Seperti yang sudah pernah gue tulis sebelumnya, efek paling mengganggu dari penyakit GBS ini adalah sisi emosionalnya.

Proses terjadinya penyakit ini yang begitu cepat berbanding terbalik dengan proses penyembuhan yang sangat memakan waktu.

Gue juga mengalami fase-fase ini. Ada kalanya gue akan merasa sangat emosional, sedih, dan stress karena kepikiran penyakit. Muncul kekhawatiran kalau gue nggak akan sembuh dan akan menghabiskan sisa hidup gue seperti ini.

Fase-fase ini dipenuhi ketakutan, dan sangat sulit bagi gue untuk berpikir positif jika sedang dalam situasi seperti itu.

Kadang, gue menceritakan hal ini kepada ayah gue.

“Yah, gimana ya? Abang bisa sembuh, nggak?”

“Ya bisa lah. Pasti bisa, sekarang abang ikhlas aja. Allah nggak ngasih cobaan di luar kekuatan hamba-Nya. Ikhlas aja” ayah gue mengulang kalimatnya.

Kadang kita suka sebel ya? Ketika kita galau, sedih, sakit dan ingin mendengarkan kata-kata yang menenangkan, kita suka males sendiri mendengarkan kata-kata yang normatif seperti yang ayah gue bilang di atas.

“Ada sesuatu dibalik penyakit ini yang nanti bisa kita syukuri, ikhlas aja.” salah satu saran lain dari ayah yang sering gue dengar.

Maksud gue, iya sih. Tapi kan gue pengen mendengar hal-hal lain. Hal-hal yang nggak normatif. Hal-hal lain yang menenangkan. Tapi kalau ditanya apa, gue juga nggak tau.

Rasanya pengen gitu punya tingkat kedewasaan atau ketaatan kayak ayah gue. Dia sudah berada di fase keimanan yang matang, yang mampu menyerahkan dirinya dan nasibnya kepada Tuhan, tanpa keluhan.

Sedangkan gue kan belum. Gue masih takut, galau, dan belum se-soleh itu dibandingkan dengan ayah.

Seringkali ketika malam tiba, dan gue nggak bisa tidur, gue duduk sendirian dalam kamar. Gue mencoba berpikir apa sebenarnya hikmah dibalik penyakit gue ini. Rasanya kok susah banget ya mencari hikmah positif dibalik penyakit yang membuat pemuda umur 28 tahun lumpuh mendadak.

Tapi lama kelamaan, gue perlahan menemukan apa hikmah yang dimaksud.

Hidup merantau sejak umur 17 tahun membuat gue sangat jauh dari keluarga. Gue sudah terbiasa hidup sendiri, berusaha nggak menyusahkan orang lain.

Jadi waktu gue sakit, gue sedikit kaget dengan perhatian orang-orang yang dekat dengan gue.

In fact, ternyata banyak yang sayang ama gue.

Akibat sakit ini, gue bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan tinggal dengan bunda, dimandiin lagi ama ayah di kursi roda, ngobrol ngalor ngidul di tempat tidur malam-malam bersama mereka.

Sesuatu yang sangat jarang bisa gue lakukan sejak tinggal berjauhan dengan mereka.

“Ya gpp lah, yah. Waktu kecil kan ayah nggak pernah mandiin abang. Sekarang mandiin nya pas udah tua kayak gini. Hahaha” canda gue suatu kali ama ayah.

Karena bercerai, gue lahir dan tumbuh besar dengan bunda gue, mind you. Dan sejak SMP gue ikut ayah.

Suatu kali pula, adik gue dari pihak ayah bilang :

“Geby pengen lah ketemu bunda abang.”

“Kenapa?” tanya gue.

“Ya gpp, pengen aja ketemu bunda yang satu lagi” Geby menjelaskan.

Dan waktu gue dirawat di rumah sakit, hal itu kesampaian. Bunda gue dan Geby akhirnya ketemu untuk pertama kalinya. Bahkan mereka jadi akrab karena berhari-hari menjaga gue di RS bersama-sama.

Bunda gue bahkan bilang, “Wah, Bunda nambah anak lagi nih”

Dan itu, adalah salah satu hal terbaik yang pernah gue dengar.

Di rumah sakit juga, untuk pertama kalinya Bunda tiri dan Bunda kandung gue bertemu. Gue kira awalnya bakalan awkward gimana gitu, takut ada kecanggungan atau ketidakcocokan di antara mereka atau bahkan orang-orang lain yang berada di ruangan yang sama. Tapi ternyata nggak. Baik-baik aja.

Bahkan, mereka ampe mau selfie! Haha.

Di rumah sakit juga lah untuk pertama kalinya gue melihat ayah dan bunda gue shalat berjamaah. Buat anak yang tumbuh dalam perceraian. ini peristiwa yang amat langka buat gue. Dua puluh delapan tahun, baru kali ini gue melihat mereka seperti itu.

Ayah gue berdiri di depan sebagai imam, dengan bunda gue sebagai makmum. Sejuk sekali.

Untuk sesaat, gue ngerasa keluarga gue utuh.

Mengingat kembali masa-masa gue dirawat di rumah sakit, membuat gue sadar ternyata memang benar ada sesuatu yang diambil dibalik suatu peristiwa. Kalau memang dengan sakitnya gue bisa menyatukan dua keluarga, so be it.

Toh sekarang, gue tinggal menjalani masa penyembuhan. Memang sedikit lebih lama, tapi mungkin nanti ada sesuatu yang baik yang akan gue dapatkan.

Sebelum itu, ya seperti kata ayah gue tadi…

Ikhlas saja.