Gue kadang kangen menjadi anak kecil lagi.

Masa di mana kehidupan tampak berjalan lebih sederhana. Waktu gue kecil dulu, gue memiliki satu doa yang aneh. Doa yang kalo gue pikirin sekarang sebagai orang dewasa, terlihat sangat bodoh dan tolol.

Doa gue dulu adalah : “Supaya ayam peliharaan gue gak botak”.

Dari sekian banyak doa yang bisa gue minta kepada Allah seperti :

1. Jadikan gue pintar dan ranking satu di kelas

2. Berikan kesehatan untuk gue dan keluarga.

3. Berikan gue ketabahan karena dikaruniai cobaan berupa wajah tampan ini.

Gue malah meminta supaya ayam gue gak botak. Super jenius!

Awal cerita doa yang aneh ini sebenarnya biasa saja.

Keluarga gue memang ramah dengan binatang. Gue dulu memiliki dua ekor kucing yang bernama Jessy dan Tua Bangka. Jessy adalah kucing kampung normal dan sementara Tua Bangka adalah kucing yang…ehm cukup tua tapi tidak kunjung mati sehingga dia mendapatkan nama legendaris itu.

Selain dua ekor kucing itu, gue juga suka memelihara ayam. Bukan, ini bukan ayam kampus tapi hewan unggas yang biasa dijadikan hewan ternak.

Dulu, nyokap gue akan membeli beberapa anak ayam yang baru berumur 1-2 hari dari pasar dan memberikannya kepada gue untuk merawatnya.

 

Entah apa tujuannya. Mungkin untuk melatih gue supaya memiliki rasa mengasihi terhadap binatang atau memang nyokap memang mengarahkan gue untuk menjadi perternak ulung.

Jadi ketika anak kecil lainnya dibelikan Sega atau sepatu roda, nyokap membelikan gue…ayam.

Tapi apapun alasannya, keputusan nyokap gue membelikan ayam ini terbukti tepat. Entah menurun dari siapa, karena setau gue gak ada di silsilah keluarga yang berprofesi sebagai peternak, gue sangat berbakat dalam memelihara ayam.

Anak ayam berwarna kuning itu akan gue pelihara dengan penuh cinta kasih dari mulai berbentuk bayi ayam hingga besar dan mendapat ijasah sarjana.

Kalau perlu, akan gue ajarin bikin CV biar dapet kerja dan bisa bantu-bantu keuangan keluarga.

Trik untuk memelihara ayam ini sebenarnya cukup mudah, cukup beli pakan ternak kiloan di pasar dan kasi mereka makan sehari sekali biar irit. Sisanya, biarkan mereka mencari makan sendiri dengan mengorek-ngorek tempat sampah atau makan cacing di pekarangan.

Iya, ayam gue emang agak gelandangan.

Kadang, setelah gue makan siang, gue akan mengambil nasi sisa di piring gue dan memberikannya kepada ayam-ayam itu. Termasuk di dalamnya tulang-tulang ayam goreng yang menjadi lauk gue tadi. Gue memang mengajarkan prinsip kanibalisme terhadap ayam-ayam gue.

Dan kadang, ketika ayam gue ada yang demam (serius, ayam juga bisa sakit), gue akan membelikan bodrex dan menyuapkannya kepada mereka. Bodrex ternyata ampuh dalam mengobati demam ayam (if there’s such thing) tanpa menyebabkan kantuk, sehingga ayam-ayam gue bisa beraktivitas dengan normal sesudah minum obat.

Terima kasih Dede Yusuf!

Ketulusan gue dalam memelihara ayam sedikit terganggu melihat tumbuh kembangnya ayam tetangga. Ini serius, jangan ketawa!

Di saat gue membesarkan ayam-ayam yang masih puber itu dengan penuh cinta kasih, gue sedikit khawatir melihat ayam peliharaan tetangga gue.

Ayam tetangga gue yang lebih dewasa cendung lebih berantakan. Entah karena keseringan berantem dengan ayam lain atau memang ada hama ayam yang khusus menyerang bulu, ayam tetangga gue ini jelek sekali.

Bulunya rontok hampir botak. Di beberapa bagian, kulit ayam itu bisa terlihat karena hampir tidak ada bulu yang bisa menutupinya. Mungkin di kalangan ayam-ayam sekitar kompleks, ayam tetangga gue ini adalah ayam preman.

Karena rumah kami yang bersebelahan, ayam gue dan ayam tetangga gue sering berkumpul bersama untuk mencari makan.

Gue, sebagai pemelihara ayam baik-baik, takut kalau ayam tetangga gue ini akan memberikan pengaruh buruk buat ayam gue. Mulai dari merokok hingga nongkrong-nongkrong gak jelas.

Kalau mereka nongkrongnya di sevel, gue sebagai tuan akan kecewa karena akan susah mendapatkan pekerjaan padahal udah gue ajarin bikin CV.

Intinya, gue dengan gampangnya bisa melihat ayam tetangga gue yang lebih gede sebagai bahan perbandingan dalam memelihara ayam.

Karena ayam kami tumbuh di lingkungan yang sama, makan dari daerah yang sama, gue benar-benar khawatir terhadap tumbuhnya bulu ayam gue. Karena sudah pasrah dan tidak tau harus berbuat apa, maka tidak ada cara lain yang bisa gue lakukan selain berdoa.

Doa aneh yang sederhana.

Sebuah doa yang bodoh yang gue lafalkan setiap kali selesai shalat wajib.

“Ya Allah, biarkan ayam-ayam hamba tumbuh dengan bulu yang sempurna dan tidak botak. Aamiin.”

Doa ini gue ucapkan setiap selesai shalat wajib selama hampir setahun. Serius.

Pada akhirnya, ayam-ayam gue memang bisa tumbuh dengan bulu yang sempurna. Dan di umur yang cukup, kami potong semua ayam itu untuk dimakan bersama-sama.

Gue memang sempat sedih melihat ayam itu disembelih. Hasil kerja keras dan cinta kasih gue selama beberapa bulan harus berakhir di tajamnya pisau gue sendiri.

Tapi setelah ayam itu berubah bentuk menjadi potongan ayam goreng yang tersaji di meja, semua kesedihan itu lenyap tak bersisa.

***

Sekarang setiap kali melihat ayam yang gue makan, kadang berpikir bagaimana ayam ini dipelihara? Apakah bulunya tumbuh dengan sempurna? Apakah ada satu anak kecil yang mendoakan hal yang sama seperti apa yang gue lakukan dulu?

Doa aneh sederhana dari seorang anak yang polos dan tidak tau apa-apa.

Mungkin dulu ayam gue tumbuh sempurna bukan karena cara perawatan gue yang baik atau karena bodrex yang rutin gue berikan setiap kali dia demam. Tapi benar-benar karena pengaruh doa yang tulus gue panjatkan.

Kini entah sudah berapa lama gue tidak pernah berdoa seperti itu lagi. Doa tulus yang merupakan perwujudan dari sebuah tindakan putus asa.

Doa yang dilakukan sepenuh hati tanpa pengharapan apapun, tanpa pamrih dan tanpa menuntut balasan. Bukan doa yang egois untuk diri sendiri, yang selama ini biasa gue lakukan.

Kali ini, ingin rasanya gue untuk kembali berdoa. Doa aneh yang sederhana, yang pernah gue lakukan belasan tahun yang lalu.

Karena hanya itu yang bisa gue lakukan saat ini. Meminta kepada Tuhan gue. Tuhan yang sama yang dia panggil dengan cara yang berbeda.

“Ya Allah, lancarkanlah semua urusannya. Tuntunlah setiap langkahnya. Bantulah dia dalam mengambil keputusan-keputusan hidupnya. Lindungilah dia dalam limpahan kasih dan rahmat Mu. Aamiin.”

Iya, itu doa gue saat ini.

Sebuah doa aneh yang sederhana, dari seorang anak lelaki yang kini sudah beranjak dewasa.

 

Untuk Sepatu Kiri, yang akan segera melangkah pergi.