Seperti pria normal pada umumnya, gue selalu meletakkan dompet gue di kantung celana di belakang. Bagi kalian para wanita yang membaca tulisan ini, gue kasi tau satu hal.

Hal ini lazim dilakukan dalam dunia pria. Karena akan sedikit aneh jika pria mengapit dompetnya di ketiak, kami akan terlihat seperti emak-emak yang mau pergi ke pasar.

Jadi, menurut gue, letak dompet itu di pantat.

Makanya gue cenderung kurang setuju dengan harga dompet yang terlalu mahal.

Pernah waktu gue pengen beli dompet di Pasific Place, gue ngeliat dompet harganya 5 juta rupiah.

Lima juta rupiah!

Dan gue mendadak mikir, ketika gue punya semahal itu, dompetnya ga akan gue kantongin. Gue bakal kalungin di leher!

Percuma beli dompet mahal-mahal kalo cuma ditaro di pantat.

Hal yang sama akan terjadi jika gue di rampok.

Gue bakal bilang ke rampoknya dengan muka memelas.

“Tolong mas, balikin dompetnya mas. Isinya ambil aja, tapi dompetnya dibalikin ya?”

Dompetnya lebih mahal dari isinya.

Jadi, sudah menjadi kodrat dompet kalo letaknya itu di pantat.

Meskipun jujur, ga enak rasanya menduduki dompet sambil kerja. Pantat gue terasa tebal sebelah.

Akibat kebiasaan buruk ini, beberapa kali gue harus mengganti kartu atm gue yang patah akibat terlalu sering diduduki.

Gue menyadari hal ini salah, dan akhirnya gue memutuskan untuk meletakkan dompet gue di atas meja, ketika gue di kantor.

Tergeletak pasrah di atas meja. Tanpa takut akan hilang, karena memang isinya tidak seberapa.

Dan hal yang aneh terjadi siang ini.

Seorang teman kerja berkata ketika melintas di depan cubicle gue.

“Buset ta, dompet lo tebel amat?”

Karena gue gak tau berapa standar nasional ketebalan dompet, gue langsung mengecek kembali isi dompet gue.

Karena ga mungkin isinya uang. Uang gue, selalu gue simpan di bawah bantal.

Setelah gue cek kembali, ternyata benar, isinya kuitansi semua.

Mulai dari kuitansi bukti pengiriman barang, struk atm, struk pembayaran tagihan kartu kredit, beberapa kartu nama, hingga kertas-kertas ga jelas yang bahkan tulisannya sudah pudar.

Ternyata dompet gue sudah berubah dari tempat penyimpan uang menjadi tempat penyimpan sampah.

BantarGebang pindah semua ke dompet gue.

Ntah kapan terakhir kali gue membersihkan dompet itu. Mungkin pas Perang Diponegoro, gue juga ga inget.

Akhirnya gue keluarkan semua struk itu, dan membuang kertas-kertas yang sudah tidak berguna lagi.

Dan ternyata, jumlahnya tidak sedikit. Lumayan kalo dikiloin.

Hingga akhirnya gue membalik sebuah lipatan kulit dari dompet itu. Lipatan yang dilapisi sebuah plastik transparan, yang biasanya menjadi tempat orang menyimpan foto-foto kecil yang gampang dibawa-bawa.

Disana ada empat buah foto kecil, hasil cetakan sebuah photobox di salah satu mall di Bandung.

Foto itu diambil sekitar tahun 2009.

Sudah 3 tahun foto itu disimpan di dompet gue. Terlalu lama, yang bahkan keberadaannya sudah gue lupakan.

Empat buah foto, dengan empat macam pose yang berbeda.

Sepasang wajah yang tersenyum, memeletkan lidah, pose alay, dan pose ‘muka jelek’. Sebuah pose yang memaksa gue untuk diam saja karena muka gue udah jelek dari sananya.

Gue cuma bisa tersenyum melihat sepasang muka yang terlihat sangat bahagia disana.

Kejadian itu masih sangat jelas di ingatan gue, karena itu adalah foto pertama kami sebagai pasangan. Benar-benar pertama. Yang dicetak maupun yang ada di dalam handphone.

Foto ini diambil berbulan-bulan setelah resmi pacaran.

Hal yang agak aneh, karena foto berdua seperti sudah menjadi hal yang wajib bagi orang pacaran. Bahkan ada yang udah foto bareng sebelum pacaran.

Tapi tidak dengan kami.

Setiap kali gue tanya kenapa dia gak mau foto bersama gue, alasannya satu.

Masih malu.

Karena gue sadar diri dan sadar tampang, gue gak pernah memaksakan kehendak gue untuk foto bersama.

Hingga akhirnya gue ga tahan. Gue butuh sesuatu untuk mengobati kangen gue yang mendadak datang di tengah malam. Gue butuh pengakuan sebagai seorang pacar, setelah sekian lama menjomblo. Biar ga disangka hoax oleh temen-temen gue.

Dan pengakuan paling sederhana itu adalah foto berdua.

Dan sore itu, ketika melintasi sebuah booth photobox, gue tarik tangannya untuk masuk. Sambil nyubitin lengan gue, dia menolak. Tapi tekad gue sudah bulat. Harus ada foto hari ini. Dan tampaknya dia mulai luluh.

Akhirnya dia nurut masuk kedalam photobox. Duduk bersebelahan dengan gue. Sebuah layar kecil tersedia didalam ruangan sempit itu, dimana kita bisa memilih background dan menata gaya sebelum siap untuk difoto.

Sambil misuh-misuh, dia mengatur posisi. Gue mengatur tampang.

Lubang hidung gue tahan agar tidak terlalu kembang kempis kegirangan.

Dia yang mengatur gayanya, gue sih nurut layaknya kerbau dicucuk hidung. Karena menurut gue, gaya ngga penting, yang penting foto bareng. Lagipula, keaktifannya membuktikan kalo dia juga sebenarnya ingin foto bersama gue. Hanya mungkin dia terlalu malu untuk mengungkapkannya.

Dan buat gue pribadi, ini adalah photobox moment pertama sejak kecil. Sebelumnya belum pernah gue foto di dalam photobox. Maklum, anak desa. Dan moment photobox pertama dengan orang yang spesial, membuat gue sangat bersemangat.

Setelah beberapa rencana pose yang gagal, tawa renyah karena salah gaya, lengan yang memerah akibat dicubitin terus menerus.

Empat foto itu sudah selesai.

Tercetak dalam kertas foto glossy warna warni.

Empat buah foto berdua yang berbeda gaya.

Empat buah foto pertama kami.

Empat foto yang tersimpan di dompet gue, hingga kini.

Dan gue belum pernah foto di dalam photobox lagi sejak saat itu.

Sekarang, di tangan gue ada empat lembar foto..

Berisi sepasang manusia yang pernah tersenyum bersama, yang kini sudah mengambil jalan yang berbeda.

Mungkin sudah saatnya foto itu di keluarkan dari dalam dompet.

Bersama struk-struk tagihan yang sudah tidak lagi berguna.