Diumur gue yang sekarang, jatuh cinta menjadi hal yang rumit. Ngga semudah ketika muda dulu.

Dimana jatuh cinta ibarat gayung jamban. (Iya gue emang bego bikin perumpamaan)

Intinya,

Jatuh cinta adalah proses yang simpel. Sederhana.

Lo suka gue? Gue juga suka elo. Mari kita jatuh cinta dan nikmati dunia.

Semuanya semudah itu.

Kalian semua juga pasti pernah merasakannya kan?

Waktu dimana cupid muda datang dan menembakkan panah cintanya kepada kita anak adam dan hawa.

Masa dimana kita menjadi raja dan ratu dunia.

Dan dunia terasa milik berdua.

Sisanya ngekost per bulan.

Pernah kan mengalami masa-masa itu? Atau lagi mengalaminya sekarang?

Tapi yang jelas, dilingkungan gue sekarang, jatuh cinta ngga semudah biasanya.

Banyak sekali kejadian disekeliling gue, yang gue amati belakangan ini sehingga gue bisa bilang, sekarang jatuh cinta menjadi hal yang kompleks.

Mulai dari perbedaan yang muncul ntah darimana, cekcok arah jatuh cinta, target menikah, perbedaan sikap, usia, target finansial, hubungan beda suku atau agama, faktor orang tua, hingga perbedaan-perbedaan yang sebenarnya tidak prinsipil seperti kebiasaaan kecil yang tidak disukainya.

Semuanya bersatu padu untuk melarang mu jatuh cinta.

Cerita-cerita cinta teman-teman gue yang pernah gue dengar, mulai membentuk sebuah hipotesa.

Cerita-cerita yang mungkin, 5 tahun lalu, bahkan tidak akan pernah kita pertimbangkan. Yang keberadaannya mungkin akan kita abaikan.

Ntah apa penyebabnya.

Mungkin seiring dengan bertambahnya usia, membuat kita sadar kalau ada hal-hal lain yang dibutuhkan ketika jatuh cinta.

Komitmen, rasa aman, rasa nyaman, percaya hingga tanggung jawab yang muncul semakin memperumit keadaan.

Tingkat kematangan seseorang menjadi semakin tinggi dan membuat kita semakin menyadari ada pertimbangan lain selain cuma cinta.

Idealisme ala Hollywood yang selama ini tanpa sadar telah terpapar kedalam alam bawah sadar kita, seakan menguap ketika menghadapi masalah-masalah ini.

Coklat, mawar dan kejutan seakan menghilang tak berbekas ketika harus dihadapkan dengan finansial, target, prinsip, dan masa depan.

Akan timbul suatu jarak.

Jarak yang dulu tidak pernah kita sadari, namun kini semakin nyata.

Semakin nyata sehingga bisa kita raba.

Mimpi-mimpi indah yang dulu dirajut bersama, mulai terurai akibat pecah terbentur dinding-dinding realita.

Hingga pada akhirnya membuat gue berpikir, kalo memang…

Cinta saja tidak cukup.

komitmen

kita melihat tujuan yang sama?