cerita tirta

Minyak Babi

Beberapa waktu yang lalu, adek gue bertanya ke gue sepulang sekolah.

“Bang, keefsi digoreng pake minyak babi ya?”

“Hah? Kata siapa?”

“Kata guru di sekolah”

“Nggak ah kayaknya. Nggak mungkin pake minyak babi. Kalau iya, pasti udah heboh se-Indonesia.” kata gue.

Dan beberapa minggu yang lalu, gue juga nanya ke sepupu gue.

“Eh, di sini udah ada JCo belum sih?”

Sejak merantau gue memang kurang mengikuti perkembangan kampung halaman gue ini. Dan setelah 12 tahun merantau, baru kali ini gue menetap cukup lama di rumah. Biasanya gue cuma pulang beberapa hari untuk mudik.

“Udah kok! Tapi emangnya mau beli?” jawab sepupu gue.

“Emang nya kenapa? Lagi pengen makan donat nih.”

“Kan pake minyak babi tuh!”

Gue mengernyit heran. Kenapa… Lanjut ta.. | 13 Comments

Sakit itu tumbuh.

Waktu gue kecil dulu, entah karena punya orangtua yang males menenangkan anaknya atau gimana, gue selalu punya mantra untuk setiap kesakitan yang gue rasakan.

“Kalau sakit itu tumbuh” itu yang diajarkan Bunda.

Mantra ini bisa dipakai di segala kondisi, mulai dari nangis karena kaki kepentok meja hingga kegigit cabe waktu makan Indomie.

Serius.

“Huaaa, Bundaaaaa. Adek kegigit cabe.” kata gue merengek ke Bunda sekali waktu.

“Iya, gpp. Itu tandanya udah mau gede.”

Dan sejak itu, doktrin kuat-makan-cabe-adalah-syarat-untuk-cepat-gede masuk ke dalam otak gue.

Dan untuk seorang anak kecil, yang postur tubuhnya kayak anak kurang gizi, maka ingin cepat tumbuh besar adalah mimpi gue.

Dan sejak saat itu pula, gue suka makan makanan pedas. Rela menahan sensasi terbakar demi ingin tumbuh.

Waktu… Lanjut ta.. | 8 Comments

Dua Puluh Sembilan

Suasana kamar hari ini lebih sepi dari biasanya. PS4 yang baru gue beli, malam ini kehilangan daya tariknya.

Dengan sedikit bersusah payah, tangan kiri gue meraih pegangan kursi roda yang sengaja diletakkan di sebelah tempat tidur.

Napas gue sedikit tersengal ketika gue menarik badan untuk duduk. Kegiatan sesederhana bangkit dari tidur kini berubah menjadi lebih susah dari biasanya sejak gue lumpuh tahun lalu.

Kaki ternyata selama ini bertugas menjadi penyeimbang ketika kita ingin bangkit dari posisi tidur. Gue baru tau ini.

Meskipun sudah jauh lebih baik, kondisi gue belum kembali seperti semula. Penyembuhan gue memakan waktu sedikit lebih lama dari cerita GBS survivor lain yang pernah gue baca.

Tangan kanan gue meraih laptop yang dari tadi tergeletak di atas tempat tidur. Laptop gue agar… Lanjut ta.. | 29 Comments

Ambil positifnya aja.

Well, sejak gue sakit, banyak nasehat yang gue dapat dari orang-orang yang datang menjenguk.

“Diambil positifnya aja, Ta” adalah nasihat yang paling umum gue terima.

Sebenarnya agak susah sih mencari hal positif dari sebuah penyakit langka yang membuat lumpuh selama berbulan-bulan. Gue nggak terlalu suka dengan kegiatan mencari alasan ini. Menjadi hal yang sangat Indonesia sekali. Mencoba mencari hikmah di balik sebuah peristiwa.

Rumah dirampok tapi masih aja ngomong “Untung cuma barang yang ilang!”

Atau ketika kena tabrakan beruntun, ngomongnya “Untung cuma patah kaki!”

Maybe that’s why everything happens for a reason. Because we are always making excuses.

Tapi tampaknya mereka benar, kali ini mungkin gue harus mengambil positifnya. Biar nggak stress sendiri. Sedikit memutar otak, gue berusaha menuliskan hal-hal positif yang gue dapat… Lanjut ta.. | 10 Comments

Marah

Hari ini adalah bulan ke sembilan sejak gue didiagnosa GBS.

Buat gue pribadi, ini adalah periode paling lama gue sakit. Biasanya gue hanya kena demam, flu atau nggak enak badan aja. Penyakit-penyakit yang akan hilang dengan istirahat dalam 2-3 hari.

Selama sembilan bulan ke belakang, hari-hari gue diisi oleh latihan berjalan, tidur yang tidak nyenyak, kesulitan untuk buang air kecil/besar, dan level stress yang sangat tinggi.

Nggak banyak yang tau, penyakit ini jauh lebih menyerang sisi emosional daripada fisik penderitanya.

Semua kesakitan fisik mungkin akan lewat setelah 1-2 bulan pertama, dimana sesi-sesi MRI, puluhan jarum suntik menusuk kulit dan tulang belakang, setruman-setruman listrik untuk mencari impuls saraf, telah selesai.

Selanjutnya adalah penyakit emosionalnya.

Anger, frustration, sadness, hopeless, combined into one.

Bulan ke… Lanjut ta.. | 19 Comments

Fuck you, 2016

Holy shit, 2016!

Itu adalah kata pertama gue buat tahun ini.

Seperti biasanya, setiap akhir tahun, gue selalu membuat satu tulisan yang bertujuan untuk melihat ke belakang. Mengingat kembali apa-apa saja yang sudah gue lakukan dan belum gue lakukan.

Biasanya, di setiap penghujung tahun, gue selalu mempunyai banyak kenangan manis untuk dituliskan, yang membuat gue merasa “hmm, tahun ini nggak jelek nih!”

Liat aja contoh tulisan gue tahun lalu, gue bisa mencoret banyak hal dari bucket list gue. Mulai dari selesai kuliah S2, menerbitkan buku, hingga berhasil melakukan eurotrip pertama gue.

Gue menutup tahun 2015 dengan sangat bahagia dan siap untuk menyambut tahun 2016.

Tapi kenyataannya berkata lain, 2016 fucked me up!

Ketika tahun lalu gue menjalani hidup dengan sangat bahagia, tahun… Lanjut ta.. | 64 Comments

Pit Stop

Pernah gak ngerasain ketika lagi nyetir dan sedang mencari alamat, kita terpaksa minggir dulu, ngecilin suara dari radio di dalam mobil demi bisa lebih fokus dan konsentrasi.

Pernah?

Oke, gue nggak sendirian.

Gue baru nyadar ternyata hidup sama seperti nyetir mobil tadi. Cuma skalanya menjadi jauh lebih besar.

Oke kita mulai dari awal biar nggak bingung.

Dalam menjalani hidup, gue selalu membuat checkpoints pribadi. Tujuan hidup gue yang terdengar sangat besar, gue pecah menjadi beberapa tujuan kecil agar terlihat lebih achievable.

Ya supaya lebih sederhana aja, dan nggak ngerasa takut duluan.

Target-target inilah yang gue sebut checkpoints. Sama seperti balapan, biasanya gue akan ‘istirahat’ sebentar di checkpoints lalu kembali melanjutkan perjalanan.

Checkpoints ini bentuknya bisa berupa hal-hal sederhana seperti lulus kuliah, mendapat… Lanjut ta.. | 12 Comments

Persistent

Beberapa hari yang lalu, gue mendapatkan sebuah pertanyaan di tab question ask.fm gue.

“Kak, ajarin aku tentang saham dong yang simple. Udah baca di internet tapi nggak ngerti.”

Gue hanya bisa menghela napas setiap kali menerima pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Udah? Gitu aja ya? Sekali baca, nggak ngerti langsung minta orang lain buat ngejelasin secara mudah.

Gue tau kalau mayoritas pembaca blog gue ini dan followers di social media gue umurnya di bawah gue. So, let me tell you something.

Gue bukan bermaksud bersikap sombong atau riya, tapi gue mencoba untuk memberikan satu sundut pandang yang berbeda dalam meraih sebuah cita-cita. Yang berasal dari pengalaman pribadi yang gue punya.

Kalau ada satu hal yang gue percaya di dunia ini selalu terbukti benar, itu adalah kerja keras… Lanjut ta.. | 7 Comments

Buku Romeo Gadungan : Update

Sudah hampir tiga bulan sejak buku gue yang paling baru (Romeo Gadungan) terbit. Berbagai kritik, komen, pujian dan review sudah gue terima.

Dan senang rasanya, buah pikiran, pengalaman dan imajinasi gue berhasil disukai oleh orang lain. Hingga detik ini, mengetahui bahwa ada orang-orang yang rela mengeluarkan uang untuk membeli karya kita, adalah salah satu perasaan paling menyenangkan buat gue.

Oleh karena itu, gue mendedikasikan postingan ini untuk orang-orang yang sudah membeli dan membaca buku gue.

Dan buat yang belum baca, review nya sudah ada di Goodreads. Sekarang buku gue sudah tersedia di seluruh Indonesia dengan data sebar sebagai berikut.

Dan untuk yang ingin membeli on-line, bisa di toko buku-toko buku online di postingan yang ini. Dan untuk yang sedang berada di luar… Lanjut ta..

Nyetrum

“Yah, apa yang bikin ayah pengen menikah dulu ama bunda?”

Gue langsung menanyakan hal itu kepada ayah, ketika dia masuk ke kamar gue. Random memang. Tapi gue punya alasan tersendiri.

Sejak gue sakit, kami memang memiliki banyak waktu untuk mengobrol daripada saat gue sehat. Jarak dan kesibukan yang memisahkan sering membuat kami jarang memiliki ‘father and son conversation’.

Kalau dipikir-pikir, mungkin ini salah satu hal positif dari penyakit gue kali ini. Gue menjadi punya banyak waktu untuk menanyakan hal-hal yang selama ini nggak pernah gue tanyakan tapi sebenarnya gue penasaran.

Jujur aja deh.

Kapan terakhir kali kita benar-benar mengobrol dengan orang tua kita? Sekadar memberikan perhatian kepada mereka. Menanyakan kesehatan mereka. Atau membahas hal-hal yang sebenarnya pengen kita tanyakan tapi nggak pernah sempat karena kita… Lanjut ta.. | 2 Comments