Lima belas April telah datang lagi.

Seperti halnya tulisan tahun lalu, gue sepertinya merasa wajib untuk kembali menuliskan postingan khusus ulang tahun. Sebagai sebuah landmark dimana gue bisa melewati sebuah angka dalam hidup.

Lima belas april dua ribu empat belas.

Seperempat abad telah berhasil gue lewati, dan sekarang sepertinya gue sudah layak menuliskan apa yang dimaksud dengan quarter life crisis versi gue.

Sebelumnya gue sama sekali tidak percaya dengan yang namanya quarter life crisis.

“Apa itu quarter life crisis?! Cuma jualannya majalah dan psikologi murahan.”

Tapi ketika menginjak umur dua puluh lima, akhirnya gue percaya kalau fase itu memang ada.

Menurut gue, quarter life crisis adalah masa dimana lo harus banyak mengambil keputusan. Masa dimana lo tidak terlalu tua, tapi tidak bisa lagi dibilang muda.

Quarter life crisis itu adalah fase dimana lo mencari apa tujuan hidup. Karena biasanya, di umur dua puluh lima, semua hal yang mendasar udah bisa terpenuhi. Kuliah udah selesai, kerjaan udah mulai stabil, kedewasaan sudah mulai tumbuh.

Momen dimana lo bertanya kepada diri lo sendiri dan bertanya : What’s next?

Kondisi dimana lo harusnya sudah mendaki level berikutnya dari segitiga Maslow. Bukan hanya diam di dalam sebuah kenyamanan yang menghanyutkan.

Where are you right now?

Where are you right now?

 

Kondisi ini semakin diperparah dengan adanya peer pressure yang muncul secara konstan. Hal-hal sepele dari lingkungan sekitar atau sekadar muncul dari lingkaran pertemanan.

Si A sudah menikah. Si B sudah memiliki rumah. Si C sudah naik haji bersama tukang bubur. Dan hal-hal lainnya yang sebenarnya gak layak untuk dijadikan sebagai pembanding.

Situasi ini semakin mengaburkan apa yang sebenarnya yang kita inginkan. Kecemasan yang muncul berbarengan dengan rasionalisasi-rasionalisasi yang sebenarnya tidak masuk akal.

Di umur dua puluh lima, gue menghabiskan banyak sekali waktu untuk berpikir dan kembali menyusun prioritas hidup. Merefleksikan ke belakang apa yang sudah gue lakukan dan apa yang harus gue lakukan.

Hingga akhirnya, gue kembali bisa berpikir jernih tanpa terdistori keinginan dan ekspektasi orang lain. Mencoba untuk hidup lebih bahagia dan berhenti memikirkan “bagaimana jika..”

Mengucapkan selamat tinggal kepada orang-orang yang memutuskan untuk pergi. Serta mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang tetap setia menemani.

Life beat the shit out of me in my twenty five. Knocked me down to my knees but at the same time filled me up with new energy.

Di umur dua puluh enam, gue hanya meminta kedewasaan. Dalam bersikap, berpikir dan bertindak. Berharap gue masih diberi kesehatan agar tetap bisa bekerja dan hidup dengan normal.

Diberikan kreativitas untuk tetap berbagi, bercerita sambil berusaha menginspirasi.

Dan diberikan semangat dan nyala api untuk terus berusaha meraih mimpi.

Dua puluh enam tahun yang lalu, seorang bayi laki-laki lahir ke dunia.

Dua puluh enam tahun kemudian, laki-laki itu sudah mendewasa.

 

Bring it on twenty six!