Gue adalah anak yang tumbuh dan besar di Aceh. Propinsi yang dikenal sebagai daerah istimewa di Indonesia. Propinsi yang disebut-sebut sebagai Serambi Mekah. Dan merupakan daerah dimana ketika shalat jum’at sedang berlangsung, jalanan bisa sepi untuk sementara.

Sebagian besar teman gue di Aceh adalah muslim, baik itu yang muslim taat ampe sekedar muslim KTP.  Proporsi nya hampir 99%.

Suasana yang cenderung homogen yang seperti ini, membuat gue buta tentang agama yang lain.

Kondisi ini sedikit berubah ketika gue kuliah di bandung, kondisi yang sedikit berbeda, membuat gue kaget secara budaya. Kalo orang Jawa bilangnya shock culture.  hehe

Pas awal-awal ke bandung, gue kaget melihat situasi yang jauh berbeda dengan suasana di aceh.

Ngeliat cewe ga pake jilbab, gue ngerasa aneh, ngeliat cewe ngerokok, gue shock, ngeliat cewe-cewe make baju kekecilan gue pingsan. Tapi lingkungan gue di bandung, juga dominan muslim. Teman-teman gue ada yang non muslim, tapi cuma beberapa.

Situasi yang jauh berbeda adalah ketika gue kerja di Jakarta. Di kantor gue, pekerja antara yang muslim dan yang non muslim itu berimbang. Bahkan sepertinya lebih banyak teman-teman gue yang non muslim disini.

Di kantor ini, for the first time in my life, gue punya teman yang beragama budha.

Di kantor ini juga, gue menemukam banyak sekali perbedaan

Dan ketika kita makan siang bareng, perbedaan itu mulai terlihat.

Ketika makanan sudah terhidang didepan gue, tanpa basa basi, biasanya dengan cuma mengucapkan Bismillah (atau kadang lupabahkan) gue langsung menyuap makanan ke dalam mulut.

Berbeda dengan teman gue yang Kristen (baik itu protestan maupun katolik),  sebelum makan, mereka menangkupkan kedua tangannya, menundukkan kepalanya, memejamkan matanya dan berdoa dengan khusyuk.

Kadang gue malu, dan dengan mulut penuh terisi makanan, gue mulai mengulang membaca doa makan.

Dan teman-teman gue yang non muslim ini, selalu membaca doa makan, tidak pernah tidak.

Gue yakin, peran, hal ini sudah di didik dari kecil, sehingga ketika besar, membaca doa sebelum makan menjadi suatu kewajiban.

Gue jadi malu sendiri, gue yang mengaku muslim, yang beragama islam, yang merupakan agama cinta damai, kenapa malas dan sering lupa untuk sekedar membaca sebait ungkapan syukur sebelum makan.

Padahal prosesi itu ngga lebih dari 10 detik saja.

Mungkin ini salah satu sebab kenapa perut gue semakin off side kedepan. Gue ngerasa kurang bersyukur terhadap apa yang gue makan selama ini. Jadi makanan yang masuk ke dalam perut gue menjadi kurang berkah,.

Penasaran, gue mencoba mencari doa sebelum makan bagi teman-teman gue yang beragama Kristen.

Dan ini yang gue dapat : Doa makan bagi orang katolik.

“Ya, Tuhan,
Berkatilah kami dan perjamuan ini,
Yang merupakan bukti kebaikanMu kepada kami,
Berkati juga mereka
Yang telah menyiapkan semuanya ini
Dan berilah kepada saudara-saudara kami
tidak memilikinya.
Amin.”

Dan ini doa sebelum makan dalam ajaran Islam :

“Allahumma baarik llanaa fiima razaqtanaa waqinaa adzaa ban-naar”
Artinya : “Yaa Allah, berkatilah rezeki yang engkau berikan kepada kami, dan peliharalah kami dari siksa api neraka

Lebih singkat kan? Dan keduanya merupakan ungkapan syukur atas makanan yang telah diberikan.

Tapi kenapa gue sering lupa untuk membacanya.

Dan kemarin, waktu gue ke bandung naik travel, disebelah gue duduk seorang bapak tua, keturunan Chinese. Umurnya mungkin sudah 60an.

Di pergelangan tangannya melingkar sebuah gelang, seperti tasbih. Namun dengan biji yang lebih besar seperti kelereng.

Ketika mobil berhenti di rest area, si bapak turun untuk membeli makanan. Waktu itu emang sudah jam makan siang, tapi gue memutuskan untuk menunda makan, dan akan makan siang ketika tiba di bandung saja.

Ketika sudah kembali dengan makanan di tangannya, dan mobil sudah kembali bergerak, si bapak mulai membuka makanannya, dan menawarkannya ke gue. Gue tolak dengan halus, dan mengucapkan terima kasih.

Gue melirik sedikit ke si bapak.

Sebelum dia makan, kembali dia membuat gue malu.

Si bapak menyatukan kedua telapak tangannya, memejamkan matanya, dan membaca doa dengan pelan. Bukan cara orang Kristen menurut gue.

Dan gue, lagi-lagi merasa tersindir.

Dia dengan umurnya yang lebih tua masih sempat untuk mengucapkan syukur sebelum makan didalam sebuah mobil yang melaju kencang dijalan tol.

Gue yang jauh lebih muda, bahkan ketika makan dimeja makan yang tenang saja gue cuma membaca bismillah.

Keadaan ini membuat gue bertekad, mulai saat ini, at least setiap sebelum makan, gue mulai untuk meluangkan waktu sejenak untuk mengucap syukur, mengadahkan tangan gue dan mengucap syukur dan terima kasih atas makanan yang ada buat gue.

Dan gue janji, hal ini akan gue ajarkan ke anak gue nanti.

Saat ini, gue belum sanggup untuk mengangkat anak asuh, menyumbang ke panti asuhan, naik haji, atau jihad ke palestina.  Dan gue belum terlalu suci untuk menceramahi orang dalam hal agama.

Tapi gue bertekad untuk menjalankan ajaran ibadah gue mulai dari hal-hal sepele dan remeh buat sebagian orang. Tapi tentu saja tidak melupakan yang utama seperti shalat fardhu, puasa dan zakat.

Gue berharap, dari hal-hal kecil yang gue lakukan, bisa perlahan-lahan menjadi hal yang lebih besar dan lebih luas pengaruhnya ke orang lain.

Continuous Self Improvement..

Jadi, mari kita mulai dari diri kita sendiri, dengan mulai menularkan ke sekitar kita. Sehingga nanti benar-benar terbentuk umat islam yang santun dan cinta damai.

Sehingga nanti, ketika kita mendengar kabar berita tentang islam dan umat muslim, kita tidak akan lagi cuma mendengar mengenai terorisme, kemiskinan dan ormas-ormas yang mengatasnamakan islam untuk berbuat anarkis.

Jadi, kita mulai dari hal-hal kecil dulu aja yuk?

Maka ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku (QS Al-Baqarah [2]: 152).

anak kecil berdoa

Berdoa

foto gue ambil disini

…….


PS : dalam menulis tulisan ini, gue sangat menghindari kesan riya dan menceramahi. Tapi bagi para pembaca gue yang merasa demikian, gue minta maaf. Bukan itu tujuan tulisan ini.