Gue adalah orang yang gak percaya dengan persahabatan antara pria dan wanita. Gue percaya, dalam suatu hubungan seperti itu, pasti ada satu pihak yang naksir. Baik secara terang-terangan atau yang jatuh cinta diam-diam.

Hubungan pertemanan laki-laki dan perempuan ini muncul dengan berbagai macam nama. Friendzone, Driverzone atau bahkan Kakak-Adek Relationship.

Gue sendiri mempunyai teori yang berbeda.

Perempuan itu adalah makhluk yang gak mau kehilangan fans. Mereka menikmati menjadi pusat perhatian. Gak ada perempuan yang gak senang diperhatiin. Mereka berdandan dan sengaja tampil cantik untuk menjadi pusat perhatian.

Hari seorang wanita seketika akan menjadi rusak jika mereka menemukan wanita lain menggunakan pakaian yang sama. For some reason, they ARE attention whores. Dan terkadang, mereka gak rela melepaskan perhatian yang sudah didapatkan.

Jawaban diplomatis yang paling sering keluar dari mulut mereka adalah :

“Ya kita kan gak boleh geer. Mungkin aja mereka emang mau temenan doang.”

Menyebalkan bukan? Salah satu perempuan yang ‘menyebalkan’ itu adalah adik gue sendiri, Geby.

Geby adalah adik perempuan gue yang paling tua. Sekarang dia berada dalam tahun terakhir pendidikan sarjananya. Gue tau banyak pria memujanya. Saking banyaknya, pernah sekali waktu Geby meminta gue untuk menolak telepon dari pria yang ingin dijauhinya.

Dan sebagai abang yang baik, gue menurutinya.

Gak jarang, gue bersikap overprotective dengan teman-teman pria Geby yang datang ke rumah ketika Lebaran tiba. Muka masam akan langsung terpasang di wajah gue, ketika ada gelagat-gelagat gak menyenangkan yang keluar dari pemuda-pemuda ingusan itu. Gue mendadak menjadi 10 tahun lebih tua ketika menyangkut adik gue yang satu ini.

Salah satu dari pria-pria yang memujanya itu kita sebut saja Farhan, seorang pemuda baik-baik yang tinggal di dekat rumah kami. Karena sudah kenal dari kecil dan kebetulan mereka bersekolah di satu SMA yang sama, Farhan dan Geby sudah bertahun-tahun menjadi teman dekat.

Farhan sering main ke rumah dari dulu, sekedar mengirimkan kiriman dari orangtuanya, atau sekedar mengerjakan tugas sekolah bersama Geby di rumah. Farhan adalah tipe-tipe pria yang baik dan ramah.

“Bang” sapanya sambil menunduk setiap kali melihat gue ada di rumah.

Kepada Farhan, sisi protektif seorang abang yang selama ini terpasang, menjadi lunak. Dan kemarin ketika mudik, gue melihat gelagat Farhan yang selama ini jarang gue perhatikan. Farhan sempat main ke rumah menemui Geby. Tanpa agenda khusus, karena gue hanya melihat dia ngobrol-ngobrol bersama Geby di ruang tamu.

“Geb, panasin ikan lah, abang mau makan” kata gue kepada Geby. Gue emang bermental majikan. Tanpa kehadiran seorang pembantu rumah tangga di rumah, Geby adalah andalan gue setiap kali gue berurusan dengan urusan dapur.

Setelah selesai, ternyata Geby memutuskan untuk sekalian mencuci piring. Dan saat itulah gue melihat sesuatu yang membuat gue tersadar.

Farhan ada disana, membantu Geby mencuci piring.

Hal ini sontak membuat gue tersadar.

Dia terjebak dalam tukang-cuci-piring-zone. Entah zona apalagi yang sudah diciptakan adik gue terhadap lelaki malang ini.  Poor dude. 

Gue sempat teringat sebuah teori yang dilemparkan teman gue.

“Cowo deket ama cewe itu kemungkinannya ada dua Ta. Kalo gak naksir, berarti bencong!” katanya waktu itu.

Dan jika berdasarkan teori teman gue tadi, kemungkinan yang mungkin terjadi adalah yang pertama, karena Farhan sama sekali gak terlihat seperti bencong. Dia gak pernah datang ke rumah gue sambil make stocking dan bawa kecrekan. Penampilannya normal.

Farhan terjebak dalam friendzone kelas berat, sebuah lubang yang memiliki dasar yang sangat dalam (kalaupun ada dasarnya). Entah Geby menyadarinya atau enggak, tapi yang jelas itu terlihat di mata gue. Farhan gak lagi memandang Geby sebagai seorang teman biasa. Entah sejak kapan.

Tapi di mata gue, effort yang dilakukan Farhan jauh daripada seorang teman biasa. Pengorbanan-pengorbanannya demi adik gue.

Memperhatikan Farhan, seolah melihat ke dalam diri gue beberapa waktu yang lalu dan juga beberapa teman yang gue kenal. Orang-orang yang sedang bermain-main dengan perasaan, dan terjebak dalam hubungan yang sebenarnya gak diinginkan.

Dan untuk kaum pria yang mencintai secara diam-diam, menjadi seorang teman adalah opsi yang bisa diterima daripada harus kehilangan segalanya.

Mereka adalah kaum yang takut untuk mempertaruhkan status teman yang selama ini didapat, dan mengabaikan perasaan-perasaan lain yang muncul entah dari mana. Perasaan yang harus dikubur hilang dan berujung dalam sebuah hubungan pertemanan.

Entahlah, mungkin kita bukan ‘terperangkap’ dalam friendzone. Mungkin bukan wanita yang menjebak kita dalam hubungan yang aneh ini. Mungkin sebenarnya kita sendiri yang rela masuk ke lubang itu.

Rela menjadi teman, daripada harus kehilangan seseorang yang disayang. Rela mendengarkan cerita-cerita tentang pria lain yang sebenarnya tidak terlalu suka untuk didengarkan. Atau bahkan rela mencuci piring di rumah tetangga, demi bisa bersama wanita yang disukainya.

Dan seperti salah satu kalimat dalam novel Raditya Dika :

“Karena jatuh cinta yang paling menyakitkan, adalah jatuh cinta yang dilakukan diam-diam.”