Waktu itu gue lagi nongkrong bersama beberapa temen gue. Kondisi foodcourt itu mulai ramai, sedikit wajar mengingat ini memang sudah memasuki jam makan siang. Teman gue dari tadi memegang handphonenya yang dari tadi diam gak berfungsi. Sebuah jam pasir muncul di layar, sebagai pertanda alat itu sudah tak lagi responsif.

“Mana nomornya?” tanya gue gak sabar. Gue meminta nomor telpon sebuah restoran di Kemang yang ingin gue booking buat acara kantor.

“Bentar, lagi hang nih.”

“Ribet banget hape lo?” tanya gue penasaran.

“Iya nih, sering banget kayak gini.”

“Cabut baterenya coba, trus idupin lagi. Biasanya bisa.”

“Bentar, gue coba dulu. Ini masih mending, yang make trackball lebih parah lagi, susah banget ngegerakin kursornya” katanya menjelaskan sambil membuka penutup belakang handphone itu.

“Ohhh, kalo gitu lo kasi minyak kayu putih. Biar lancar!” sambar teman gue yang lain, mencoba memberi solusi.

“Hah? Serius?” tanya gue heran. Baru kali ini gue tau ada hape yang bisa masuk angin.

Percakapan-percakapan seperti ini membawa gue berkhayal dan memikirkan satu hal. Hal yang menjadi salah satu komponen utama dalam hidup kita saat ini. Gadget.

Sebuah kalimat yang pernah diucapkan Mbah Aristoteles ratusan tahun yang lalu. Manusia adalah makhluk yang sosial.

Mungkin Aristoteles gak akan pernah mengerti dengan dampak teknologi terhadap hubungan antar manusia saat ini. Teknologi membuat semuanya terasa mudah. Teknologi-teknologi usang seperti surat, kamera, kartu pos, mulai tergeser dengan adanya fitur-fitur dalam sebuah handphone.

Sekarang masalahnya, dengan segitu banyaknya opsi yang bisa dipilih, kenapa sih harus memilih teknologi yang menyusahkan? Bentar-bentar lemot, harus nunggu jam pasir kelar baru bisa digunakan, kamera dengan kualitas yang tertinggal beberapa tahun lebih telat.

Teknologi itu bukannya harus memudahkan ya?

Emang mau setiap mau foto harus minta fotoin temen dari handphone yang lain? Gue sih suka gak sabar nungguin jam pasir kelar, atau handphone yang nge-hang kayak shalat wajib, sehari bisa lima kali. Belum lagi kualitas kamera yang hasil jepretannya kayak abis nonton film The Ring, blur semua di bagian muka.

Gue kadang suka heran dengan orang-orang yang masih bersikukuh untuk make handphone yang nyusahin kayak gitu. Keren engga, cepet juga engga, aplikasi yang tersedia sangat terbatas. Loyalitas yang gak masuk akal itu yang membuat gue geleng-geleng kepala.

Kita sebagai pemilik harusnya bisa punya kekuatan untuk menentukan pilihan. Ribuan applikasi yang tersedia buat memudahkan hidup. Aplikasi kesehatan, berita, hingga menyalurkan hobi untuk narsis. Chatting multiplatform udah banyak banget yang tersedia gratis untuk dipakai. Mau sharing ke sosial media lain kayak Path atau instagram bisa dilakukan dengan beberapa klik. Layar besar yang bisa bikin lo nyaman twitteran atau baca-baca portal berita.

Sebuah gadget harusnya mampu memanjakan pemiliknya, bukan kebalikannya.

Bukannya malah harus selalu bawa-bawa minyak kayu putih tiap mau pergi. Gak mau sekalian bawa burung merpati buat sekalian bertukar pesan?

Gara-gara kepikiran hal ini, gue iseng buat browsing video-video di Youtube dan nemu klip yang ini. Ini video dari S4 yang benar-benar membuat gue pengen mecahin celengan ayam di kamar dan beli handphone ini.


Yang paling keren menurut gue itu bagian yang ngedeteksi mata penggunanya gitu lho (Smart Pause istilah kerennya). Yang kalo lo lagi nonton video, trus lo ngelihat ke arah lain, videonya otomatis berenti lalu akan lanjut main lagi ketika lo ngeliat lagi ke layar. Keren ya?

Kayak Jarvis, komputer pribadinya Tony Stark dalam Iron Man.

J.A.R.V.I.S

gambar diambil dari sini. terima kasih

Mungkin Tony Stark make esfor juga kali ya? Karena agak miris kalo misalnya Iron Man pas mau bertarung bawa-bawa minyak kayu putih. Iron Man kok masuk angin?

Let me hear your comment below.