Sudah..maafkan aku..segala salahku..

Dan bila..kau tetap bisu ungkapkan salahmu..

Ada rasa yang aneh muncul ketika suara serak-serak basah si Ariel keluar dari radio mobil. Rasa kangen mungkin.

Ntah kapan terakhir kali aku mendengar lagu ini. Mungkin beberapa tahun yang lalu. Dan kali ini diputar lagi oleh stasiun radio ini. Mungkin karena beberapa hari terakhir,  berita tentang si Ariel yang bebas dari penjara mondar mandir di beberapa portal media di internet.

Ya, sepertinya semua orang tau skandal Ariel. Dan dipenjara, membuatnya makin melegenda. That lucky bastard.

Jari-jari ku mengetuk-ngetuk setir mobil sambil bersenandung kecil menikmati (ya, menikmati, breath the sarcasm my friend.) macet rutin Jakarta sore hari.

Lagu ini mungkin udah ribuan kali aku dengar, tapi baru kali ini aku benar-benar memerhatikan liriknya.

Dan aku..sifatku..dan aku khilafku..

Dan aku.,cintaku..dan aku rinduku.

Seketika pikiranku melayang ke beberapa fakta psikologi yang aku baca di internet beberapa waktu lalu.

“Ketika kita bahagia, kita cenderung akan mendengarkan musiknya. Tapi ketika kita sedih, kita cenderung akan menikmati liriknya.“

Dan tampaknya hal itu benar.

 

“Masa sih udah mau tidur?” begitu bunyi chatting yang kamu kirim waktu itu.

Tepat beberapa saat setelah aku ‘berpamitan’ di twitter.  Ya, twitter memang mengubah cara orang berkenalan. Twitter mengenalkan aku ke kamu. Mulai dari mention yang masuk, kirim-kiriman dm, hingga tukeran no telepon.

Hal-hal yang kita bahas aneh, mulai dari buku, dunia kerja, cerita keluarga kamu, hingga kirim-kiriman foto ga penting. Aku masih ingat ketika kamu mengirimkan foto lenganmu.

Ada kupu-kupu yang kamu gambar sendiri disana. Menggunakan pulpen warna ungu.

Kupu-kupu memang binatang kesukaanmu. Kamu bilang kalau kupu-kupu itu merupakan binatang yang paling keren. Proses metamorfosis yang dilaluinya merupakan proses yang indah.

Bagaimana seekor ulat bulu yang buruk rupa, berubah menjadi kupu-kupu yang indah yang terbang kesana kemari.

Apalagi cerita mu tentang Beyonce dan Jay Z, yang menjadi idolamu. Kau bilang Jay Z adalah pria hebat yang cocok menjadi suami Beyonce. Orang yang hebat yang pantas mendampingi Beyonce tapi tanpa menghilangkan aura kehebatan Beyonce itu sendiri.

Ya, aku mendengarkan itu semua. Meskipun aku tak tau sama sekali tentang Beyonce, Jay Z ataupun lagu-lagu mereka.

Tapi ntah kenapa, aku menikmati semua itu. Ibarat candu, aku suka suara mu. Caramu bercerita menenangkan. Entah kenapa.

Meskipun kadang, cerita-cerita itu menyakiti.

Termasuk cerita tentang pria-pria lain yang juga sedang mendekatimu. Aku tidak suka mendengarnya. Pria tidak suka kompetisi. Apapun bentuknya. Termasuk untuk mendapatkan hatimu.

Tapi aku tidak bisa bilang apa-apa, hanya komentar-komentar singkat yang bisa aku keluarkan. Hanya sekedar untuk mengeluarkan ketidaksukaan ku terhadap topik itu.

 

Kemacetan mulai bergerak. Kendaraan mulai merambat perlahan. Hari jumat, dan bulan puasa sepertinya membuat orang ingin buru-buru pulang, dan menambah kemacetan dari hari biasa.

“Tiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnn”  ke tekan klakson dengan keras ketika sebuah motor menyenggol spion kiri lalu kabur tanpa sedikitpun merasa bersalah.

“Great! Well done.” Sore ini semakin sempurna.

 

“Jangan merengut, kamu nyeremin kalo merengut.” kata kamu waktu itu setiap kali muka ku berkerut.

Malam itu, semua berjalan normal. Kau masih setia dengan ceritamu. Aku setia mendengarkan. Di pojok coffee shop itu, semuanya berjalan biasa. Seperti kencan kita pada umumnya. Jika aku boleh menyebutnya seperti itu.

Hingga di akhir pertemuan itu, kau bicara seolah kita tidak akan bertemu lagi.

“Hati-hati ya? Kamu tuh orang nya baik. Keep it that way. And thank you, for everything.”

And boom, you disappeared.

Puluhan sms tak terbalas,

Telepon yang ga diangkat,

Chatting yang tak terkirim,

Hingga pada akhirnya, aku datang.  Penasaran dengan semua sikap mu. Berusaha untuk memecahkan kode-kode mu. Girls with their codes.

Ingin tau apa penyebabnya. Ingin tau apa jawabannya.

 

“Maybe I just don’t want you!”

And that’s it. Jawaban yang sama sekali ga masuk akal menurutku. Jawaban yang ga masuk akal jika dibandingkan dengan sikap manis mu beberapa waktu lalu.

“Bener-bener udahan ya telepon nya?” kamu bertanya setiap kali percakapan tengah malam kita berhenti.

Dan sekarang, kamu bilang hal itu. You don’t want me? I know exactly that you want me.

Tidak, bukan itu jawabannya.

Kamu takut. Kamu takut mencoba.

If there are 100 steps that set us apart, let me take the 99 steps, and you should take the rest.

Tapi kamu takut, takut melangkah, mungkin dari luka masa lalu yang begitu dalam. Takut kalau kamu akan disakiti lagi. Takut ketika ada benar-benar ada orang yang ingin peduli kepadamu. Yang pada akhirnya, daripada maju, kamu lebih memilih untuk mundur.

Dan aku disini menanggung rasa sakitnya.

Rasa tidak ingin diinginkan, egoisme seorang pria yang mulai merajai.

Disini, aku mencoba melangkah. Dengan harga diri yang sudah berceceran entah kemana. Berusaha memperjuangkanmu. Berusaha untuk berjalan 99 langkah.

Lelah.

Siapa bilang patah hati hanya hak orang yang sudah memiliki?

 

Sudah lupakan semua..segala berubah..

Dan kita terlupa..dan kita terluka..

 

Dan aku..sifatku..dan aku khilafku..

Dan aku..cintaku..dan aku rinduku..

 

Kutanya malam dapatkah kau lihatnya

Perbedaan yang tak terungkapkan

Tapi mengapa kau tak berubah..

Ada apa denganmu?

 

 

Mobil-mobil di depan mulai bergerak, kali ini agak cepat.

Sedikit melongok, aku melihat jalan di depan sudah agak kosong.

Sepertinya macet mulai terurai.

Ku pindahkan perseneling ke gigi satu,

Berusaha bergerak maju.

Perlahan.