Di kantor gue, sedang berlangsung satu proses audit regular yang rutin dilakukan setiap tahun. Gue tergabung dalam tim audit ini. Selain gue dan beberapa orang lainnya, ada seorang bule yang dari kantor pusat di Texas yang tergabung sebagai anggota tim ini.

Namanya Ray, orangnya gemuk gempal. Saking gemuknya, Ray ga punya leher. Dari kepala langsung bahu, mungkin waktu Tuhan bagi-bagi leher dia gak dateng. Dia mirip karakter Po di film Kungfu Panda.

Dia orangnya ramah dan lucu. Untuk Ray, ini adalah pengalaman pertamanya berkunjung ke Indonesia.

Dan sosok Ray ini adalah tipe-tipe yang cukup adventurous untuk masalah makanan. Ngga seperti bule-bule di kantor yang makannya roti, Ray cukup berani mencoba makanan berbumbu dari Indonesia.

Padahal, untuk orang-orang bule yang perutnya lemah dan ngga terbiasa makan makanan berbumbu, makanan Indonesia itu bakal bikin mencret.

After mexican food

Ray, this is your asshole after Indonesian food

 

Dan ternyata, si Ray ini telah mendengar nama besar rendang sebagai makanan terlezat di dunia. Ya, rendang adalah makanan terlezat di dunia berdasarkan voting CNNGo. Kita patut berbangga, karena masakan Indonesia bisa menempati nomor 1 dan 2 di list ini. Rendang dan Nasi Goreng bercokol diurutan teratas.

Mungkin yang ngirim vote adalah orang-orang Indonesia sendiri, tapi bodo amat, yang penting we got the title.

Si Ray pun ingin sekali mencoba rendang sebelum dia balik ke Texas. Gue pun bersikeras untuk mengajak Ray nyobain masakan padang. Karena gak mungkin gue ajak si Ray ke restoran padang pinggir jalan, kita semua setuju untuk ngajak di Ray makan di Pagi Sore. Salah satu restoran padang kesukaan gue.

Gue duduk didepan Ray.

Sebagai warga negara Indonesia yang taat pajak, gue merasa memiliki kewajiban untuk menuntun Ray dalam melewati makanan padang pertamanya.

Ini adalah suatu langkah besar dalam hidup Ray, yang mungkin bakal menentukan apakah Ray akan menyukai Indonesia atau tidak. Kalo Ray suka masakan padang, Ray akan suka Indonesia, dan dia pasti akan mempromosikan Indonesia di majelis taklim nya di Texas sana.

Orang akan berbondong-bondong datang ke Indonesia. Dan akan menghasilkan devisa. Ini masalah serius. Ministry of tourism should pay me for this :D

Begitu duduk, dia udah mulai keheranan dengan metode makan dihidang di meja ala restoran padang.

“So, all the food will be served in the table?”  tanya si Ray

“Yes Ray, you can choose whatever you want.”  kata gue menjelaskan.

Dan ternyata ini penjelasan yang salah sodara-sodara. Ray nyobain semua makanan yang diliatnya, tapi ga diabisin. Tempe di potong dikit, rendang dibelah dua, tahu dicomot satu. Tanpa tau kalo berapa pun yang diambilnya, itu akan dihitung 1 porsi.

“Siap-siap bangkrut Ray” kata gue dalam hati. Muahahahaha

Melihat gue dan temen-temen tim yang lain makan make tangan, membuat Ray mencoba makan dengan tangannya (iya lah? masa pake tangan gue? mesra amat?). Ia meletakkan sendok yang telah digunakan sebelumnya dan mulai menggunakan tangannya.

Agak aneh ngeliatnya, ngeliat bule segede bagong, mencoba makan make tangan, tapi gue seneng melihat betapa Ray mencoba menghormati budaya Indonesia. Ya, makan makanan padang make tangan itu wajib hukumnya. Shame on you guys if you don’t!

Ray pun mulai belepotan makan make tangan. Agak risik dia kayaknya mengaduk-aduk nasi dan kuah kari dengan tangan. Bentar-bentar dia ngambil tisu buat ngebersihin tangannya.

Makan ama Ray, membuat gue menyadari satu hal. Menu masakan padang sangat susah jika diubah ke bahasa Inggris

Ray berulang kali menanyakan nama makanan yang penampakannya agak ajaib.

“What is this?” tanya Ray penasaran

“Hmmm, that is brain Ray” kata gue menjelaskan

“Like brain..brain?” tanya Ray sambil nunjuk kepalanya.

“Yes.”

“Uhhhh..okay”

“You should try that Ray. Like in Fear Factor.” kata gue

“.….” dan Ray pun mulai merasa ia makan dengan orang yang salah.

5 menit kemudian :

“And what is that?” tanya Ray lagi nunjuk piring berisi kikil

“Hmmm, that is…cow skin ray” kata gue bingung mencari bahasa inggris untuk kikil.

“Okay. Let me try that” kata si Ray ingin mencoba. Rupanya Ray cukup berani mencoba kulit sapi.

Setelah mencoba kikil, Ray kembali bertanya

“What is that?” kata Ray sambil nunjuk paru.

“Hmmm..that’s lung. Fried Lung” kata gue

“We eat everything in here, brain, lung, skin, tounge.” kata temen gue tanpa menyadari bahwa kalimat itu membuat kami mirip Sumanto.

Ray cuma tersenyum menyadari bahwa dia sedang makan bersama sekelompok kanibal. Postur tubuh Ray yang gempal, membuatnya khawatir kami akan memakannya.

“Hmmm, your fat ass is looking good Ray”  kata gue sambil mengunyah pantat kirinya

Pertanyaan pamungkas yang membuat gue garuk-garuk kepala adalah ketika dia nunjuk suatu mangkuk berisi ayam putih berlapis santan dengan sambalnya yang khas.

“What is that?”

“Errrr…that is chicken pop Ray. Chiken pop”

“chicken pop is a chicken cooked with santan..mampus bahasa inggrisnya santan apaan?” gue pusing.

“cooked with coconut milk ray” kata gue asal ngomong.

Arrgghhh…

Seharusnya departemen pariwisata bikin buku “Indonesian Food for Dummies”. Jadi orang-orang semacam Ray bisa mendapatkan informasi tentang makanan khas Indonesia.

Pada akhirnya gue nanya ama Ray setelah selesai makan.

“Which one is your favorite Ray?”

“The rendang is good. I love the meat with the spicy soup (Kari kambing maksud), it taste great. And I love that tofu and man..dowen?”

“……….”

“mendoan Ray…mendoan”  kata gue menjelaskan.

“Yes, the mendowen. I love that.” kata Ray bersemangat.

Mendengar pengakuan Ray, gue merasa tugas gue sebagai duta kuliner Indonesia telah selesai.