Di tengah gegap gempita sepakbola sekarang ini, gue hari ini baru aja nonton langsung final Indonesia Open.

Buat anak daerah yang dulu cuma bisa nonton jagoan-jagoan bulutangkis dari tv, nonton pertandingan super series sekelas Indonesia Open udah masuk have-to-do-list-before-i-die nya gue (berada dibawah : keliling dunia dan pacaran sama Pevita Pearce.hehe).

Sejak tahun 2011, turnamen ini sudah naik menjadi Super Series Premier. Dan hanya lima negara yang bisa menyelenggarakan turnamen sekaliber Super Series Premier ini. Indonesia Open telah berubah menjadi turnamen sekelas All England.

Ini adalah kali pertama gue nonton langsung pertandingan olahraga yang membawa nama Indonesia. Dan kali ini euforia pertandingan dan nasionalisme terasa membuncah di dalam dada.  Dan satu  hal, gue gak ngerasa berbeda dengan ibu-ibu disebelah gue, mas-mas yang mukanya dicat, wartawan yang sibuk foto2, dan dengan ribuan orang yang ada di Istora hari ini.

Kami cuma berharap satu hal, bahwa jagoan dari Indonesia menang, dan menjadi tuan rumah di kandang sendiri. Tapi sayang, dari 5 gelar, tak satupun bisa diambil.

Apa yang salah?? menurut gue hal itu adalah..

Regenerasi,

Lupakanlah liga kampungan yang menyebut dirinya liga professional itu. Alihkan dana rakyat milyaran, yang cuma menguap ke kantong-kantong pemain asing dan alirkan ke pembinaan atlet-atlet daerah. Sebut saja, rising star turnamen kali ini.

Ana Rovita, gadis kecil dari Jepara, tak terdeteksi pelatnas, dengan baju kebesaran, minim sponsor, memulai dari babak kualifikasi, bisa melaju ke semifinal. Bayangkan apa yang bisa terjadi dengan Ana-Ana yang lain jika didukung oleh dana dan fasilitas yang cukup.

Ini badminton bung!

Satu-satunya olahraga yang pernah mengumandangkan lagu Indonesia Raya di Olimpiade. Juara Dunia, juara Thomas dan Uber lahir dari olahraga ini.

Lihat sejarah kita kebelakang, King Smash dari Liem Swie King, Smash 100 watt Harianto Arbi, ratu bulutangkis Susi Susanti, rekor dunia juara all England terbanyak oleh Rudi Hartono,  dan masih banyak lagi legenda bulutangkis yang kita punya.

Presiden International Badminton Federation, sewaktu berkunjung ke Cipayung, pusat pelatnas badminton, sempat berujar..

“Jadi ini ibukota Badminton Dunia?!”

Buat gue, pengalaman nonton langsung Indonesia Open ini sangat berkesan. Banyak pengalaman seru yang gue dapatkan. Suasana di luar Istora dibuat seperti bazar sehingga para pengunjung bisa menikmati dan mengisi perut dengan kenyang.

Stand-stand makanan berfungsi sebagai pemadam kelaparan. Beberapa games menarik yang menggunakan raket dan shuttlecock juga disediakan sebagai hiburan. Panggung kecil sederhana juga tersedia sebagai penghibur pengunjung yang datang. Benar-benar suatu opsi hiburan dan liburan bagi seluruh anggota keluarga. Tidak lupa stand-stand para sponsor yang menjual peralatan bulutangkis, seperti jersey pemain hingga sepatu khusus badminton bagi para penonton yang ingin membeli.

Di dalam Istora hari ini,  kondisinya juga tak kalah seru. Suasana mistis dimulai ketika Taufik Hidayat masuk ke lapangan,

Semua bersorak,

Teriak,

Bertepuk tangan,

Ada yang berjoget,

Ada yang memukul-mukul drum,

Ada yang mengecat wajahnya,

Atau cuma sekedar senyum-senyum jaim takut make up luntur.

Ngga ada yang salah dengan hal itu, masing-masing punya cara menunjukkan dukungan mereka.

Ketika pertandingan berjalan, tanpa dikomando, yel yel Indonesia berulang kali terdengar.

IN-DO-NE-SIA..prok prok prok prok prok..

Ketika Taufik tertinggal, ibu-ibu dibelakang gue histeris. Anaknya juga teriak. Bapaknya apalagi. Ntah berapa kali gue merinding dengan aura di dalam Istora tadi. Gue yakin emosi penonton terasa ke pinggir lapangan.

Ketika rally-rally panjang berlangsung, semua penonton menahan napas, gugup dengan nafas tercekat, dan ketika pengembalian Taufik nyangkut di net, semua berteriak kesal.

Emosi penonton menyatu dengan aura pertandingan

Pebulutangkis inggris pernah bilang, paling menyenangkan jika mengikuti turnamen badminton di Indonesia. Karena turnamen bulutangkis itu bisa semarak. Berbeda dengan di Inggris ketika pemainnya berhasil meraih poin, mereka cuma bertepuk tangan pelan dan bilang..

“Well done”

Di Indonesia?? tarian, nyanyian, drum, yel yel, sorakan, teriakan, rasa bangga, rasa haru semua bercampur jadi satu. Menyenangkan sekaligus menegangkan!

Pagelaran bulutangkis di Indonesia selalu menjadi pesta rakyat. Pesta dimana seorang bapak bisa membawa istri dan anaknya untuk menonton dan memberi dukungan dengan aman dan nyaman. Tanpa harus khawatir dengan lemparan batu atau botol dari bangku penonton.

Dan ketika seluruh pertandingan berakhir, tanpa gelar satupun, semua penonton keluar dengan tertib.

Tidak ada wajah-wajah anarkis dan kriminal. Lelah dan kecewa terlihat disana, tapi ada rasa yang lain yang gue tangkap disana.

Rasa optimis dan percaya.

Wajah asli Indonesia yang selama ini tertutupi oleh egosentris, sifat elu-elu gue gue, perbedaan-perbedaan semu dan kerasnya kehidupan.

Optimis, kalau tahun depan, regenerasi telah berjalan dan skuad Indonesia telah menjadi lebih baik, si bapak bisa kembali mengajak istri dan anak-anaknya untuk datang kembali ke istora, untuk memberikan dukungan tanpa diminta.

Don’t ask what your country can do for you but ask what you can do for your country – John F Kennedy

Jadi, gak salah kan kalo gue bilang mereka pahlawan bulutangkis?

Emas Olimpiade 1992

Emas Olimpiade 1992

Emas Olimpiade 1996

Emas Olimpiade 2000

Emas Olimpiade Athena 2004

 

Emas Olimpiade 2008

Masih adakah emas berikutnya??