Ada satu junior gue di kampus, salah satu blogger muda yang tulisannya selalu memikat gue.

Namanya Satria.

Tulisan-tulisan di tumblr nya selalu membuat gue mengangguk setuju atau mengernyitkan dahi tanda mencoba memahami.

Akhirnya, gue minta dia buat jadi guest blogger di romeogadungan.com. (Alibi ini bisa kau gunakan ketika kau sedang malas menulis. hahaha)

Dan ini lah tulisannya.

Enjoy folks!

 

Galau, sebuah fenomena.

Hal apa yang amat mungkin kamu lakukan saat sendirian mendengarkan lagu menyayat hati? Sudah kuduga. Pasti galau.

 

Ga-lau. Dari paruh tahun ini, kata tersebut terasa begitu populer. Dapat ditelisik dari perilaku manusia sebagai pengguna kata.

Jika kita pikirkan sejenak, ada peningkatan intensitas penggunaan kata “galau” secara rutin dalam percakapan sehari-hari.

Ada begitu banyak alasan untuk mengatakan: Duh, gw galau nih. Dari mulai muda-mudi hingga paruh baya, semua dijangkiti sindrom kegalauan yang masif.

Cukup terheran mengapa hingga detik ini pemerintah tak menetapkan sindrom kegalauan sebagai sebuah Kejadian Luar Biasa (KLB).

Apa sih penyebab dari timbulnya rasa yang menyesakkan dada dan memecut hati kecilmu dengan sporadis? Mari kita telusuri:

1. Asmara

Sebagian besar galauers (red: penderita galau) akan menjawab dengan tingkat keyakinan 99% bahwa asmara menjadi penyebab utama kegalauan.

Mau coba lakukan tes sederhana? Pinjamilah earphone bagi kawanmu yang terindikasi sebagai seorang galauers. Sudah?

Berikutnya putar lagu menyayat hati yang lagi hype semisal Adelle yang berjudul Someone Like You.

Sudah juga?

Setelahnya, minta kawanmu ceritakan kesan atau cerita pribadi terkait dengan tema lagu tersebut.

Ia pasti akan terlihat sering melipat-lipat bibirnya ke dalam, mengkerutkan kedua alisnya, memberi efek sayu pada kedua matanya dan mulai terlihat gelisah.

Akhir sudah dapat diterka, terjadi tendensi yang kuat untuk melacur (red: melakukan curhat) di tempat.


2. Akademik

Ini hanya akan terjadi pada mahasiswa-mahasiswa yang peduli terhadap kehidupan akademiknya.

Karena biasanya, jika tak ada kepedulian barang secuil pun terhadap masa perkuliahan, tak mungkin akan merasakan yang namanya galau akademik.

Contohnya banyak terjadi dari mulai terjun bebasnya IPK ke kisaran dua koma, tugas-tugas sulit yang menyita me-time milikmu hingga sulit ditembusnya benteng pertahanan dosen atas persetujuan isi skripsi.

Menjadi “sesuatu banget” dikarenakan sebagian besar fokus utama hidup para mahasiswa ada di sini.

3. Hidup

Penyebab yang ini terasa sungguh luas. Namun dampak nyatanya pernah saya rasakan dan ketahui juga dari seorang teman yang mengalami.

Biasanya terkait dengan personal lag saat memasuki usia 20 awal yang notabene menjadi titik berangkat fase kedewasaan seseorang.

Seorang dewasa tahap awal akan merasakan hidup “yang sesungguhnya” yang ditandai dengan semakin kompleksnya urusan pribadi, besarnya tanggung jawab terhadap orang lain dan rencana yang harus disusun demi masa depan.

Semisal seorang teman. Ia bercerita tentang betapa ia galau saat harus memasuki fase kedewasaan tanpa perencanaan yang baik. Atau seorang teman yang lain, yang bercerita tentang perasaannya sebagai orang dewasa. Ia berkata:

Menjadi orang dewasa berarti lo dianggap sudah menjadi sosok yang tangguh sehingga orang-orang sekeliling lo mulai “melonggarkan” dukungan dan perhatian, tak sebegitu intens seperti saat lo belum dewasa.

Itu tak salah karena kita juga terus berkembang secara pribadi. Tapi terkadang mereka acuh berlebihan, karena ada saat-saat tertentu pada fase dewasa dimana kita sungguh membutuhkan dukungan dan perhatian selayaknya dahulu – saat kita belum berstatus “dewasa”.

4. Politik

Penyebab yang satu ini biasanya dialami oleh para wakil rakyat disana. Irisannya berupa konflik kepentingan pribadi dengan pemenuhan janji politik.

Mau yang mana hayo, memenuhi janji dan memuaskan rakyat banyak atau mengedepankan penyejahteraan diri sendiri & keluarga karena-takkan-ada-yang-bakal-tahu?

Tak aneh jika kegalauan tipe ini sering berujung pada kesengsaraan rakyat karena pundi-pundi emas dan jabatan strategis sering menggoda para wakil yang galau atas keputusan politiknya sehari-hari.

Bentuk lainnya juga mungkin sempat dirasakan pimpinan negara kita yang galau politik dikarenakan harus me-reshuffle (red: mengocok ulang) jajaran kabinetnya beberapa waktu yang lalu.

5. Pergaulan

Kamu adalah apa yang kamu dikelilingi oleh. Apakah itu arti yang tepat dari “You are what you surrounded by“?

Oke lanjutkan. Maksudnya begini, dengan menjangkitnya sindrom galau hingga ke tiap ceruk dan celah kehidupan anak negeri, maka besar kemungkinan kamu termasuk salah satunya.

Lihatlah orang-orang di sekitarmu yang kamu sering ajak habiskan waktu bersama.

Hipotesis saya: saat mereka telah menjadi bagian dari komunitas galauers, maka tak lama lagi kamu juga akan merasakan yang sama.

Tak terkejut lagi saat saya membaca quote ala anak muda kekinian:

Ga gaul kalau ga galau

What the…? Berarti ada kondisi galau yang dibuat-buat gituh? Mau galau aja sampai segitunya ah!

Jangan sampailah kamu keseringan duduk tercenung di bawah siraman shower, memutar lagu-lagu tipikal Adelle atau D’masiv sambil menyilet-nyilet urat nadimu segaris demi segaris.

Oh, ayolah. Tak usahlah mengondisikan galau yang artifisial supaya kamu terlihat lebih gaul.

Atau memang menyakiti diri sendiri secara fisik dan batiniah juga menjadi trend? Duileh..

Namun ternyata di samping tipe, banyak galauers yang salah menempatkan kata “galau” dalam berkomunikasi.

Kelamaan menjomblo? Galau.

Pacarnya selingkuh dengan TTM-nya supir tetangga? Galau.

Urusan akademik di kampus lagi nggak oke? Galau.

Komodo terancam angkat koper dari ajang bintang berbakat tujuh keajaiban dunia? Galau.

Keep calm and galau in peace.

Padahal, jika mengacu ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), galau berarti “pikiran yang kacau tidak keruan (kusut)“. Tentunya tak setiap saat dan setiap hari kamu merasakan kekusutan dalam pikiran bukan?

Yang lebih sering muncul adalah perasaan tak baik yang menggelinjang dalam hati.

Jenis perasaan yang lebih tepat diberi label “gundah”, bukan “galau”.

Jadi, bagi yang sedang dijangkiti sindrom kegalauan, termasuk tipe manakah galaumu? Sebagai pemuda harapan bangsa yang selalu (mencoba) memiliki semangat dan pikiran positif, saya sarankan cari solusi paten kegalauan yang kamu alami.

Bagi yang hubungannya berakhir dan/atau masih menjomblo, bersenang-senanglah dengan sisi positif status single atau cari pasangan baru.

Bagi yang hubungannya digantung seperti paha kambing kurban, move on!

Bagi yang ingin galau tapi tak ada penyebab, jangan ikut-ikutan ah.

Galau itu kontraproduktif.

Bagi yang melihat temannya terjangkit galau stadium akhir, segera beri P3K (Pertolongan Pertama Pada Keagalauan) berupa penyediaan sesi curcol (red: curhat colongan).

Akhir kata, jika memang kegalauan sudah sebegitu melekat erat dalam dirimu sampai menjadi nama tengahmu semisal Neneng “Galau Kronis” Sukaesih, cobalah berperangai seperti Cherrybelle yang menyanyikan lagu Dilema di televisi: ceria, tertawa dan menari lincah.

Gila, untuk lagu segalau itu saja mereka bisa riang gembira. Masa kamu tidak?

 

 

Tulisan-tulisan cerdas Satria lainnya bisa di baca di http://satriamaulana.tumblr.com/