Bayangkan ini dalam imajinasi kalian.

Duduk di dalam sebuah speedboat yang melaju kencang menuju arah matahari yang tenggelam tepat diatas permukaan air laut. Angin sore bertiup sedikit kencang mengeringkan rambut yang tadi basah akibat menyelam. Kacamata hitam yang diturunkan sedikit untuk menghalau sinar matahari di langit sore kemerahan yang tepat berhadapan dengan mata.

Itu bukan adegan film James Bond, itu adalah bagaimana hari pertama gue berakhir di Derawan.

Indonesia sepertinya tidak pernah kehabisan pantai yang memukau mata. Setelah mengunjungi Sabang dan Tanjung Bira, kini giliran Kepulauan Derawan yang menjadi destinasi liburan gue.

I concur!

 

Sekian lama gak naik Garuda Indonesia, perbaikan terlihat jelas dari maskapai pemerintah ini. Mulai dari pesawatnya yang baru, pelayanannya yang premium dan hal-hal kecil seperti musik yang diputar selama di dalam pesawat.

Ya, hal kecil seperti ini yang menjadi favorit gue. Garuda Indonesia memainkan lagu-lagu nasional yang telah diaransemen ulang secara modern sebagai lagu pengantar di dalam kabin. Salah satu upaya yang bagus sekali dalam melestarikan lagu-lagu daerah. Mulai dari Bungong Jeumpa, Manuk Dadali dan Ampar-Ampar Pisang dikemas secara apik dan modern.

Beberapa kali gue bersenandung dalam hati sambil berpikir : “Lagu berikutnya apa ya?”

Satu hal yang tidak berubah dari Garuda Indonesia adalah masalah punctuality alias ketepatan waktu. Berbeda dengan maskapai lokal lain yang sering banget delayed, Garuda Indonesia masih sangat bisa diandalkan dalam hal yang satu ini.

Dari Jakarta, gue terbang ke Under The Board aka Balikpapan, sebelum melanjutkan penerbangan ke Berau.

Dari diskusi gue dengan perwakilan Garuda Indonesia disana, Balikpapan sepertinya telah menjadi tempat transit untuk sebagian besar penerbangan menuju kota-kota lain di Kalimantan, Jawa maupun Sulawesi.

Contohnya penerbangan dari Balikpapan ke Berau yang gue ambil kali ini. Awalnya frekuensi penerbangan ke Berau hanya sekali sehari. Namun karena permintaan yang terus meningkat, penerbangan dari Balikpapan ke Berau kini sudah dua kali sehari menggunakan Garuda Indonesia Bombardier CRJ1000 NextGen. Cakep gak tuh?

Pesawatnya baru tuips, masih bau toko.

 

Jadi gak usah khawatir tentang akses ke Berau menuju ke Derawan.

Dari Bandara Sepinggan di Balikpapan, gue terbang ke Bandara Kalimarau di Berau yang memakan waktu tidak lebih dari satu jam. Untuk bandara tingkat kabupaten, bandara Kalimarau ini bagus banget! Designnya modern dan futuristik. Suatu langkah cerdas untuk mengundang dan mengantisipasi banyaknya wisatawan yang akan datang ke Derawan.

Kalimarau Airport

 

Bagi yang belum tau, Kepulauan Derawan itu terletak di Kabupaten Berau di propinsi Kalimantan Timur. Ada beberapa pulau yang biasanya menjadi tujuan utama yaitu Derawan, Maratua, Sangalaki dan Kakaban.

Pose wajib di setiap bandara.

 

Penginapan, resort dan homestay banyaknya tersedia di Derawan. Jadi begitu mendarat di Tanjung Redeb, Berau, kita melanjutkan perjalanan menggunakan speedboat sekitar 2 jam menuju Pulau Derawan. Ini adalah salah satu mengasyikkan sekaligus menegangkan dalam trip Derawan gue kali ini.

Duduk di depan speedboat yang melaju kencang, membelah sungai hingga akhirnya muncul ke lautan. Pemandangan yang awalnya hutan hujan tropis dan hutan bakau perlahan berganti menjadi laut lepas.

Cakep banget!

Seperti yang digemakan Pandji dalam blog, stand up comedy dan bukunya Nasional.Is.Me (buat kalian yang belum baca buku ini, segera baca deh. Dijual versi cetak dan tersedia dalam bentuk digital gratis di sini), gue berusaha untuk lebih mengenali negeri gue. Dengan mengunjungi pelosok pulau yang mungkin belum ramai dikunjungi. Menjejak tanahnya. Merasakan airnya. Menghirup udaranya.

Karena dengan berusaha mengenalnya, mengunjunginya, bicara dengan orang-orangnya, sense of belonging kita terhadap negara ini semakin terkumpul. Itu hal sederhana yang gue coba lakukan. Dan tanpa sadar, gue semakin mencintai negeri ini.

Kini, langkah kaki gue terhenti di Derawan!

Begitu nyampe di Derawan, rahang gue langsung jatuh ke lante. Derawan itu bagus banget! Resort yang berjejeran di tepi pantai, pasir putih, hingga air laut yang luar biasa jernihnya.

Wooden deck!

Resort in Derawan

 

Dermaga-dermaga kayu berbaris menjadi jembatan menuju ke pantai. Air dibawahnya jernih dan bening, sehingga kita bisa melihat ikan dan, jika beruntung, bisa melihat penyu yang berenang muncul ke permukaan.

Beach please.

 

Buat yang memiliki budget terbatas, ada puluhan homestay di rumah-rumah warga yang bisa disewa. Hanya bermodalkan sekitar tiga ratus ribu rupiah per malamnya, sebuah kamar dengan dua tempat tidur lengkap dengan pendingin ruangan sudah siap untuk ditempati.

Derawan!

 

Untuk makanan pun gak mahal, untuk sekali makan kita tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Banyak sekali rumah makan yang tersedia di pinggir pantai yang menyajikan seafood sebagai sajian utamanya.

Yang mau ke Derawan gak usah bingung. Tinggal buka http://www.garuda-indonesia.com dan langsung pesan tiket ke Derawan.

Garuda Indonesia itu terbang 8x sehari dari Jakarta ke Balikpapan dan 2x sehari dari Balikpapan ke Berau.

Nah, bingung di Derawan mau ngapain aja? Baca di postingan gue ini!