“Posting ini tentang teman gue dan kisah cintanya. Agak nostalgia sih..Cerita ini gue bikin semirip mungkin dengan yang terjadi berdasarkan ingatan gue. Tentu saja namanya gue ganti”

Waktu awal SMA kelas 3, tahun 2004, gue punya sahabat. Sebut saja namanya Rudi. Rudi ini temen sebangku gue.

Gue berteman baik dengan Rudi, sampai sekarang. Dulu kita sering pulang bareng, sekedar nongkrong sepulang sekolah atau bahkan ke rental komik bareng.

Dia adalah salah satu cowo populer di sekolah gue.

Dia vokalis band, dan dari dia lah gue pertama kali belajar teknik bernyanyi. Meskipun sekarang ga merdu-merdu juga :p.

Orangnya supel, dan gampang bergaul dengan siapa saja, terutama para wanita.

Singkat kata, Rudi adalah bintang dan gue adalah lumut.

Karena kepopulerannya di mata gadis-gadis, Rudi tidak menemukan kesulitan berarti untuk mendapatkan pacar.

Berbeda dengan gue yang harus puasa mutih dulu buat dapetin pacar gue yang sekarang.hehe..

Rudi orangnya ramah dan gampang akrab dengan pria, apalagi wanita. Ditambah dengan wajah yang mumpuni (tapi ga seganteng gue of course) sehingga muncullah kesan “Playboy” dimata orang lain.

Orang-orang yang hanya mengenal Rudi dari luarnya saja.

Rudi pun tidak melakukan apapun untuk menampik gosip ini.

‘dibawa santai aja” katanya waktu itu..

Padahal, gue tau banget kalo Rudi ini bukanlah playboy. Playboy itu punya cewe dimana-mana.

Perkuat pusat perbanyak cabang. Bermain hati dibelakang.

Tapi si Rudi ini bukanlah orang seperti itu. Dia adalah tipe orang yang gampang mendapatkan wanita. Jadi, begitu putus, dia cepat menemukan penggantinya.

Yah, kalo jaman sekarang kayak Raffi Ahmad lah. Sering gonta ganti cewe, tapi ga pernah punya pacar lebih dari satu disaat bersamaan.

Ga ada yang salah dengan itu menurut gue..

Hingga waktu itu tiba..

………………………….

Waktu itu, gue dan Rudi, yang anak kelas 3 adalah panitia ospek buat anak baru.

Diantara anak baru kelas satu itu, ada yang agak menonjol diantara yang lainnya.

Kalo orang bandung bilang ‘mencrang’ sendirian diantara yang lain. Kita sebut saja namanya Icha.

Si Icha ini adalah salah satu bunga diantara ilalang (baca : cewe-cewe) lain yang masuk ke SMA gue.

Bunga yang diperebutkan oleh kumbang-kumbang berkedok kakak panitia ospek. Termasuk sedikit diantara kumbang ganteng itu adalah gue (tentunya) dan Rudi.

Gue sih waktu itu ngincer ‘bunga’ yang lain, jadi dengan legowo gue menyerahkan Icha ke Rudi.

Lagipula waktu itu si Rudi lagi jomblo, jadi gue pikir, kenapa ngga? Icha dan Rudi merupakan pasangan yang serasi di mata gue.

Ospek berjalan selama 3 hari, dan selama 3 hari itu, Rudi melakukan pendekatan yang intens ke Icha.

Yang ntah bagaimana, dihari ketiga, Rudi menyatakan rasa ketertarikannya ke Icha. Atau bahasa gaulnya sekarang adalah ‘katakan cinta’ alias nembak.

Agak gila memang menurut gue, karena mereka baru kenal 3 hari.

Dan rudi udah berani sejauh itu. Mungkin karena kelihaiannya mendekati wanita yang membuat Rudi sepede itu.  Kalo gue mah, kalo mau senekat itu, harus masang kresek item dikepala dulu biar ga malu.

Ternyata dugaan Rudi salah, Icha bukan cewe sembarangan yang luluh oleh kharisma seorang Rudi.

Ditambah lagi dengan selentingan-selentingan yang beredar yang bilang kalo Rudi itu seorang playboy, semakin menambah keraguan icha.

Maka, sebuah kata ‘tidak’ keluar dari mulut icha hari itu.

Harga diri seorang Rudi terkoyak. Dia yang jarang ditolak oleh wanita akhirnya merasakan sakitnya kata tidak. Hal ini membuat Rudi berusaha menjauhi Icha.

Tapi disisi lain, Icha ga bisa membohongi dirinya sendiri, kalau sebenarnya dirinya mulai menyukai Rudi.

Dari curhat-curhatnya icha ke temen-temennya yang mana juga temen gue dan Rudi.

Image ‘playboy’ yang melekat dan singkatnya waktu dari Rudi melakukan (apa ya anak jaman sekarang bilangnya? oiya…) pedekate, memaksanya untuk mengatakan tidak waktu itu.

Tapi ga ada yang berubah, Rudi kecewa dan Icha menyesal..

Ospek pun selesai, Rudi mencoba berlalu dan berusaha melupakan Icha. Sementara Icha mulai menyesali penolakan yang telah dia lakukan.

“kenapa lo ga ngejar icha lagi rud??” tanya gue waktu itu.

“males ta, dia udah nolak gue, ngapain gue maju lagi?”

“tapi kan sebenernya lo masi suka ama dia?”

“iya sih, tapi males gue”

“ tapi kayaknya dia mulai suka ama lo tuh, udah mulai nebar tanda-tanda kalo dia minta dikejar lagi” kata gue meyakinkan.

“iya, tau gue tapi ngga deh. Udah males ta. Sudahlah..”

Dan sampai situ gue ga nanya-nanya lagi. Gue jadi aneh ngeliatnya. Mereka sama-sama suka, tapi masing-masing ga ada yang mau ngalah dan mengorbankan ego mereka.

Si Icha sih keliatan banget kalo dia menyesali keputusannya menolak Rudi.

Di sekolah, dia sering banget senyum ke Rudi kalo kita lagi papasan di koridor sekolah. Gue miris ngeliatnya.

Mereka tetap smsan. Ngga sering, ala kadarnya aja. Sebatas teman, ga lebih. Rudi sering nunjukin ke gue sms-sms icha. Lebih sering dimulai dengan sms basa-basi di malam hari yang kayak nanyain, ‘lagi ngapain’ dan akhirnya berlanjut panjang hingga sms-sms berikutnya.

Dan Rudi juga merasa senang dengan hal ini.

Kesimpulan yang gue ambil, mereka berdua sama-sama gengsi. Yang satu gengsi untuk menyatakan duluan, yang satu lagi gengsi karena udah pernah ditolak.

Dan ini situasi ini berlanjut hampir satu semester..

…………………………………

Hari itu tanggal 25 Desember 2004, tepat di hari ulang tahun Rudi yang ke 18.

Hari itu hari sabtu. Gue dan rudi pergi ke acara ulang tahun temen wanita kita. Ulang tahunnya sih udah beberapa hari yang lalu tapi perayaannya malah di hari si Rudi ulang tahun.

“si Icha udah ngucapin selamat belum Rud??” kata gue penasaran

“belom, ga tau kenapa”

“yaudah, paling nanti dia ngucapinnya. Elo berdua kenapa ga jadian aja sih??udah kayak gini kejadiannya”

“iya ta, gue juga mikir gitu, ini gue udah mulai niat lagi buat ngejar dia” kata Rudi kalem.

“oia?yauda, baguslah. Jangan disia-siakan Rud anak orang cakep gitu. hehe” kata gue becanda.

Dan sekarang gue ga ingat lagi gimana hari itu berakhir. Yang gue ingat adalah kejadian esok harinya

……………………………………………

26 Desember 2004

Pagi itu sekitar jam 8. gue mau mandi, mau berangkat maen bola di lapangan deket rumah temen gue di daerah dekat pantai. Lagi megang handuk tiba-tiba tanah bergerak, goyang kiri kanan, kencang sekali. Gue langsung keluar rumah, duduk ditanah sambil pegangin tiang bendera.

Aceh dilanda gempa hebat dan sejam kemudian disusul tsunami. Kalo aja pagi itu gue jadi berangkat. Udah tamat riwayat gue.

Keadaan kota kacau balau. Semua orang panik. Pemerintahan ngga jalan. Tangisan dimana-mana.

Mayat juga dimana-mana. Listrik padam. Telekomunikasi putus.

Gue sekeluarga panik. Untungnya rumah gue didaerah yang tinggi, jadi air tsunami ga nyampe ke daerah rumah gue.

Dan karena rumah gue masi utuh, rumah gue dijadikan posko polri.

Sekolah gue hancur lebur. Karena gue libur, gue mengkonsentrasikan kegiatan gue di rumah. Bantu-bantu posko. Gue sama sekali ngga tau tentang kabar temen-temen gue. Putus komunikasi.

Hingga beberapa minggu kemudian gue ketemu Rudi. Mukanya lesu. Rumahnya hancur kena tsunami. Tapi beruntung mereka sekeluarga selamat.

Penasaran, gue tanya kabar Icha..

“Icha meninggal ta” kata Rudi pelan.

Gue cuma bisa diam. Memang, rumahnya Icha berada didaerah yang paling parah kena tsunami. Daerah itu rata dengan tanah.

“dan dia, malam sebelum tsunami, ngirim ucapan selamat ke gue”

“Nih, baca deh” kata dia sambil nyodorin handphone ke tangan gue.

“ Rudi, selamat ulang tahun ya,semoga tambah sholeh, tambah pinter dan berbakti kepada kedua orang tua. Byee…”

“Bye? Dia bilang bye rud??” kata gue ga yakin.

“iya, gue juga heran. Kenapa dia bilang bye di sms itu.” Kata Rudi pelan. Dia ga nangis, tapi guratan kesedihan itu bisa gue liat dari wajahnya.

“Gue menyesal. Kenapa gue ga bisa membuat dia bahagia di akhir-akhir hidupnya. Kenapa waktu itu gue malah gengsi untuk nyatakan semuanya” kata rudi.

Dan itu memang sms terakhir Icha.

Beberapa bulan kemudian, situasi di Aceh berangsur-angsur normal. Gue mulai masuk sekolah lagi.

Persiapan buat UAN. Sekolah gue udah mulai diperbaiki. Tapi situasi sekolah sudah berbeda, sepiiii banget.

Puluhan temen-temen sekolah gue meninggal, dan sisanya melanjutkan sekolah diluar aceh.

Gue dan Rudi yang sempat sekolah di Jakarta namun akhirnya kembali lagi dan menamatkan sekolahnya di SMA.

SMA yang sama ketika dia ketemu Icha.

Setau gue, dia ga punya pacar ampe akhir tamat SMA. Mungkin masi teringat Icha, mungkin juga emang belom ketemu aja yang pas.

Gue ga tau, hanya Rudi yang tau kenapa.

Dan di hari gue tamat SMA dan mengunjungi kelas-kelas gue yang lama, gue melihat kelas dimana dulu icha berada, diospek, ketemu Rudi dan akhirnya jatuh cinta.

Mungkin untuk pertama dan terakhir. Gue ga tau.

Seandainya dulu Icha berkata ‘ iya..’ mungkin semuanya akan berbeda.

Tanpa ada penyesalan yang tersisa.

 

kisah cinta sma

seragam putih abu abu itu

foto diatas gue ambil disini