Kita nyampe di Phuket sekitar jam setengah 11 malam,

Dari bandara, kita langsung nyari minibus untuk mengantarkan kita ke hotel didaerah Patong.

Dengan menyeret badan yang sudah sangat lelah akibat bertualang di Bangkok pagi hari tadi, kita masih harus mencari tour untuk mengelilingi Phuket besok harinya.

Untungnya travel minibus yang kita sewa ini juga menyediakan paket tour untuk keliling Phuket.

Kita bertiga sepakat untuk mengambil tour yang ke Maya Bay, Phi Phi Island, tempat syuting film the Beach yang legendaris itu.

Setelah nawar sana sini, akhirnya kita sepakat di harga 1300 bath/ dari awalnya seharga 3000an bath yang tertera di brosur.

Lumayan, the power of bargaining. hehe

Paket yang kita ambil ini adalah yang menggunakan speedboat sehingga nanti kita bisa turun di Maya Bay. Agak mahal sih, tapi paket yang lebih murah itu menggunakan kapal yang lebih besar yang ga bisa merapat di pantai.

Sayang aja kalo cuma ngeliat dari kapal ngga turun langsung.

Urusan paket tour beres, kita langsung cabut ke hotel.

Jam udah menunjukkan pukul 1 dini hari.

Tepar, harus tidur biar bisa ngumpulin tenaga buat besok.

Paginya, kita dijemput menggunakan minibus dari tour agensi yang kita booking tadi malem. Dalam bus, sudah ada beberapa orang bule dan turis dari cina.

Berbeda dengan di Halong Bay, Vietnam yang menggunakan kapal kayu yang klasik, di Phuket kita menggunakan speedboat.

Nyampe disana, kita ngumpul bentar dan dibagi-bagi kedalam beberapa speedboat.

Dan masing-masing kapal dipandu oleh seorang, guess what… a Ladyboy.

Ladyboy dikapal gue ini adalah seorang pria melambai yang berparas seperti Tessy tapi lebih kurus.

Namanya Stephanie. Mungkin kalo lagi ga kerja namanya Bambang. Hahaha

Si Stephanie ini akan menjelaskan rute tour kita, berapa lama kita akan menempuh perjalanan dan hal-hal teknis lainnya.

Dengan gaya ngomongnya yang sangat melambai, bahasa inggris yang pas-pasan, keramahan yang bikin senyum-senyum sendiri, keberadaan ladyboy ini menjadi nilai lebih dari tour kali ini.

Show »

Didalam speedboat ini, kita di bawa ke Maya Bay, Phi Phi island.

Perjalanannya agak lama, sekitar 40 menit kalo ngga salah.

Inilah bagian yang tidak menyenangkan ketika menggunakan tour. Di Maya Bay ini, kita cuma diberikan waktu sekitar 35 menit untuk turun, mandi dan foto2.

Gue lebih memilih buat mengambil beberapa foto saja ketimbang mandi.

Show »

Leonardo di Caprio KW 1 dan KW 9

Satu hal yang agak gue sesalkan adalah bagaimana film The Beach sangat berhasil menjual pantai ini.

Di film yang dibintangi abang gue itu (yang mau muntah, muntah aja, gue udah duluan kok), pantai indah ini digambarkan sangat sepi, like a virgin beach.

Tapi sekarang, kondisinya ibarat pasar ikan. Rame banget. Mirip pantai Kuta.

Show »

Pasar Inpress

Agak kaget aja karena berbeda dengan ekspektasi gue karena yang tergambar di pikiran gue adalah pantai yang sepi di film The Beach.

Dari sana kita dibawa ke beberapa pantai lagi buat snorkeling atau sekedar bersantai di pinggir pantai. Buat bule-bule, ini saatnya berjemur menghitamkan kulit.

Buat gue dan opi yang orang tropis, ini saatnya menjadi dekil berjamaah.

Di Phuket ini gue pertama kalinya snorkeling dan ketagihan.

Gue akan snorkeling lagi suatu saat nanti. Mungkin wakatobi atau di sabang.

Akhirnya, sekitar menjelang sore hari, kita dibawa pulang kembali ke Phuket.

Gue memilih untuk duduk diluar kali ini karena matahari sore yang sudah tidak terlalu ganas lagi dibandingkan dengan tadi pagi saat berangkat.

Dan ternyata itu adalah keputusan tepat.

Duduk di deck speed boat dengan diterpa angin, mengadahkan kepala ke langit biru cerah dan kadang tersembur percikan air laut yang menyegarkan sambil ngobrol bersama traveler dari seluruh dunia.

Membuat gue berpikir, Life is good :)

Setelah balik, mandi dan makan di hotel, abis magrib kita keluar lagi.

Udah di jemput make minibus buat ke Simon Cabaret.

Show »

Simon Cabaret

Jika anda ke Thailand, sempatkan untuk menonton beberapa show seperti ini.

Di Phuket ada dua show yang paling terkenal. Simon Cabaret dan Fantasea. Dari brosurnya, Fantasea lebih terlihat seperti sirkus yang menunjukkan atraksi-atraksi binatang.

Karena itu kita lebih memilih Simon Cabaret karena lebih aneh dan nyentrik.

Simon Cabaret ini adalah pertunjukan cabaret yang dimainkan oleh para waria atau transgender secara sangat professional.

Awalnya sempet takut karena mikirnya ini adalah pertunjukan bencong dan stigma bencong yang ada di kepala gue.

Gue berpikir show ini akan suram, di bangunan yang tua, dan bencong-bencong itu akan bernyanyi manja.

Show »

Siapa gak mau senyum, siap-siap tak cium..

Setelah mengikatkan panci di pantat gue, akhirnya gue memberanikan masuk.

Ternyata dugaan gue salah besar, show ini dikelola sangat professional. Auditoriumnya besar, bersih dan modern. Persis seperti kita ingin menonton bioskop.

Selama 1 setengah jam, kita akan menyaksikan bagaimana para ladyboy ini menari genit dan bernyanyi secara lip sinc mengikuti musik yang dimainkan.

Lucu, segar dan menyenangkan. Sayangnya kamera dan kamera video dilarang selama pertunjukan berlangsung. Jadi foto-foto selama acara ga bisa gue taro disini.

Beberapa diantaranya benar-benar terlihat seperti wanita normal.

Gue merasa takjub bagaimana pintarnya pemerintah Thailand menjadikan para waria ini sebagai sumber devisa penarik wisatawan.

Sementara para waria di Indonesia ngamen di lampu merah, dirazia dan dikejar-kejar satpol PP, waria di Thailand dikelola secara baik dan diberikan keahlian sehingga bisa mencari nafkah secara baik.

Sungguh sangat menghargai perbedaan.

Gue sempet baca kalo 1 dari 11 wanita di Thailand adalah transgender. Jadi, sekitar 9 persen wanita di Thailand dulunya berjakun. hahaha

Selesai acara kita dibolehkan untuk berfoto2 bersama pemain cabaret, dan target gue tentu saja yang paling cantik diantara mereka. Persis seperti personel girlband dari Korea.

Show »

Dulu nama saya Gatot

Show »

Karen (Prapto), Nikita (Husein) dan Maureen (Samsul)

Waktu sudah larut ketika kita nyampe hotel.

Lelah mengarungi pantai-pantai indah di Phuket dan menonton Simon Cabaret semakin berakumulasi.

Thailand memberikan pengalaman menyenangkan (pantai) dan menegangkan (bencong). Pantai yang indah, orang yang ramah, show yang menarik

Membuat gue cuma bisa bilang Kop Khun Kap, Thailand (Thank You, Thailand)

Saatnya balik ke hotel.

Mengumpulkan tenaga buat mengejar penerbangan esok hari.

Negara terakhir, Singapura.