Kita terpaksa bangun pagi-pagi untuk memastikan agar tidak ketinggalan bus yang kita pesen sehari sebelumnya.

Nasip tinggal di hostel backpacker, kamar yang disediakan itu ngga termasuk kamar mandi didalam kamarnya. Kamar mandi yang disediakan ada beberapa dibelakang, yang dipergunakan secara bergantian.

Tapi yang jelas, kamar mandinya bersih dan ga berbau.

Begitu gue keluar kamar, di ruang tv ada bule cewe dengan tanktop minim lagi selonjoran nonton sambil garuk-garuk perutnya.

Tanpa risih sama sekali.

Gue cuma bisa mengucap, Alhamdulillah, rejeki emang ga kemana.hahahaha

Abis  mandi, kita langsung nanya-nanya ke paman pemilik hostel, gimana caranya ke KL Central yang cepat dan murah.

Dia menyarankan supaya kita naek taksi aja.

Oia, paman yang punya hostel ini, masih ada keturunan Surabaya, jadi ngomong bahasa Indonesianya, masih bagus sekali.

Selesai sarapan, kita nyari taksi. Taksi disini rata-rata taksi tua, jarang gitu nemu taksi yang masih bagus kayak taksi burung biru di Jakarta.

Abis nego harga taksi, kita langsung cabut ke KL Central.

Dari KL Central, kita tinggal duduk manis di Bas Pesiaran (Bus Pariwisata) ke Genting. Busnya ini bagus banget, interiornya keren.

Sejauh ini, Bus ke Genting ini salah satu bus terbaik yang pernah gue naiki.

Pemerintah dan pihak swasta di Malaysia sepertinya sangat memerhatikan kualitas pelayanan untuk turis ke objek-objek pariwisata andalannya.

Perjalanan nya sendiri kayak jalan ke daerah Puncak atau Lembang gitu. Mendaki dan menanjak. Ya karena Genting Highland itu literally berada di puncak gunung.

Dan sekelilingnya itu cuma hutan belantara.

Show »

Gengting Highland @Copyright Ni Putu Desinthya

Show »

SkyWay to Genting @Copyright Ni Putu DAA

Genting Highland ini terkenal dengan kasinonya. Tempat orang bisa bebas berjudi tanpa takut diarak massa.

Menurut gue, disinilah letak kepintaran Mahatir Muhammad.

Mungkin dia mikir, daripada perjudian dilarang dan cuma menjadi tindakan kriminal warganya, kenapa ngga dilegalkan saja?

Bikin kasino di antah berantah, jadikan objek wisata, kenakan pajak dan larang orang lokal untuk bermain.

Simbiosis mutualisme.

Untuk mencapai gedung utama di Genting itu, ada dua cara, yang pertama menggunakan bus atau mobil pribadi, yang kedua menggunakan Sky Way atau kereta gantung.

Karena tiket yang kita beli sudah termasuk tiket terusan untuk Sky Way ini, kita ga punya pilihan lain. Lagipula, yang khas dari Genting ini adalah kereta gantungnya.

Waktu yang ditempuh dari bangunan (katakanlah terminal) awal hingga ke Genting Highland ini sekitar 20 menit. Dua puluh menit yang bikin berdecak kagum sekaligus menegangkan.

Kereta gantung di Genting ini adalah kereta gantung tertinggi di dunia dan terpanjang di Asia Tenggara. Bagi orang yang takut ketinggian, gue ga menyarankan untuk menggunakan kereta gantung ini.

Lihat »

Sky Way to Genting

Ketenangan total dari pegunungan, udara dingin, perjalanan menembus kabut, kesunyian aneh yang menyeramkan, benar-benar kombinasi yang aneh sekaligus berharga.

Begitu nyampe disana, kita langsung beli tiket buat wahananya.

Ada dua tempat wahana permainan di Genting, indoor dan outdoor. Karena permainan yang ada di wahana indoor sebagian besar untuk anak kecil, kita memutuskan untuk beli tiket terusan untuk wahana-wahana yang ada diluar.

Karena hujan, kita cuma nyobain 2 permainan, belajar memanah dan semacam permainan mirip hysteria yang ada di Dufan. Tapi karena terletak di puncak gunung, sensasinya agak beda.

Lihat »

Kupanah hati mu #Eaaaaaa

Sky Shot »

hampir ngompol

Permainan lainnya sih standar, lebih bagus permainan-permainan di Dufan malah.

Tapi, pinternya Malaysia adalah, theme park semacam Genting ini dibikin di puncak gunung, jadi udara nya dingin.  Orang bisa bersenang-senang bersama teman-teman atau pacarnya tanpa khawatir menyebar aroma cuka kemana-mana

Lah kita? Dufan dibikin di daerah pantai.

Kebayang kan kalo orang kencan di Dufan. Dari rumah udah ganteng dan wangi, pas di Dufan udah kayak atlet marathon.

Ketek banjir.

Disana, gue sama si opi sempetin masuk ke salah satu kasino. Si putu ga ikut karena dia berjilbab, dia ngerasa ga enak buat masuk.

Yauda, cuma bermodalkan nekat, kita berusaha mengelabui security kasino.

FYI, kasino di Genting cuma menerima orang asing, keturunan India, atau keturunan Cina. Yang berwajah dangdut Melayu kayak gue ga boleh masuk.

Awalnya si opi yang duluan masuk, karena mukanya hitam seperti orang India, cuma dengan mengecek paspornya sebentar, dia diperbolehkan masuk.

Gue panik, berusaha menyari selotip untuk menyipitkan mata gue.

Akhirnya gue pura-pura tenang, dan berusaha masuk dengan siul siul. Tapi tetep aja gue diberhentikan oleh security dan dimintai paspor.

Pas security nya ngeliat paspor gue, di ngelirik sebentar ke gue, senyum sinis lalu menyerahkan kembali paspor ke gue tanda kalau gue boleh masuk.

Mungkin dia mengira tampang gue terlalu susah untuk bisa berjudi didalam. hahahaha.

Bagi kalian pembaca gue yang belom pernah masuk kasino, akan gue kasi gambaran sedikit.

Bentuknya persis kayak yg di film-film God of Gambler. Meja-meja dengan Bandar, wanita-wanita berkeliarang dan nenek-nenek yang setia di slot machine yang berisik.

Sangat sedikit security didalam kasino ini, tapi yang gue sadari adalah begitu banyaknya kamera CCTV yang terpasang. Memantau setiap gerak gerik pengujung.

Mengambil foto dilarang didalam kasino, tapi gue sempet curi-curi jepret dengan kamera di hape gue. Deg-degan setengah mampus buat ngambil foto ini.

Orang yang maen judi, gue yang lemes gemeteran. Hahaha.

Casino »

Casino in Genting,

Abis ngambil foto, kita langsung keluar. Kasian si Putu kelamaan nunggu, dan emang kita ga punya duit buat main disana.

Sehabis cabut dari kasino, kita langsung turun ke bawah lagi, menggunakan Sky Way. Takut ketinggalan bis.

Diperjalanan pulang, kita satu kereta gantung dengan kakek-kakek yang rutin ke Genting. Gue sedikit ngobrol ama dia.

Di bilang, dia tiap hari datang ke Genting buat berjudi, menghabiskan hari tuanya dengan berjudi.

Pas gue tanya, ‘sering menang judi kek?’

“9 dari 10” katanya pelan.

“Wuahhh, 9 dari 10 kali menang??” kata gue kaget. Lumayan nih pikir gue, gue jual diri, gue modalin si kakek ini buat maen judi, hasilnya bagi dua.

“ngga, 9 dari 1o itu kalah” kata dia cengengesan.

Gue cuma bisa mesem-mesem..

Balik dari sana, kita istirahat sejenak di hotel.

Sehabis magrib, Aska, temennya Putu, ngajakin keluar nyari makan. Aska ini sudah lebih dari 5 tahun tinggal di Kuala Lumpur.

Kita diajak makan di Bukit Ampang, agak jauh sih dari Kuala Lumpur. Tapi pemandangannya setimpal. Bukit Ampang ini seperti daerah Dago Atas di Bandung.

Dari café di Bukit Ampang ini, pemandangan malam kota di Kuala Lumpur terlihat jelas. Menara Petronas dan KL Towernya menjadi icon tersendiri di malam itu.

Sehabis makan malam, Aska ngajakin kita ke PutraJaya, pusat pemerintahan Malaysia.

Malaysia, seperti halnya banyak negara maju lainnya, memisahkan pusat ekonomi dan pemerintahan mereka.

Tujuannya selain pemerataan pembangunan, juga mengurangi beban Kuala Lumpur.

Ketika mengunjungi Putrajaya, cuma satu kata yang bisa terucap dari mulut gue, Luar Biasa!

Putrajaya at night

Aska bercerita mengenai Putrajaya yang dulunya cuma rawa tempat jin buang anak. Sekarang menjadi kota mandiri yang sangat rapid dan modern.

Semua kantor pemerintahan ada disini. Istana perdana mentri, departemen-departemen kementrian, hingga dinas-dinas terkait.

Tapi yang lebih membuat decak kagum, daerah sepenting ini, minim sekali polisi yang gue jumpai. Karena semua keamanannya terpantau rapi dari CCTV yang bertebaran dimana-mana.

Melihat  Kuala Lumpur dan Putrajaya mau ga mau membuat gue berpikir mengenai Jakarta. Pusat pemerintahan dan pusat bisnis dalam kota yang sama.

Gue sangat setuju dengan pemindahan pusat pemerintahan. Pindahkan semua departemen-departemen ke daerah, agar langsung tau masalah apa yang benar tejadi di daerah.

Ngapain kantor pusat kementrian kelautan ada di Jakarta? Pindahkan ke Maluku. Kementrian perdagangan ke Batam. Kementrian pariwisata ke Bali.

Jadi biar tau secara konkrit apa masalah yang dihadapi di lapangan.

Toh, jika ingin konsolidasi ke pemerintahan pusat tinggal telekonfrence? Teknologi udah canggih.

Beban yang begitu berat cuma ditanggung oleh Jakarta.

Sudah saatnya membagi beban itu ke kota-kota lainnya.

Seperti yang dilakukan Malaysia, terhadap Kuala Lumpur dan Putrajaya.

Sehabis foto-foto di Putrajaya, kita langsung cabut karena udah lewat tengah malam. Barang-barang belom dipacking, sementara kita harus cek out besok pagi.

Flight kita selanjutnya ke Hanoi berangkat pagi sekali

Sekian dari Malaysia,

Next stop,

Hanoi, Vietnam!!