Sekarang udah Juli. Ga kerasa bentar lagi mau masuk tahun ajaran baru. Itu berarti siswa baru, seragam baru, semester baru, dan teman2 baru.

Gue jadi kangen masa-masa kuliah nih kalo gini.

Tahun ajaran baru juga berarti akan ada proses ospek untuk para murid baru ini.

Dan semakin kesini, semakin banyak orang datang ke blog gue dengan keyword ‘ospek unpad’ atau ‘ospek unpad 2010’. Berharap menemukan kisah dan kiat-kiat berguna dalam menghadapi ospek, eh, mereka malah dibekali pengalaman gue yang bodoh ini.

Maka, gue cuma bisa bilang, selamat datang wahai orang-orang tersesat! ahahaha

Gue sendiri dulu, waktu lagi aktif-aktifnya di kampus, gue pernah jadi panitia ospek. Bukan jadi seksi logistik (seperti kebanyakan posisi gue dalam kepanitiaan kampus lainnya), bukan seksi konsumsi, bukan seksi pelengkap penderita atau bahkan seksi sekali (gariiiiiingggggggg :D ).

Gue tergabung dalam posisi yang menurut gue paling keren disemua kepanitiaan ospek manapun.

Ya, team Evaluator.

Alias Tatib.

Keren ngga? Dulu gue ngelamar di posisi ini karena beberapa hal.

1. Gue punya sejarah kelam dengan ospek. (Baca : Tragedi Punten.)

2. Mau balas dendam, gue akan mencari sebanyak mungkin anak luar daerah, dan gue akan nanyain satu2, ‘Puntennya mana?’. Kalo ngga bisa, akan gue suruh makan kain lap.

3. Team Evaluator merupakan divisi yang paling bergengsi, karena terjun langsung ke lapangan. Yang intinya satu, yaitu… Nampang.

4.   Gue mau nyari jodoh…(hehe..anda bisa lupakan 3 nomor pertama)

Ya, alasan terakhir yang paling dominan.

Entah kenapa, tradisi tadi ngga pernah berubah dari mulai jaman SMA ampe kuliah. Ngga peduli dimana, kapan, dan daerah mana anda tinggal, ospek selalu dijadikan ajang pencarian jodoh.

Ospek selalu saja diisi pria-pria yang ingin nampang mencari daun muda. Beberapa temen gue lebih ekstrim lagi. Mereka memilih menjadi PK (Pembimbing Kelompok) yang sering kami pelesetkan menjadi PK (Penjahat Kelamin).

Mending kalo dapet kelompok yang nurut dan cakep2, kalo dapet kelompok yang isinya berandalan semua? Emang enak, makan tuh batang.

Oia, mengingat2 ospek. Dulu pas gue masuk SMA juga mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan. Entah kenapa gue selalu saja memiliki hubungan aneh dengan yang namanya ospek.

Banda Aceh, 8 tahun lalu.

Gue bangun kesiangan. Fak men, ini bukan cara yang bagus untuk memulai hari pertama gue di SMA. Gue baru aja potong rambut, dan gue akan memasuki hari pertama masuk SMA dengan rambut yang bergaya bergaya ABCD (Abri Bukan Cepak Doang).

Ya, potongan rambut gue botak tipiiis sekali, nyaris gundul. Hal ini dikarenakan gue salah potong. Gue nyoba2 potong rambut di barber shop baru di deket rumah.

Gue kirain bagus gitu. Tapi ternyata, tukang potong rambutnya salah potong. Gue mesennya gaya jambul tin tin gitu (gaya yang lagi nge-trend di tahun 2000an).

Gue diem dan membiarkan dia berkreasi. Dan kemudian gue merasa ada yang aneh. Ternyata dia dengan begonya  motong setengah dari jambul gue. Yang sebelah kanan. Gue udah kayak orang gila. Dan kemudian dia nanya dengan lugunya.

“mas, ini setengahnya dipotong juga?”

“Arggh. Udah mas, botakin aja” kata gue kesel.

Jadilah gue seperti ini. Nyaris botak. kepala gue yang besar makin membuat aneh penampilan gue. Badan kurus kering kayak papan. Postur gue saat itu masih kecil, baru tamat SMP.  Mungkin sekitar 155cm. Dan disinilah gue dengan suksesnya.

Kecil, item, botak, dan telat untuk mengikuti ospek hari pertama. Kalo gue bugil aja, pasti dikira ET.

Karena gue telat masuk kelas. Gue mendapat posisi duduk paling ngga enak. Dipojok di paling belakang. Senior2 yang masuk kekelas gue mempunyai kata2 khas untuk memanggil gue.

“Kamu yang dipojok. Kemari’

gue pura-pura pura-pura bego karna males maju..

“Saya bang?”

“Iya, kamu yang botak di pojok. Maju sini!”

Gj!@#$%^&*())(*&^%$%^!!!..

Dan kemudian gue disuruh bergaya ala peragawan didepan kelas. Ya, gue tau, ospek jaman SMA emang ga kreatip.

Jadilah tiga hari ospek itu, gue selalu saja menjadi objek perploncoan senior. Gue disiksa, diplonco, disuru joget, nyanyi, ngasih tau biodata pake gaya dramatisasi orang berpuisi.

Ngerayu kakak kelas. Ngga habis-habis. Dan setelah ospek berakhir. Gue langsung mendaftar jadi anggota OSIS.

Karena biar bisa ngospekin angkatan selanjutnya. Lingkaran setan itu akan kembali berlanjut kawan! Hehehe..

Lucu sih kalo diinget-inget lagi sekarang.Tapi gue setuju banget kalau masa-masa yang paling indah itu, masa-masa disekolah. Baik itu SMA ataupun kuliah.

Meskipun banyak kejadian2 ngga enak selama kita melaluinya. Asam garam kehidupan menurut gue. Intinya sih nikmati aja prosesnya…

Gue adalah orang yang pro terhadap berlangsungnya ospek, selama berlangsung tertib dan tanpa anarkis. Gue setuju.

Ospek, dengan dibekali pembekalan menghadapi dunia perkuliahan akan sangat membimbing mahasiswa baru.

Ntah bagaimana, ospek berhasil memaksa gue, sang anak daerah yang baru pindah kuliah ke jawa, untuk berani berkomunikasi dengan temen-temen gue yang baru (dengan logat sumatera gue tentunya).

Dapat teman-teman baru, dapat pengalaman-pengalaman baru, dan dapat petualangan-petualangan baru.

Mungkin tanpa ospek, ga ada kegiatan-kegiatan yang memfasilitasi hal-hal seperti ini. Dan gue harap, banyak orang yang merasakan seperti gue rasakan.

Dan gue yakin akan satu hal, kalo cerita2 tadi akan menjadi pengalaman hidup gue yang sangat berharga. Yang pasti akan gue inget selamanya.

Yang akan menjadi kisah yang bisa gue ceritakan ke cucu2 gue nanti, ketika gue sudah tidak muda lagi.

Yang nanti di masa tua gue, ketika gue hanya bisa menikmati hari tua gue dengan damai, kisah-kisah tadi bisa membuat gue tersenyum-senyum kembali ketika gue mengingatnya.

Semoga.