Namaku Agus.

Aku asli dari Semarang. Sekarang sudah hampir sebulan tinggal di Jakarta. Setamat SMA, aku langsung bekerja. Membantu keluarga agar adik-adik perempuanku bisa makan dan tetap bisa sekolah. Sebagai pengganti bapak yang sudah tidak ada, aku memang menjadi tulang punggung keluarga.

Tapi semuanya kulakukan tanpa beban, karena kurasa inilah tugas anak pertama. Sejak bulan lalu aku kerja di sini, di sebuah sebuah jalan di Jl. TB Simatupang Jakarta Selatan sebagai tukang bangunan. Dedi, pemuda tetanggaku di Semarang mengajak mengadu nasib di Ibukota.

Ijasah SMA ku tidak laku disini, lagipula memang nilainya tidak ada yang terlalu aku banggakan.

Seminggu pertama di Jakarta kuhabiskan dengan menganggur. Bertanya kesana kemari apakah ada pekerjaan yang bisa aku lakukan. Aku menumpang tidur di kamar kontrakan Dedi, yang lebih tepatnya disebut “kotak tempat tidur” karena ukurannya ya cuma memang muat untuk rebahan.

Akhirnya setelah bertanya kesana kemari, aku diajak tetangganya Dedi untuk bekerja disini. Dengan upah 60.000 rupiah per hari, aku rasa cukup untuk bertahan hidup selama beberapa bulan dan mengirimkan sedikit untuk keluargaku di Semarang.

“Gus, bawain semen!” Mang Edi, mandorku setengah berteriak.

Dia adalah atasanku langsung, diatasnya ada mandor kepala, dan diatasnya lagi ada manager produksi bernama pak Jimmy.

Bangunan ini katanya akan menjadi sebuah gedung perkantoran. Dari spanduknya diluar sih katanya Green Office, aku sebenarnya tidak tau apa bedanya dengan kantor-kantor lainnya.

Kantor ini juga aneh, bangunan setengah jadi ini gak punya lantai empat dan tiga belas. Namanya diganti jadi 3A dan 12A. Aku juga tidak mengerti kenapa. Katanya bosnya pak Jimmy tidak suka angka-angka itu. Bawa sial kata mereka.

“Gus, makan siang dulu.” teriak Mang Edi.

***

Kami biasanya makan siang dengan nasi bungkus yang disedikan oleh pak Jimmy, tapi tidak hari ini. Mang Edi mengajakku makan di sebuah warteg di dekat lokasi konstruksi.

Lokasi warteg itu sedikit berdebu, kotak kaca menyimpan makanannya terlihat kusam. Kondisinya siang ini agak penuh oleh beberapa kuli lain yang belum ku kenal.

Mang Edi langsung menarik bangku kayu panjang untuk meletakkan pantatnya di sana.

“Ayo sini duduk” katanya memerintahkan.

Aku langsung duduk di sebelahnya dan melihat menu yang tersedia.

“Karo telor ama tempe Ni.” kata Mang Edi kepada perempuan muda yang melayani kami.

“Samain aja” gue langsung menyambar ucapan Mang Edi.

“Ni, kenalan dulu. Ini Agus. Gus, ini Marni”

Aku melemparkan senyum kepada Marni. Dan dia membalasnya dengan sederhana. Manis sekali.

Aku hanya bisa membuang muka ke bawah. Aku malu.

***

“Gus, Kemaren ditanyain Marni.” kata Mang Edi.

“Oia? Nanyain apa Mang?” aku penasaran.

“Kok gak pernah makan disana lagi.”

Aku hanya tersenyum simpul sambil mendengarkan ucapan Mang Edi. Sejak makan di warteg terakhir itu, aku memang belum pernah lagi kesana. Makanan untuk kami selalu sudah dibelikan oleh anak buahnya Mang Edi yang lain. Jadi kami bisa langsung kembali bekerja sehabis makan siang.

Pembangunan gedung ini memang sedikit dikebut demi target Pak Jimmy. Target penjualan, efesiensi biaya, acara peresmian dan hal-hal lain yang tidak terlalu aku mengerti.

“Kayaknya Marni suka sama kamu tuh Gus.” lanjut mang Edi usil.

“Hahaha.” Aku hanya bisa tertawa sambil menggenggam potongan besi di tangan. Dengan perkerjaan seperti ini dan upah yang aku terima, sepertinya aku belum siap jatuh cinta.

Tapi entah mengapa, muncul sejumput rasa bahagia mendengar namanya.

***

“Makannya pake apa Mas?” tanya Marni

“Pake telor ama sop bening aja Ni.” kataku sambil menunduk.

Setelah sekian lama, akhirnya aku kembali ke warteg ini. Tanpa Mang Edi yang pergi entah kemana. Sedikit keberanian dari tadi pagi coba aku kumpulkan untuk berani datang kemari.

Helm pengaman berwarna kuning yang kukenakan selama bekerja aku letakkan di atas bangku. Tampak sedikit keringat yang belum kering membekas di dalamnya.

Hanya ada dua orang lain di dalam warteg ini. Sepertinya aku datang sedikit lebih cepat.

“Ini mas.” Kata Marni sambil menyodorkan piring dari atas etalase kaca.

“Minumnya mau apa?” lanjutnya.

“Es teh manis aja.” kataku singkat.

Dia langsung berlalu ke belakang untuk menyiapkan minumanku.

Aku hanya duduk terdiam melihat piring yang ada di depanku. Dan disana, ada tambahan potongan tempe mendoan yang tidak aku pesan.

Sambil membawakan minuman pesananku, Marni tampaknya menyadari ekspresi kebingunganku dan langsung berkata.

“Bonus mas. Dilebihin.” Ujarnya sambil tersenyum. Manis sekali.

“I.iya, makasih.” Aku gelagapan.

“Mang Edi kemana mas?”

“Tadi pergi. Mungkin ngambil material.”

“Ohhhhh…”

Aku hanya menunduk sambil melanjutkan makan. Sesekali aku hanya mencuri pandang ke arah Marni yang sedang menyiapkan makanan tamu yang lain.

Ketika pandangan kami bertemu, aku hanya bisa tersenyum salah tingkah.

Beberapa menit kemudian, aku bangkit berdiri setelah selesai makan.

“Berapa Ni?”

“Sembilan ribu. Mas.”

Aku merogoh kantung celanaku. Berusaha mengambil uang sejumlah yang disebutkan.

“Nih Ni…” kataku sambil menyerahkan uang kepadanya.

“Mari..” kataku kepadanya sambil berusaha tetap tenang. Sejenak sebelum membalikkan badan, aku bisa melihat sedikit raut kecewa di wajahnya ketika aku hendak beranjak pergi.

Dan entah kenapa, raut itu membuatku sedih.

Aku sudah hampir sepenuhnya keluar dari warteg itu ketika perasaan itu muncul. Sambil menimbang-bimbang helm kuning yang ada di tanganku, aku berusaha membuat sebuah keputusan untuk kembali masuk ke dalam.

“Oia Ni. Boleh minta no hp nya?” ujarku tiba-tiba.

Marni melihatku seolah tidak percaya. Tatapan bingungnya hanya sebentar saja dilanjutkan dengan senyum yang terlihat sempurna.

“Boleh!”

***

Malam ini aku tiduran di kontrakan. Pintu kamar sengaja aku buka agar udara bisa mengalir ke dalam. Dari tadi aku tidak melepaskan tanganku dari telepon genggam ini.

Belasan kali sms antara Aku dan Marni telah terjadi. Dan perlahan tapi pasti, ada sebuah rasa yang datang menghampiri.

Sebuah rasa nyaman dan diawali oleh sepotong mendoan.

***

“Gus, tolong naik ke 3A, dinding di sebelah kanannya kayaknya belum kuat. Coba kamu liat dulu. Biar besok bisa kita lanjutin” Ujar Mang Edi kepadaku. Hari menjelang sore. Semua orang tampak sudah bersiap pulang.

Aku menghentikan pekerjaanku sekarang dan langsung menuju ke atas. Tangga beton setengah jadi yang menjadi satu-satunya cara aku naik ke atas.

Entah kenapa, banyak yang sudah teman-temanku yang tidak suka berlama-lama di lantai ini. Lantai 4 yang kini bernama lantai 3A. Kata temenku, angka 4 dalam bahasa Cina itu berarti sial. Karena pengucapannya yang mirip kata shi yang berarti kematian.

Entahlah, aku tidak terlalu percaya.

Aku segera berlalu melihat dinding di tiang penyangga sebelah kanan. Campuran betonnya terlihat hampir mengering dan cukup kuat di mataku. Tinggal kulaporkan ke Mang Edi dan kami akan melanjutkan pekerjaan ini esok hari.

Dari atas lantai empat ini, aku bisa melihat pemandangan Jakarta sore hari yang jarang aku nikmati.

Di bawah, aku bisa melihat puluhan pekerja lain yang berbaris sambil mengisi kartu absen untuk pulang. Aku tampaknya menjadi orang terakhir yang berada di bangunan ini.

Aku melangkah ke pinggir untuk memperjelas penglihatanku. Dari bangunan yang belum berdinding aku kini bisa melihat lebih jelas. Matahari kemerahan yang mulai turun di barat bercampur dengan lampu ekor ribuan kendaraan yang mengular panjang.

Cantik. Seperti Marni.

Dan entah darimana, suara kucing terdengar di telingaku.

Aku membalikkan badan berusaha mencari sumbernya. Di belakangku, terdapat kucing hitam yang menatap tajam. Entah bagaimana dia bisa masuk kesini.

Dan tiba-tiba tiupan angin menggoyangkan rak yang berisi pipa besi yang ada di lantai ini. Beberapa diantaranya terjatuh dan menimbulkan suara yang nyaring sekali. Refleks, aku berusaha mundur ke belakang dan ternyata hanya udara yang aku rasakan.

Badanku oleng kehilangan keseimbangan. Tanganku berusaha menggapai apapun yang bisa aku raih agar bisa menjadi pegangan.

Tapi semuanya sia-sia. Hanya udara yang aku rasakan.

Tubuhku seolah melayang. Berakselerasi cepat ke bawah ditarik oleh gravitasi. Dan mungkin ini lah saatnya. Bayangan ibu dan adik-adikku di Semarang melintas cepat. Kenangan bersama mereka terasa hangat dan tiba-tiba menguap.

Berganti dengan sebuah senyum yang terasa familiar.

Sebuah senyum hangat yang beberapa hari ini rutin aku lihat. Wajah menyenangkan yang datang sambil membawa sebuah benda yang membuatku tersenyum seketika.

Marni dan tempe mendoannya.

Lalu semuanya mendadak gelap.