Gue adalah salah satu korban Hollywood.

Sebagai penikmat film, mungkin inilah salah satu kerugian yang harus gue terima. Terpapar oleh mimpi-mimpi yang dijual dalam setiap film.

Sejak kecil, film-film Hollywood telah merasuki pikiran gue. Cinta dan romantisme ala layar lebar selalu menjadi barometer buat gue bagaimana hidup seharusnya.

Dan gue ingin seperti itu. Meniru romantisme picisan yang banyak dijual para sutradara.

Gue selalu berpikir kalo manusia akan jatuh cinta selamanya.

Dan ketika manusia jatuh cinta, akan ada peri-peri kecil di udara, bintang-bintang kecil bermunculan, rasa mual yang hinggap di dalam perut, gregetan yang selalu ada, persis seperti yang  disajikan di film-film Holywood.

Dan mungkin dengan bertambahnya usia, akhirnya gue mulai menyadari satu hal.

Hidup kadang ngga seindah itu. In life, shit happens.

Kita ngga bisa jatuh cinta selamanya,

Cinta akan pudar.

Masih inget ga masa-masa awal pacaran kalian? Masa yang bagi sebagian besar orang adalah masa yang paling menyenangkan. Masa-masa jaga image dan saling menebak kepribadian satu sama lain..

Rasa kangen yang muncul 5 menit sekali,

Masa dimana kita bisa ngobrol ditelepon hingga dini hari yang cuma bermodal handphone cdma atau tarif murah operator seluler.

Rasa semangat yang aneh yang muncul, yang memberikan semangat untuk saling bercerita satu sama lain.

Topik pembicaraan pun masih ‘aku’ atau ‘kamu’.

“Kamu suka nya apa?” “Keluarga kamu gimana?” atau “Kamu dulu gimana?”

Namun seiring berjalannya waktu, topik itu bergeser menjadi ‘mereka’ atau ‘dia’

Pasangan mulai saling menceritakan orang lain, bukan lagi menceritakan diri mereka. Karena ya, masing-masing sudah tau semuanya.

Semua akan berjalan datar.

Memang, akan ada masa dimana pasangan akan membuat momentum atau landmark, untuk mengingat rasa cinta itu kembali. Memunculkan gairah yang dulu menggebu-geb. Landmark itu bisa berupa tanggal jadian, ulang tahun, anniversary atau apapun.

Hari-hari itu muncul sebagai penyegar suatu hubungan. Sehingga tidak dihinggapi kebosanan yang muncul dari rutinitas yang terus menerus diulangi.

Tadi sore gue ngomong ama temen gue, yang kini sudah menikah dengan 1 orang anak, dengan masa pacaran 9 tahun sebelum memutuskan untuk menikah.

Dia punya satu teori yang gue percaya.

Ketika sudah bertahun-tahun menjalani hubungan yang sama, cinta itu akan berubah bentuk. Bukan lagi menjadi cinta. Tapi akan berubah menjadi…butuh.

Bukan lagi sayang.. tapi butuh.

Aku butuh kamu. That’s it.

Sama kayak yang pernah gue bilang di tulisan gue yang ini.

Kalo udah pacaran lama itu, bukan masalah sayang ga sayang. Tapi sudah masalah kebiasaan. Sedih yang muncul sebagian besar datang dari rasa kehilangan yang luar biasa. Dari kebiasaan rutin yang hilang setelah dijalani bertahun-tahun.

Yang sebenarnya, bagaimanapun sakitnya patah hati, pada akhirnya kita akan membiasakan diri.

Hanya butuh sedikit waktu untuk kembali menyesuaikan diri dengan ‘kebiasaan’ yang baru.

Bukan cinta, tapi butuh.

Bukan sayang, tapi kebiasaan.

Bukan sedih tapi kehilangan.

Mungkinkah sekarang menjadi saatnya kita akan berkata : Fuck you, love!