Kantor gue, terletak di dalam satu kompleks yang sama dengan kantornya Nestle. Tergabung dalam satu kawasan perkantoran yang sama tapi berbeda gedung.

Perusahaan ini termasuk salah satu kantor yang sering banget bikin acara di kantor gue. Biasa, promosi produk-produk baru. Salah satunya adalah Fitnesse Challenge.

Si Nestle ini baru ngeluarin produk baru, namanya Fitnesse. Semacam sereal sehat gitu deh. Nah, demi launching produknya ini ke pasar, dia bikin kompetisi menurunkan berat badan sebagai bagian dari cara promosinya.

Caranya simple, bentuk tim kecil beranggotakan 3 orang untuk umum dan turunkan berat badan sebanyak2nya dalam dua minggu. Setiap anggota tim minimal memiliki Body Mass Index diatas 23 (overweight) baru bisa ikutan. Cara nurunin berat badannya cukup sederhana, makan sereal Fitnesse ini di pagi hari dengan susu low fat, siang makan biasa dengan menu seimbang, dan malamnya makan sereal lagi. Gampang kan?

Temen-temen kantor gue, tahun lalu juga berpartisipasi dalam lomba ini dan mereka berhasil jadi juara dua.  Nah tahun ini, mereka ingin ikutan lagi, pengen mengembalikan kejayaan. Karena satu anggota timnya udah resign, maka diajaklah gue untuk ikutan.

Setelah masa penimbangan, BMI gue ternyata mencukupi. Sekitar 24 koma sekian. Yes, I’m a fat bastard. Dan gue langsung berpikiran, Challenge Accepted! 

Jiwa adventurous gue keluar, meskipun nanti ujungnya gue menyesal, tapi setidaknya bisa jadi tulisan kayak yang pernah gue tulis disini dan disini.

Sesusah apa sih nahan makan selama dua minggu? Toh gue rutin olahraga. Kebetulan posisi perut juga sudah mulai offside, kadar kolesterol dan asam urat yang sudah melebihi batas. Kenapa engga? I can win this shit! YOLO!

Gerombolan Siberat..

Gerombolan Siberat..

 

Maka dimulailah hari-hari penuh perjuangan itu. Hari-hari menahan lapar, sarapan sereal, ngemil pisang atau apel dan makan malam dengan menu sereal yang sama.

Dan gue harus akui, lomba beginian berat banget!

Gue bukanlah penikmat susu (tergantung kemasannya #IfYouKnowWhatIMean), dan gak pernah makan sereal gandum sebelumnya. Maklum, anak kampung, sarapannya paling mewah mie instan atau bubur ayam.

Jadi, lidah gue sama sekali gak terbiasa untuk makan sereal make susu. Eneg.

Di hari-hari pertama dalam minggu ini adalah bagian paling berat. Badan gue masih menolak. Perut gue keroncongan, meminta asupan mecin dan nasi porsi tukang gali. Bahkan beberapa kali akhirnya gue ga tahan, dan lari ke warteg di dekat kosan untuk makan malam.

Tapi begitu mengetahui kalo teman-teman tim gue sangat serius dengan lomba ini, gue ngerasa ga enak. Gue merasa berdosa. Gue gak mau pas penimbangan akhir nanti, di mana berat mereka turun, berat gue malah naik. Offset dong? Gue gak bisa terus kayak gini.

Mau gak mau, gue harus ikutan. Membulatkan tekad demi perut yang lebih baik. For the sake of my team.

Tapi sayang semesta sepertinya kurang mendukung.

Beberapa hari yang lalu, gue harus ikutan training selama seminggu. Dan kalian tau kan, kalau training adalah acara kantor dimana makanan akan berlimpah ruah. Makan siang yang lezat, coffee breaks, dan snacks yang beraneka ragam.

Belum lagi, tawaran Starbucks gratis yang terpaksa gue tolak ketika datang pada saat menjelang sore.

“Lo pesen apa ta? Frappuchino?” tanya senior gue waktu itu.

“Ngga, gue lagi diet” kata gue mantap. Gue pengen menang.

“Cieeee..yang diet” kata mereka menggoda gue.

Gue cuma senyum-senyum sendiri karena kuatnya niat gue kali ini. Tekad gue sudah bulat. Iman gue masih terlalu kuat untuk secangkir kopi Starbucks gratis. Gue merasa diatas angin.

Tapi hal itu berubah ketika seorang helper kantor masuk dan membawa baki berisi snacks ke dalam ruangan. Di atas nampan, terbaring manja kotak-kotak potongan martabak telor Fatmawati yang terkenal itu. Martabak yang harga sebungkusnya 72,000 rupiah.

Ya, tujuh puluh dua ribu rupiah.

Gue gak tau kenapa martabak telor bisa semahal ini? Apakah martabaknya terbuat dari telor burung onta atau bahkan mungkin dari telor abangnya, gue juga gak ngerti. Yang pasti rasanya enak, banget.

Gue bisa menahan godaaan Starbucks, tapi lemah iman ama indahnya potongan martabak telor. Dengan penuh perasaan bersalah, gue ngemil martabak siang itu. Awalnya satu potong, trus dua, berlanjut ke potongan ketiga. Tanpa gue sadari, sudah beberapa potongan martabak gue embat. Gue khilaf. Ngerasa berdosa ama teman-teman gue. Aku lemah.

Jadi ternyata selama ini salah. Kalo wanita lemah kepada harta, pria itu lemah terhadap tahta, wanita dan martabak telor.

Berdasarkan pengalaman ini, gue punya teori bahwa makanan yang enak itu adalah makanan yang ga sehat. You name it! Nasi padang contohnya, itu adalah makanan paling enak sedunia, tapi efeknya bikin bego. Makan nasi padang pas waktu makan siang bisa menimbulkan halusinasi. Kepala jadi menunduk, kelopak mata menjadi seberat paha gajah. Tapi itu yang paling enak.

Dan gue, udah kangen dengan lezatnya mecin dalam nasi padang. Ngidam nasi padang.

Doakan saya teman-teman, semoga bisa bertahan hingga hari penimbangan. *ngemil sereal*