Kalian tau Bower Bird?

Burung Bower atau dalam bahasa Indonesianya adalah Burung Namdur, adalah burung yang hidup di Papua Nugini dan Australia. Burung ini termasuk dalam keluarga Ptilonorhynchidae.

Bowerbird

Keluarga burung ini memiliki 20 spesies dalam delapan genus dan hidup rukun akur ama tetangga. Mereka adalah termasuk burung berukuran sedang. Makanan mereka biasanya buah, serangga atau rainbow cake.

Burung Bower ini terkenal karena perilaku uniknya setiap kali mereka pengen kawin. Untuk menarik pasangannya, burung Bower jantan akan membuat sarang yang menyerupai sebuah gerbang dan menghiasnya dengan benda-benda berwarna terang untuk menarik perhatian burung Bower betina.

Semakin bagus sarangnya, semakin besar peluang burung Bower betina untuk menyukainya. Ya, ternyata burung juga bisa matre. Untung gak minta Honda Jazz.

Burung Bower jantan biasanya akan menghias sarang yang telah dibuatnya dengan ranting, atau bulu-bulu berwarna terang yang bisa ditemukannya. Dan entah kenapa, Bower Bird punya kecenderungan untuk memilih warna biru, baik itu bulu-bulu, kerikil atau bahkan Honda Jazz.

The blue nest

Beberapa spesies burung Bower bahkan mengatur benda-benda temuannya tadi dari ukuran terkecil hingga yang paling besar demi membuat ilusi optik yang sederhana untuk betinanya.

Setelah dia selesai membangun sarangnya, burung Bower jantan akan membuat suara-suara dan menari di depan sarangnya untuk memanggil Bower betina. Their own flirting dance.

Intinya adalah, burung Bower jantan melakukan sesuatu demi menarik perhatian burung Bower betina demi memperbesar peluangnya untuk kawin.

Mirip ama kita ya?

Banyak orang yang bilang fase paling menyenangkan dari suatu hubungan asmara itu adalah fase pendekatan alias pdkt. Momen dimana lo menjadi orang asing, dan berpura-pura ingin menjadi sempurna. Fase menari-nari dan menyusun kerikil layaknya burung Bower. Momen dimana lo gak bisa jadi diri lo sendiri (karena lo gak mungkin menari-nari pake bulu-bulu biru di kantor).

Momen dimana setiap langkah diperhitungkan dengan seksama dan penuh perhitungan. Agar tidak terkesan murah, gak pengen-pengen banget atau bahkan biar gak bikin ilfil. Sehingga kadang menimbulkan tingkah laku konyol seperti :

“Eh, kalo gue bales kayak gini kesannya ngarep gak ya?”

atau

“Eh, kalo di sms jangan langsung dibales, ntar keliatan banget pengennya. Tunggu aja 5-10 menit.”

Gak sekalian nunggu ampe kiamat?

Tindakan-tindakan itu sebenarnya klise dan sudah menjadi rahasia umum. Tindakan yang kita lakukan sama seperti burung Bower itu. We move in our own flirting dance.

Flirting dance yang kadang agak naif. Gue masih pengen koprol kalo mengingat gue pernah bertingkah seperti ini waktu dulu masa-masa pdkt jaman kuliah.

“Kalo aku ngajak keluar gini gak ada yang marah kan?”

Kalo ada SOP PDKT, pasal pertama pasti bunyinya kayak gitu. Itu pertanyaan gombal standar nasional.

Dulu fase itu menyenangkan. Ketika kita punya cukup banyak energi untuk berpikir kreatif dan menikmati setiap adrenaline rush yang datang ketika merangkai setiap pesan yang akan gue kirim.

Momen-momen kesal menunggu chat yang belum tentu di balas. Kita mencoba menari demi menyenangkan orang lain. Mempersiapkan diri hanya untuk kencan pertama.

Waktu menghadapi kencan pertama jaman kuliah dulu, gue benar-benar mempersiapkan segalanya. Pagi hari sebelum nonton, gue motong rambut, beli helm ekstra, motor dicuci ampe kinclong. Pokoknya gue mati-matian agar gak malu-maluin. Semua detail terkecil gue perhatikan.

Sama seperti burung Bower, membangun sarang yang baik dan mengumpulkan kerikil-kerikil berwarna biru. Memperbaiki diri agar terlihat layak di mata orang lain.

Entahlah, mungkin faktor usia yang membuat semuanya terlalu melelahkan. Mungkin sudah tidak menyenangkan lagi menikmati mood swing yang terjadi. Mungkin sudah saatnya kita membutuhkan stabilitas perasaan.

Sepertinya halnya burung Bower jantan, mungkin ini saatnya kembali menyusun kerikil-kerikil biru dan siap melakukan tarian terakhir untuk burung betina yang akan datang.

Entah kapan.