Taksi itu melaju perlahan, membelah deretan ruko tua yang ada di tengah kota Medan. Daerahnya sepi, kumuh dan kusam. Tidak tampak banyak orang yang disini. Situasinya seperti kota yang ditinggalkan. Hanya ada ruko-ruko tua yang berdiri ringkih di kiri kanan jalan. Beberapa bahkan sudah ditinggalkan kosong oleh penghuninya.

Rasa penasaran mengalahkan rasa lapar yang gue alami. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang. Panasnya kota Medan seolah menjadi kata sambutan buat kami yang baru saja mendarat di kota ini.

Mata gue memandang berkeliling. Dimana sebenarnya letak restoran yang ingin kami cari ini? Jika rasanya memang seenak itu, pasti akan segera kelihatan bukan?

“Nanti kita makan dulu ya? Abang lapar kan?” tanya Ayah beberapa jam yang lalu waktu masih berada di dalam pesawat.

“Iya yah, boleh. Dimana?”

“Tenang aja, nanti ayah bawa ke Warung Pak Daud. Kita makan sampe puas. Belum pernah makan disana kan?”

“Belum, emang enak?”

“Nanti aja rasain sendiri.” ujar Ayah sambil tersenyum.

Dan disinilah kami sekarang, di dalam sebuah taksi tanpa argo dari bandara Polonia Medan. Semua barang bawaan kami masukkan dalam bagasi taksi tak bernama ini. Susah sekali memang menemukan taksi yang menggunakan argo resmi di kota Medan. Tarif taksi dilakukan dengan azas mufakat yang dilakukan sebelumnya alias argo tembak.

“Dimana pak?” tanya supir taksi yang mulai kebingungan mencari alamat. Membuat gue sempat berpikir, ini sebenarnya supir taksi atau Ayu Ting Ting?

“Jalan terus aja, di depan. Di jalan Surakarta.” kata Ayah menunjukkan arah.

Gue sendiri tampak kebingungan. Tidak terlihat ada restoran disini. Apalagi sebuah restoran ramai yang pasti dipenuhi oleh para pengunjung disaat jam makan siang seperti ini. Hanya deretan toko-toko tua yang hanya terisi sebagian.

“Nah nah.. berhenti. Di belakang mobil box itu.” Ayah memberikan instruksi

“Disini yah? Dimananya?” gue tampak ragu.

“Itu..” ayah menunjuk dengan dagunya.

Dan di depan gue terdapat satu warung sederhana. Berdiri di antara dua ruko tua yang kini sudah kosong tak berpenghuni. Atap terpal berwarna biru digunakan sebagai atap warung yang sebenarnya adalah sebuah gang kecil di antara dua ruko.

“Dari mana bang? Bandara?” sapa si penjaga warung kepada ayah gue. Dia lalu tergopoh-gopoh ikut membantu menurunkan barang-barang kami dari taksi. Tampaknya Ayah adalah salah satu pengunjung yang cukup dikenali oleh mereka.

“Iya, dihidang aja ya? Jangan lupa ikan pari panggangnya.” perintah Ayah ke mereka. “..disini pari panggangnya enak!” lanjut Ayah ke gue.

Setelah meletakkan barang-barang bawaan, gue segera mengambil tempat. Perut yang keroncongan sudah tidak sabar minta diisi. Di depan gue, terjadi beberapa piring kecil yang berisikan menu-menu khas Aceh yang menggoda selera.

Gulai kepala kakap, sayur lalapan lengkap dengan sambal belacan, beberapa ikan kembung yang dimasak dengan cabai hijau, sambal belimbing yang sedikit asam penggugah air liur, hingga setumpuk nasi putih panas yang uapnya masih mengebul tebal.

Tidak lupa segelas serutan timun yang bercampur dengan es dan sirup menjadi penawar kadar kolesterol yang pasti akan meningkat setelah makan siang ini selesai.

Hidangan ikan pari panggangnya ternyata dibuat secara terpisah. Disajikan dalam sebuah piring plastik berwarna merah. Jika dilihat sekilas, tampak ikan pari panggang ini tidak terpanggang sempurna. Beberapa bagian terlihat hangus, tapi bagian lainnya seperti tidak sempat tersentuh bara.

Tapi dugaaan itu ternyata salah ketika garpu yang gue pegang membelah potongan ikan itu, bagian dalamnya matang secara menyeluruh. Dagingnya yang berwarna putih terasa lezat sekali jika dicocol ke sambal kecap dengan potongan bawang dan cabe rawit yang sudah disajikan sebelumnya.

Rasa lapar yang tadi mendadak hilang kini muncul tak terkendali. Tak berapa lama, kami berdua sudah kalap makan siang. We both eat like there’s no tomorrow.

Dengan mulut penuh, gue memperhatikan kondisi sekeliling. Pengunjung siang itu hanya kami berdua. Beberapa orang lain yang datang hanya memesan untuk dibawa pulang.

Dua meja kayu tua ditutupi plastik warna warni yang berfungsi sebagai taplak meja tampak kosong. Bangku kayu yang gue duduki mulai sedikit goyang dimakan usia.

Di depan, terdapat etalase kaca berisikan menu khas Aceh dan Melayu yang siap disajikan. Secara gamblang, tempat ini jelas bukan sebuah restoran yang seperti gue pikirkan sebelumnya. Warung ini hanya sebuah warung tua yang masih tegar berdiri disapu jaman di salah satu pelosok kota Medan.

“Waktu ayah pertama kali ke Medan dari Aceh, ayah dibawa makan disini ama Pak Wa Mud” Ayah mulai berbicara.

Pak Wa Mud adalah abang tertua dari ayah, dan sejak kakek meninggal dunia, Pak Wa Mud menjadi sosok ayah untuk ayah gue.

Gue sendiri gak pernah ketemu dengan Pak Wa Mud, beliau sudah lama meninggal waktu gue masih kecil.

“Dulu disini masih rame, di sebelah masih ada hotel. Ayah dulu nginap disitu.”

Gue berpaling ke bangunan tua disebelah. Tumpukan debu di jendelanya menjadi pertanda entah sudah berapa lama bangunan itu kosong tak lagi berpenghuni.

“Tahun berapa itu yah?” tanya gue

“Tahun 1973, waktu ayah masih SD. Dulu yang jualan Pak Daud, itu yang di depan tadi anaknya. Pak Daud nya udah lama meninggal. Dulu semua orang Aceh yang ke Medan tau warung nasi Pak Daud ini.” ujar ayah menjelaskan.

Gue menghitung dalam kepala. Tahun 1973 itu tepat empat puluh tahun yang lalu.

Waktu dimana gue masih berada di awang-awang. Jauh sebelum gue lahir atau bahkan direncanakan.

Selama empat puluh tahun, tempat ini menyimpan begitu banyak kenangan bagi Ayah atau orang-orang yang dulu pernah datang dan menumpang makan di warung sederhana ini.

Selama empat puluh tahun, warung ini masih berdiri tegak tanpa banyak berubah. Tetap dengan menu dan atap terpal yang sederhana. Penuh dengan memori dan cerita. Layaknya time capsule berisi potongan-potongan kenangan untuk orang-orang yang pernah makan disini puluhan tahun yang lalu.

Semuanya ibarat menjelaskan kenapa gue dibawa kesini. Dari seluruh tempat makan yang ada di Medan, Ayah memilih warung ini. Sebuah warung tenda sederhana diantara toko-toko tua yang sepi ditinggalkan penghuninya.

Semuanya demi satu hal. Nostalgia dengan masa lalunya.

Dengan makan disini, mungkin bisa membangkitkan kenangan empat puluh tahun yang lalu, ketika Ayah pertama kali datang kesini. Makan ikan pari panggang bersama sosok ‘ayah’ bagi dirinya.

Mungkin dengan makan disini, Ayah bisa menggali time capsule untuk dirinya. Mengingat keadaan empat puluh tahun yang lalu, yang perlahan mulai terkorosi dari ingatan dalam kepala.

Dan tanpa disadari, time capsule ini sudah berpindah ke gue.

Warung Pak Daud ini menjadi tempat dimana seorang ayah dan anak lelakinya makan siang bersama. Yang suatu saat nanti akan gue tularkan kepada anak lelaki gue.

Mungkin nanti pelayannya bukan lagi anaknya Pak Daud, mungkin cucunya. Mungkin nanti menunya akan berubah.

Tidak ada lagi ikan pari panggang, tidak ada lagi gulai kepala kakap, atau es timun serut yang sudah berganti nama. Tapi buat gue itu bukan menjadi masalah.

Karena warung Pak Daud ini bukan tempat biasa, ini adalah sebuah warung penyimpan memori.

Sebuah warung tempat ayah dan anak lelakinya berbagi cerita, berbagi rasa, sambil bercerita tentang indahnya hidup yang tidak pernah berjalan sempurna.

Seperti Ikan Pari Panggang.