Beberapa hari yang lalu, Karima, seorang teman gue resign dari kantor. Berbeda dengan kantor gue yang lama, di kantor gue yang ini, resign bukanlah suatu hal yang wajar.

Dimana di kantor sebelumnya resign dianggap sama seperti napas. Orang-orang sudah maklum.

Farewell party yang diadakan mengharu biru. Semua temen-temen wanita gue dikantor menangis.

Suasana pun berbalut aura perpisahan.

Karima resign ingin menjadi guru TK.

Hebat ya?

Disaat gue anti anak kecil dan selalu berusaha membius mereka ketika mereka mulai rewel, Karima justru menyerahkan karirnya di sebuah perusahaan besar demi mengajar anak TK.

Resign nya Karima membuat gue kembali mengingat proses resign gue dari EY.

Entah kenapa, ibarat flashback dari sebuah film yang biasa kita saksikan.

Hari itu hari terakhir gue.


Awalnya gue gak menyangka kalo itu hari terakhir gue di kantor, karena menurut hitungan surat resign yang gue buat, harusnya baru besoknya gue efektif resign dari kantor.

Tapi karena salah dalam pembuatan surat pengunduran diri, hari terakhir gue yang harusnya Jumat, bergeser menjadi Kamis dan memaksa gue untuk segera membereskan urusan-urusan gue yang belum selesai di kantor hari itu juga.

Dengan panik, gue langsung nyiapin farewell notes untuk dikirim melalui email di kantor keseluruh pegawai, sebelum laptop kantor gue kembalikan.

Begitu email farewell notes itu menyebar, Ibu manager gue langsung menelepon senior gue.

“Kumpulin anak-anak ya? Nanti sore makan bareng.” begitu kata beliau seperti yang senior gue sampaikan ke gue.

Mendadak gue langsung ga enak.

Gue langsung menghadap ke ruangan beliau.

“Bu, dalam rangka apa ya bu makan barengnya?” kata gue ga enak. Soalnya gue lagi cukup bangkrut untuk bikin farewell dinner :D

“Ya ngga apa-apa. Cuma makan bareng aja. Saya pengen traktir anak-anak” kata dia.

Sontak gue pun ga enak.

Masa farewell gue yang bayarin manager gue.

Gue langsung ngeles “Nanti saya juga bikin farewell dinner kok bu” (yang mana sampai saat ini belum sempat gue lakukan. hehe)

“Ngga apa-apa, kali ini biar saya yang bikin”

Karena ga enak menolak, akhirnya sore itu gue dan tim gue makan bareng untuk terakhir kalinya sebagai tim. I

ntinya sih karena gue pantang menolak makan gratis. hehe

Kita banyak ketawa, banyak cerita.

Dan ditengah tawa itu, gue menyadari bahwa mereka adalah orang-orang terdekat buat gue selama 2 tahun belakangan.

15 jam perhari selama 2 tahun?

Mereka bahkan lebih banyak menghabiskan waktu dengan gue daripada dengan keluarga mereka sendiri.

Segala cerita, keluh kesah, kekesalan, deadline, kerjaan menjadi satu.

Momen yang mungkin nanti akan sama-sama kami rindukan.

Nanti ketika kami tua, dan kembali mengenang masa muda.

Mungkin kami akan melihat kebelakang dan merindukan masa-masa itu.

Setelah selesai acara makan dan foto-foto, kita semua akhirnya kembali ke kantor.

Manager gue kembali keruangannya untuk beberes kemudian pulang karena malam juga sudah semakin larut.

Gue kemudian menyusul ke ruangannya.

Ruangan yang sama dimana gue melakukan kebodohan di hari pertama gue masuk kantor.

Ga banyak berubah. Di pojok ruangan gue liat setumpuk dokumen, beliau lagi banyak kerjaan sepertinya.

Mudah-mudahan itu bukan kerjaan gue yang masih belum selesai.

“mau pulang ta?” kata manager gue melihat kedatangan gue.

“Iya bu” kata gue pelan.

Dia berdiri. Kemudian memeluk gue.

Pelukan perpisahan.

Lalu menyalami gue.

Sedih dan salut bergabung menjadi satu.

Yang masih gue salut sampai saat ini, caranya menghargai bawahan sangat hebat.

Tindakan-tindakan kecil yang pernah dilakukannya membuat gue sangat berharga di kantor itu.

Sikap yang akan gue contoh ketika gue nanti menjadi atasan.

“Keep contact ya?” kata manager gue.

“Iya bu. Terima kasih buat semuanya” kata gue lirih.

“saya pamit ya bu?” kata gue sambil berlalu dari ruangan itu.

Sambil melihat sekeliling, dalam hati gue berterima kasih pernah bekerja dalam kantor ini.

Pekerjaan yang tidak mudah, menantang, sekaligus membentuk karakter.

Sambil mengenang, gue berlalu dari sana.

Dan begitulah, satu halaman dalam buku gue telah selesai. Halaman yang akan menghiasi buku kehidupan gue.

Kini, saatnya membuka ‘halaman’ baru. Dan menulis banyak cerita indah didalamnya.

Because in life, every ending just a new beginning :)