Ini topik yang jarang banget diangkat orang lain yang studi di luar negeri. Semua pasti cerita tentang seru-serunya doang, seolah studi di luar negeri itu semuanya menyenangkan.

Foro-foto keren di Instagram atau Path, status-status yang seolah bikin sirik, keluhan-keluhan yang terasa pamer? Tapi benarkah demikian?

Beberapa hari yang lalu, gue membaca curhatan teman yang melintas di timeline Twitter gue yang bagus banget. Yang gue rasa sayang banget kalau cuma dilewatkan. Namanya Ghina, dia sedang menempuh pendidikan postgraduate-nya di Aarhus University di Denmark.

Gue cuma bisa mengangguk setuju dengan beberapa poin yang dia buat. Jadi gue minta dia untuk menuliskan apa yang biasanya dirasakan oleh mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di luar negeri, me included. Sisi lain yang membahas gak enaknya kuliah di luar negeri.

Dan setelah sekian lama, akhirnya ada guest blogger di blog ini.

Enjoy!

————————————————————-

Terkadang orang mikir hidup dan belajar di luar negeri itu enak dan menyenangkan.

“Si A dapet beasiswa ke Eropa tuh… Seru banget!”

“Wuidih, ke luar negeri, ntar jadi anak gaul!”

Ya, begitulah kata orang-orang. But don’t get me wrong, sebagian besar memang bener seru kok. Tapi di belakang keseruan itu juga ada banyak hal lainnya yang orang ga pernah kira. Hal-hal yang nggak pernah ditunjukin ke orang lain. Karena takut dianggap cengeng atau manja.

1. New Friends?

Dapet temen bule baru yang cantik dan ganteng, pake bahasa Inggris pula! Of course. You have new friends and all.

Tapi dibalik temen-temen baru lo itu, lo pasti kangen banget sama temen-temen lama lo yang bisa lo ajak pecicilan ke mall sambil ngegosip.

You miss those friends to whom you could talk expressively with your own language. Sometimes, I’d rather keep my own happiness and sadness to myself when it’s hard to explain those to my new friends.

2. Europe Street.

Yes, tiap hari lo bisa liat jalanan ala Eropa yang biasanya cuma bisa diliat di film. And then what? Kan lo ga ke jalan-jalan tiap hari. Most of the time, ya lo harus belajar, membaca jurnal, menulis paper tiap hari tanpa ada hiburan sama sekali.

No fun!

Bahkan malam minggu kadang harus dihabiskan sambil ditemenin oleh tumpukan jurnal yang menunggu untuk dibaca.

3. No TV.

TV is a privilege, and I don’t have one. Ada laptop sih. Tapi tiap lo buka laptop ada rasa bersalah karena lo harusnya ngerjain paper lo yang mesti dikumpulin Senin depan.

So, staring at the wall could be an alternative. Yes, alone.

4. The hardest thing is food.

Yes. Back home, you got your mom cook for you whenever you got hungry and tired. Here, you bike 10km a day and ain’t nobody got time to cook for you when you got home. Plus eating out would drain your pocket.

Mau pesen makanan delivery kayak di Jakarta? Jangan harap bisa dilakukan. Di sini toko pada tutup jam 8 malem. Kalaupun mau makan di luar, yang ada kantong berteriak minta tolong.

5. Oh, don’t make me tell you about the weather.

Tiap hari langit yang ada warnanya cuma abu-abu sampe enam bulan ke depan. Bahkan orang-orang aja udah ga ada yang senyum dan cuma pake baju item tiap hari.

Tapi lo ga pernah bisa cerita yang merana begini ke orang tua lo. Simply, karena lo ga mau bikin mereka khawatir. Mau ga mau, lo harus nunjukkin ke mereka kalo lo seneng kok di sini.

***

Jadi banyak banget dilema dan some lonely time karena ga ada yang bisa ngertiin lo. Apalagi kalo lo jomblo. But, being single means that you can focus more on yourself and study.

Karena beneran deh, ga ada yang lebih buruk dari study abroad trus berantem sama pacar lo (been there, done that).

Masalah itu bisa bikin lo merana banget. Depresi sampe ke kerak bumi. Jadi pengertian itu bener-bener dibutuhin banget buat orang-orang yang masih LDR-an (which is nobody).

Here’s some pro tips.

Jangan pernah berpikir kalo pacar lo yang lagi di luar negeri itu kerjanya cuma have fun doang dan ninggalin lo yang merana di Indonesia.

Trust me, it’s not like you think it is. Pacar lo itu butuh dukungan dan pengertian lo lebih dari segala-galanya. Bayangin deh, dia harus support diri sendiri di tempat yang jauh berbeda dari lo sekarang. Ribuan kilometer dari kehangatan rumah.

Don’t ever think that your partner is having so much fun abroad and leaving you in misery. Trust me. It’s not like what you thought it was.

Jangan bikin dia malah khawatirin diri lo. Jangan kasih dia tekanan lagi. Dia (kita) tu udah punya banyak tekanan hidup di sini. Dan berhenti bilang kalo lo ngerti rasanya di posisi dia. Because you don’t.

Ga ada yang lebih buruk dari lo neken dia dan bikin dia malah khawatir sama lo lebih daripada ke diri dia sendiri, just because they love you. Sedangkan lo terus bilang kalo lo sayang sama dia, tapi ga pernah peduli sama apa yang mereka beneran rasain.

That’s just a plain egoism.

 

I guess that’s it, the downside of studying abroad which not so many people talked about. And now let me get back to my Game Of Thrones series.

 

Penulis : Ghina Filiana,Saat ini sedang menempuh MSc. Strategy Organization Leadership di Aarhus University, Denmark.

Bisa di follow di Twitter (@ghinafiliana) atau blog nya di ghinafiliana.blogspot.com.