Pernah nyadar gak sih betapa dunia semakin cepat berubah. Jangan ambil time span yang terlalu jauh deh, cukup 5-10 tahun kebelakang. Maka akan terasa sekali perbedaannya.

Perbedaan yang muncul terhadap perilaku manusia dalam hal membuktikan eksistensinya. Ada pergeseran trend yang terjadi.

Dimana dulu foto cuma bisa dilihat oleh orang-orang terdekat, sekarang dengan sengaja diupload ke facebook dan dibagi ke dunia maya.

Dan kejadian sehari-hari cuma ditulis di diary bergembok yang disimpan dalam lemari, kini dengan senang hati ditulis di blog dan dikomentari oleh orang-orang asing.

Orang cenderung tidak ragu lagi untuk membagi sesuatu yang dulunya bersifat pribadi menjadi publik.

Tujuannya apa? Berbagi pengetahuan, cerita atau sekedar mencari eksistensi.

Kini tingkat eksistensi seseorang salah satunya diukur dari keaktifan social media. Dimulai dari munculnya Friendster, era Facebook, Youtube, LinkedIn dan kini Twitter.

Dunia maya adalah tempat yang cocok untuk membuktikan eksistensi diri, dimana hampir tidak ada batasan untuk menjadi diri sendiri atau ‘menyamar’ menjadi orang lain. Mengenal orang lain, mencari hubungan dan kadang membentuk komunitas.

Aristoteles kan bilang, ‘Manusia adalah makhluk sosial’. Ada kebutuhan untuk bersosialisasi dengan orang lain. Keinginan untuk bersosialisasi inilah yang  membuat manusia mencari cara untuk berhubungan dengan orang lain. Dulu dengan berbicara secara langsung, kini cukup dengan chatting di dunia maya. Dulu dengan surat, kini dengan e-mail. Terjadi perubahan disini.

Teknologi telah memudahkan dalam proses pencarian teman dan mungkin pencarian jodoh. Cukup dengan menekan beberapa tombol, kita sudah terhubung dengan seseorang. Bisa chatting, menulis pesan, mengupload foto dan video, hingga berkomentar di blog orang lain.

Teknologi yang semakin mudah ini telah menciptakan generasi digital. Generasi yang cenderung narsis, multi tasking dan partisipatif.

Perubahan ini yang bikin kita berubah dari yang awalnya terjadi secara manual, kini berubah menjadi lebih digital.

Fenomenanya bisa kita lihat dari munculnya generasi alay, mulai bangkitnya online shopping, hingga social media movement, baik itu di Facebook dan di twitter.

Masih jelas banget diingatan kita mengenai “Gerakan 1 juta Facebookers Dukung Bibit Chandra” atau gerakan #KoinPrita di twitter.

Teknologi dan social media telah mengubah cara orang berpikir dan cara untuk menyuarakan sesuatu. Yang pada akhirnya berdampak pada popularitas.

Mulai dari Gamaliel dan Audrey, kakak beradik bersuara emas yang mengupload video menyanyi mereka ke Youtube,

Shinta dan Jojo yang lipsync Keong Racun, hingga Briptu Norman yang terkenal karena joget Indianya.

Mereka semua muncul dari internet, dimana tingkah laku unik yang mereka kerjakan menjadi bahan perbincangan dan meledak di dunia maya.

Teknologi seakan mempermudah semuanya.

Kalo menurut gue, eksis di Internet sebenarnya ngga susah. Tinggal tentukan media yang cocok, dan berkreasilah. Do it digitally and continuously. Money will follows. Secara garis besar ada beberapa hal yang bisa dilakukan di dunia maya.

  1. Bikin blog. Mulailah untuk rutin menulis. Mulai dari hal-hal kecil seperti kejadian sehari-hari hingga mereview sesuatu. Beri nilai tambah didalam tulisan-tulisannya, baik itu informasi baru atau humor yang terselip didalamnya. Bentuk market niche (relung pasar) yang pas. Contoh : raditya dika dengan blog lucunya atau Trinity Traveler dengan blog travelingnya.
  2. Eksis di microblogging twitter. Rutin ngetwit dengan tema tertentu. Bentuk branding yang pas. Inget kan sama akun @poconggg yang identik dengan image hantu jomblo nan galau? Ikon ini cocok untuk para abege yang labil dan energik. Tentukan image yang cocok buat diri lo, dan mulailah personal branding yang sesuai.
  3. Upload video di Youtube. Jago ngelucu? Bikin video dan buktikan diri kamu. Jago alat musik? mainkan dan simpan ke Youtube. Bagi bakatmu di dunia maya.
  4. Bikin gerakan yang mempunyai efek luas dan bisa dicontoh, Contohnya gerakan ‘blood for life’ atau “Indonesia Berkebun” yang muncul di twitter. Media sosial juga bisa berdampak positif lho.
  5. Bentuk komunitas, contohnya “Kopdar Jakarta” atau “Juventini Indonesia”. Dengan komunitas seperti ini, sponsor yang akan datang akan lebih mudah mengidentifikasi pangsa pasarnya dan mencari event yang sesuai dengan strategi marketingnya. Pesta Blogger misalnya menjadi ajang yang efektif bagi para penggiat blog dan industri yang terkait didalamnya.
  6. Gunakan media sosial untuk mempromosikan bisnis offline yang anda punya. Punya butik atau distro? Bikin facebook pagenya. Ajak orang lain untuk bergabung, mulailah dari teman-teman terdekat anda.

 

Penetrasi internet di Indonesia akan semakin tumbuh kedepannya. Kini, ada sekitar 180 juta ponsel yang dipakai pelanggan Indonesia, dan 50% diantaranya bisa mengakses internet. Hal ini akan menjadi tantangan dan peluang bagi kaum muda Indonesia. Generasi yang melek teknologi. Generasi yang disebut Rhenald Kasali sebagai native technology.

Peluang ini sudah ditangkap oleh beberapa operator telekomunikasi di Indonesia, salah satunya AXIS. Biaya internet murah dari AXIS semakin memudahkan kita untuk menikmati akses internet. Teknologi mobile internet semakin memanjakan kaum muda Indonesia untuk membuktikan eksistensi diri.

Mulai dari sekedar untuk mengupdate status, memposting sebuah tulisan, meng-upload foto, hingga melakukan jual beli online.

Jadikan ini sebagai sebuah baru loncatan bagi generasi muda Indonesia. Untuk menjadi generasi melek teknologi, generasi yang kreatif, generasi bisa kita sebut generasi digital.

Selamat datang di dunia tanpa batas.