, atau mungkin beasiswa bagi mahasiswa aceh yang sedang kuliah di Aceh. Tapi nol besar.

Mereka cuma datang, basa basi nanyain kampung gue dimana, dan udah. Mereka malah ngobrol sesamanya.  dan gue kebetulan dari banda Aceh, kota yang sama dengan beberapa anggota dewan itu.

Bagi orang aceh yang kebetulan sekota, adalah hal yang lazim jika mengenal satu sama lain.

Ada satu anggota dewan yang ngajak gue ngobrol kemudian nanya.

“siapa nama ayah kamu dan dimana kerjanya?” dalam bahasa aceh tentunya.

“ kerja di politik juga pak. Namanya Pak XXX” kata gue

“Pak XXX yang ketua partai YYY??” mungkin dia ga percaya. Waktu itu bokap gue adalah ketua partai YYY untuk tingkat propinsi Aceh. But that’s another story.

“iya”

“Anak bos elu tuh” temennya nyeletuk. (tentunya dalam bahasa Aceh, mereka tidak segaul itu tentu saja!)

Dan kemudian si anggota dewan ini berubah sikap menjadi baik banget. Ramah, nanya2 tentang kuliah gue.

Dan pas pulang, dia nyelipin beberapa lembar rupiah ke kantong gue. Berharap gue bakal inget dan lapor ke bokap.  Tapi gue bahkan ga inget namanya siapa. hahaha

Dan begitulah kunjungan kerja anggota dewan dimata gue. Studi banding, kunjungan kerja, atau apapun namanya.

Cuma jalan-jalan, basa basi, dan terkesan formalitas saja.

Apabila anggota DPRD tingkat 1 aja begitu, gimana anggota DPR tingkat pusat?

Penasaran, gue mencoba satu eksperimen,

Gue buka google, dan ketika mengetikkan kata “US congressman”, maka yang keluar adalah gambar-gambar berikut.

 

Demi kepentingan bangsa

Dan ketika gue mengetikkan kata “Anggota DPR” maka gambar-gambar berikut yang keluar.

 

Familiar ama yang ini??

Gambar diambil disini.

Digaji untuk tidur

Kalo yang ini buka FB saat sidang paripurna

Belum lagi ketika kita googling anggota DPR, maka yang keluar adalah, skandal anggota DPR, anggota DPR nonton video porno, video mesum anggota DPR, dan lain-lain

Bukti kalau mereka bobrok? Anda nilai sendiri.

Setelah gaji melimpah, fasilitas yang berjibun, mobil mewah yang mereka miliki? Apa output yang mereka keluarkan?

Kinerja mereka buruk, suka membolos.

Sudah setahun menjabat, hanya 8 RUU yang rampung dari target 70, ya tujuh puluh RUU yang ditargetkan. baca artikelnya disini

Gue ga tau dimana letak  hati nurani anggota DPR. Tapi gue yakin ada segelintir anggota DPR yang amanah.

Yang baik-baik, tapi gue yakin jumlahnya ga signifikan dibandingkan dengan yang bangsat-bangsat itu.

Dulu, komedian komar (yang kini jadi anggota DPR juga) sempet bilang gini,

“Koruptor itu waktu SD, pelajaran matematikanya rajin dateng, tapi waktu pelajaran agamanya bolos”

Dan inilah yang terjadi kini.

Tahukah anda jika uang 1,8 T, bisa membangun 32.000 gedung sekolah.

Tahukan anda jika dana studi banding belasan orang ke Yunani bisa mengcover untuk 25 ribu jamkesmas??

Miris.

Ketika kondisi seperti ini berlanjut, ada satu hal yang mungkin akan segera muncul.

Krisis kepercayaan.

Dan menurut gue, ketika krisis kepercayaan muncul, rakyat tidak lagi percaya kepada pemerintahannya atau dalam hal ini wakil rakyatnya. Maka yang muncul adalah kudeta. Penurunan kekuasaan secara paksa. Hal yang pernah kita alami di tahun 1998.

Semoga tidak kali  ini.

Jadi,

Jangan diam kawan!

“Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan.” (HR. Al-Bukhari).