“Sah?”

“Sah!” beberapa orang saksi sedikit berteriak menjawab pertanyaan penghulu. Beberapa ibu-ibu yang datang juga mengucap hamdalah tanda syukur prosesi ijab kabul yang berjalan lancar tanpa halangan.

Aku dan suamiku (jika kini aku boleh memanggilnya demikian) kemudian menandatangani beberapa surat dan buku nikah yang telah disediakan. Sekarang kami telah resmi menjadi sepasang suami istri yang sah, menurut agama dan hukum yang berlaku di negara ini.

Dari sudut mataku, aku melihat Mama yang menyeka air matanya, melihat anak perempuannya yang kini telah lepas dari tanggungannya. Berpindah menjadi tanggung jawab seorang laki-laki yang kini resmi menjadi menantunya.

Beberapa orang saudara jauh yang mendadak menjadi panitia acara ini kemudian menyuruh kami berdiri sambil memegang buku nikah masing-masing. Tersenyum ke arah kamera yang sudah siap memotret kami berdua.

“Ayo, lebih rapat lagi. Udah halal kok sekarang.” seru ibu-ibu berjilbab ungu yang disambut oleh tawa beberapa orang yang hadir menyaksikan kami. Sebagian besar mukanya tak aku kenali. Entah siapa mereka.

Mungkin mereka adalah saudara dari pihak suamiku, teman-teman kantornya, atau mungkin sekedar kenalan jauh yang datang karena merasa tidak enak telah diundang.

“Bukunya dipegang, ditunjukin ke kamera.” Si ibu berjilbab ungu kembali bersuara. Dia berdiri di sebelah beberapa orang fotografer yang telah siap mengabadikan semuanya.

Aku hanya mengikuti instruksi mereka.

Moncong-moncong kamera yang mengarah kepadaku telah bersiap seperti meriam yang akan memuntahkan kilatan-kilatan cahaya.

Suara riuh rendah mengisi ruangan ini. Ruangan ini seolah berputar.

Orang-orang tertawa-tawa, ramai, saling bercakap-cakap satu sama lain tapi seolah mengabaikanku. Kembali aku melihat Mama yang kini menerima ucapan selamat dari kerabat. Berdiri di sebelah wanita asing yang nanti juga harus kupanggil Mama.

Dan kini, perasaan aneh itu kembali merasuki. Perasaan yang sempat datang beberapa waktu yang lalu. Perasaan ganjil yang muncul mengisi hati dan kini kembali datang tanpa permisi.

Ini adalah hari pernikahanku. Tapi, kenapa aku gak bahagia?

Aku merasa asing di pernikahanku sendiri.

Aku melempar pandangan ke sekeliling ruangan, mencari suamiku yang kini sedang menerima ucapan selamat dari sahabat-sahabatnya. Pria pilihanku itu hampir sempurna. Baik, bertanggung jawab, dan sabar menghadapi semua tingkahku yang mungkin kadang sudah melewati batas.

Tapi kenapa?

Aku yang dari dulu ingin menikah muda, kini malah tak merasa bahagia di hari yang sebenarnya sudah aku bayangkan dari kecil. Perasaan takut yang entah mengapa muncul kembali membuatku ragu. Ucapan-ucapan selamat yang aku terima dari orang-orang yang  tak aku kenal hanya terasa seperti formalitas semata.

Hampa. Dan palsu.

Hanya senyum buatan yang dari tadi aku sajikan untuk orang-orang asing di acara ini. Tanpa ketulusan. Terasa hambar tanpa perasaan.

Apa mungkin karena sikapnya yang selalu mengalah dan mengutamakan kepentinganku membuatku mengabaikannya? Mungkin ini berbeda dengan kebanyakan perempuan lainnya yang ingin mendapatkan laki-laki dewasa yang selalu menuruti keinginan kita.

Tapi tidak denganku. Aku juga ingin melayaninya. Aku juga ingin berkorban untuknya. Bukan hanya diam dan mendapatkan semua yang aku inginkan. Aku ingin hidup dan jatuh cinta!

Apa karena Mamaku yang lebih menyukainya? Desakan-desakan untuk menikah yang terus menerus muncul. Atau sindiran-sindiran halus “nunggu apa lagi sih?” yang kerap datang setiap kali kami bicara. Atau karena “Mama gak enak sama keluarganya” akhirnya menjadi alasanku untuk mengiyakan pertanyaan mereka.

Sebuah kutipan dari novel Rectoverso yang aku ingat di luar kepala kembali muncul dalam ingatan.

“Seseorang semestinya memutuskan bersama orang lain karena menemukan keutuhannya tercermin, bukan ketakutannya akan sepi.”

Sekarang pertanyaannya. Apa aku sudah menemukan keutuhan yang aku cari?

Atau karena ‘dia’, pria lain yang pernah datang lalu pergi dan membuat semuanya tak lagi sama? Dia yang bertahun-tahun pernah ada. Dia yang pernah membuatku menangis dan tertawa. Selera humor dan kreativitasnya pernah membuatku merasa hidup dan bukan hanya merasa sebagai sebuah boneka.

Pria yang suka memberikan kejutan-kejutan kecil yang tak lazim tanpa alasan.

Sepotong cheese cake di hari Selasa, Cheetos rasa jagung bakar sebagai pengganti cokelat untuk hari Valentine yang sebenarnya tak pernah kami rayakan (karena dia tau, aku sesuka itu dengan Cheetos rasa jagung bakar) atau sekedar gantungan kunci berbentuk lumba-lumba yang dia dapatkan secara tak sengaja.

Dia yang pernah membuat hari-hariku berwarna dan mengajarkanku rasanya jatuh cinta. Sebuah cinta yang dulu dikubur karena keadaan yang memaksa. Sebuah cinta yang belum selesai.

“Udah? Itu mobilnya udah siap. Biar bisa langsung ke gedung” kembali ibu berjilbab ungu memberikan instruksi.

“Yuk?” tanya suamiku yang langsung meraih tanganku.

Ingin sekali aku menampik tangannya, namun statusku sebagai seorang istri kini melarangnya. Aku hanya mengangguk, membiarkan tangan ini dipegang meskipun ada perasaan tidak nyaman yang menyelimutinya. Berusaha mengabaikannya, sambil berharap waktu akan menghapus perasaan ini.

Sebuah sedan berpita ternyata telah siap di depan masjid ini. Yang akan membawa kami ke sebuah gedung resepsi yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari sini.

Aku masuk ke jok belakang tepat di sebelah suamiku yang tetap menggenggam tanganku. Dia hanya tersenyum menatapku tanpa berkata apa-apa.

Ini adalah awal baru dari hidupku. Kehidupan yang telah aku pilih dengan segala konsekuensinya.

***

Mobil itu melaju perlahan, keluar dari pekarangan masjid dan memimpin rombongan yang akan mengikuti di belakang. Pekarangan masjid yang tadi ramai perlahan mulai sepi. Seorang pria yang dari tadi diam menyaksikan acara dari jauh pun ikut beranjak dari situ.

Sambil menghela napas, dia masukkan kembali sebuah benda ke dalam saku celananya. Sebuah gantungan kunci lumba-lumba, sebuah pertanda cinta yang belum selesai.