Beberapa waktu yang lalu, gue menghabiskan long weekend dengan cara yang sedikit berbeda. Cara yang agak gak lazim. Bukan, gue gak menghabiskan liburan gue dengan menyamar jadi supir metromini kayak salah satu capres.

Gue menghabiskan liburan gue kali ini dengan…camping!

Berbeda dengan kebanyakan orang yang gue kenal, gue gak pernah camping sebelumnya. Maklum aktivitas sebagai model papan atas pegawai kantoran terlalu menyita waktu gue untuk mencoba camping.

Jadi begitu diajakin camping, gue langsung bersemangat dan mencari pohon terdekat untuk gue panjat dan berteriak :

THIS IS SPARTAAAAA!!

Ini akan menjadi pengalaman camping pertama gue.

Dalam benak gue, camping kali ini akan menjadi peristiwa yang penuh petualangan buat. Dari kosan gue sudah menyiapkan barang-barang yang sepertinya akan gue perlukan selama disana. Obat-obatan, tolak angin, popmie, obat demam, jaket tebal dan lain-lain.

PopMie ini akan menyalamatkan perut gue nanti!

Perjalanan dimulai dari kosan ke Stasiun Bogor, dari sana gue akan melanjutkan ke terminal Baranangsiang kemudian dilanjutkan dengan mencarter mobil ke tempat tujuan camping kami kali ini di daerah Cidahu di kaki Gunung Salak dekat Sukabumi.

Harus gue akui, perjalanan ke daerah Cidahu ini tidak terlalu nyaman. Jalanan yang menanjak dan berlubang membuat kami terbanting-banting di dalam mobil.

Setibanya disana, gue sedikit kaget dengan tempat camping kami kali ini.

Tempat camping yang gue kira akan berupa hutan di kaki gunung ternyata nyaman sekali. Tempat ini semacam rumah peristirahatan yang dijadikan lahan camping untuk orang-orang yang pengen merasakan camping tapi terlalu malas untuk menyiapkan segala sesuatunya.

That’s so me!

Tenda telah berdiri lengkap dengan kasur dan sprei putih yang berada di dalamnya. Kamar mandi bersih yang berjejer rapi untuk semua pelanggan, hingga restoran yang berada dekat pintu masuk.

Ini memang camping VIP!

Jejeran tenda-tenda besar telah berdiri di padang rumput yang landai. Menghadap tempat ke arah timur dan membelakangi Gunung Salak. Di kejauhan gue bisa melihat kota Ciawi. Udara sejuk yang bertiup membuat gue mengancingkan jaket lebih rapat agar tidak terlalu merasa dingin.

Pemandangan dari lobby

Kasur di dalam tenda

 

Karena kami tiba hampir menjelang magrib, seluruh tenda telah terisi oleh para pengunjung. Dan dari pengamatan gue, hampir seluruh pengunjung di sini datang bersama keluarga.

Ketika malam hari tiba, gue menghabiskan malam dengan berkaraoke di restoran sambil makan malam. Menu restoran keluarga seperti gurame goreng, cumi goreng tepung, dan menu standar restoran lainnya tersedia disini.

Gue hanya bisa menatap nanar popmie gue sambil berkata : Camping macam apa ini kok bisa makan gurame? 

Beberapa kali gue diminta oleh sang pemilik tempat ini untuk berkaraoke dengan iringan keyboard miliknya. Dan sebagai orang yang tidak takut oleh tantangan, gue langsung mengambil mic untuk bernyanyi.

Hanya dua lagu yang gue bawakan sebelum pengunjung lain mengeluarkan sumpah serapah ke gue karena telah merusak liburan mereka.

Setelah merasa cukup kenyang, kami melanjutkan aktivitas dengan bermain kartu di depan tenda seperti layaknya aktivitas camping pada umumnya. Menjelang tengah malam, kami bobok dengan nyaman dalam tenda. Di atas kasur spring bed yang empuk dan selimut tebal.

Pagi-pagi sekali, gue dibangunkan untuk melihat aktivitas favorit camping kali ini.

Sunrise!

Matahari terbit tepat di hadapan jejeran tenda kami. Langit yang cerah seolah mendukung niat kami untuk memburu sunrise pagi ini.

Gue menyeret sebuah bangku plastik dari depan tenda untuk mencari posisi yang paling nyaman untuk menikmati matahari terbit pagi ini. Sebuah peristiwa yang terjadi tiap hari, tapi sangat jarang kita nikmati.

Dan perlahan, sinar sang surya muncul dari balik gunung. Langit kemerahan yang berpadu dengan udara dingin pegunungan. Indah sekali!

Beautiful, isn’t it?

 

Ketika matahari sudah meninggi, kami bersiap untuk melakukan aktivitas lain yang tidak kalah menyenangkan.

Trekking ke air terjun!

Tanpa tour guide, hanya keberanian yang menjadi modal. Sebagai petunjuk, kami bertanya kepada sang pemilik tempat camping tentang jarak yang harus ditempuh. Jalurnya sendiri sudah tersedia, jadi kami tidak usah takut tersesat dalam perjalanan nekat kali ini.

“Pak, air terjunnya jauh gak?”

“Gak jauh kok. Yang kecil cuma sepuluh menit dari sini. Curug yang gede cuma setengah jam.”

Maka dimulailah aktivitas trekking kami pagi ini.

Jalanan berbukit mulai kami lewati. Dan benar saja, tidak terlalu lama kami menemukan air terjun yang pertama.

Begitu melihatnya, hati gue langsung bergumam.

Ini mah bukan air terjun. Ini pancuran!

Pancuran

 

Karena kecewa dengan air terjun yang pertama, kami melanjutkan untuk mencari air terjun yang kedua.

Toh hanya trekking setengah jam kan?

Dengan kaki yang terseok-seok kelelahan, kami melanjutkan mencari curug yang dimaksud,

Naik..turun..naik lagi..membelah semak dan jalan setapak.

Jalur trekking

The blue sky above us

 

Setengah jam berlalu, air terjun yang dicari tak kunjung kelihatan. Betis gue udah hampir pecah karena kelelahan berjalan. Gue sudah mengambil napas dengan pinggang gue, pertanda paru-paru sudah tidak bisa bekerja sendirian.

MANA AIR TERJUNNYA INI MAAAASSS?! HEEEELPPP!

Keringat mengucur, napas memburu, beberapa kali kami berhenti untuk mengambil napas. Sedikit melihat ke bawah, gue bisa melihat betis gue yang sudah berkonde. Siap untuk ke kondangan.

Tapi sudah kepalang tanggung. Kami harus tetap berjalan.

Tidak beberapa lama kemudian, akhirnya kami menemukan air terjun yang dimaksud. Gemuruh air terjun perlahan mulai terdengar. Udara dingin mulai masuk menguapkan keringat yang tadi mengucur. Air terjun yang berasal dari mata air pegunungan.

Airnya dingin. Tidak tunggu lama, gue akhirnya menceburkan diri kedalamnya. Wohooooo!!

Tadaaa!

 

Keringat yang tadi muncul menguap entah kemana. Rasa puas muncul menggantikan rasa lelah yang dari tadi gue rasakan.

Pengalaman camping ini benar-benar menyenangkan.

Tidak lama waktu yang kami habiskan di air terjun itu. Hanya sekitar setengah jam. Kami harus kembali ke tenda untuk check out karena hampir menjelang siang.

Pengalaman camping pertama gue berjalan sangat menyenangkan. Mendapatkan sensasi camping di pegunungan tanpa repot berbenah dan bersiap. Cocok banget untuk keluarga dan pekerja malas seperti gue ini.

Buat kalian yang ingin mencoba camping VIP seperti ini, bisa lihat di batutapak.com. Dengan hanya Rp200.000 per orang, kalian sudah mendapatkan fasilitas camping yang lengkap dengan sekali sarapan.

Menyenangkan bukan?

Yuk liburan!