“Gak keliatan! Hilang!!” teriak supir jeep yang ada di depan kami.

“Puter balik! Puter balik!” jeep lainnya ikut membunyikan klakson memberi tanda.

Mobil-mobil jeep yang tadi jalan beriringan kembali memutar arah mencari jalan. Lampu-lampu sorotnya membelah lautan pasir yang gelap gulita. Jarak pandang tidak lebih dari beberapa meter. Di kejauhan tampak rombongan jeep lainnya yang juga sibuk mencari jalan. Guyuran hujan yang datang semalam ternyata mampu menghapuskan jejak ban penunjuk jalan menuju ke Bromo. Kami yang duduk di belakang hanya bisa terdiam sedikit menyimpan panik sambil kedinginan. Jaket tebal yang tadi digunakan ternyata tak mampu menahan dingin yang datang menusuk.

Gue menarik resleting jaket hingga ke leher sebagai upaya terakhir menahan dingin. Topi kupluk yang tadi  dikenakan gue tarik hingga menutupi kuping yang kini mulai kebas tak berasa. Hidung gue mulai tersendat akibat serangan udara dingin yang sangat menyengat.

Grudak!!

Ban mobil jeep yang gue kendarai terperosok ke dalam lubang yang cukup dalam. Pak Markuat, supir kami, menginjak gas dalam-dalam. Mencoba menyiksa mesin mobil ini agar mampu keluar dari jebakan pasir. Namun setelah digeber beberapa lama, mesin itu meraung-raung putus asa. Kami masih terjebak dalam lubang pasir ini.

“Mampus!” ujar gue dalam hati.

***

Beberapa waktu yang lalu, gue dan beberapa teman kantor melakukan sedikit short escape dari rutinitas kantor. Demi menghilangkan kejenuhan harian yang dimunculkan oleh sebuah kota besar, kita sepakat untuk kabur ke Bromo, Jawa Timur.

Gunung Bromo sendiri adalah merupakan bagian dari pegunungan Tengger. Bukan merupakan puncak yang paling tinggi, tetapi yang paling dikenal oleh para pelancong. Yang bikin unik dari gunung Bromo ini adalah posisinya yang terletak ditengah tengah lautan pasir. Lautan pasir yang telah menjadi lokasi syuting beberapa film nasional, seperti Tendangan Dari Langit dan Pasir Berbisik.

Banyak orang yang bilang, Gunung Bromo adalah spot nomor 2 terbaik dunia untuk melihat sunrise. Nomor satunya adalah di kamar gue. Dari review yang gue baca di tripadvisor, melihat sunrise di Bromo adalah suatu breathtaking moment. Alias momen yang bisa membuat lo tercengang ampe asma.

Gue menginap di Cafe Lava, Cemorolawang, desa Sukapura, titik tertinggi sebelum ke Bromo. Gunung berapi yang masih aktif ini terakhir meletus tahun 2011, yang membuat gue sedikit deg-degan untuk kembali datang kesana. Serem aja gitu pas gue maen kesana, tiba-tiba gue dikejar-kejar wedhus gembel.

Setibanya disana, gue menghabiskan waktu untuk menulis di restoran hotel yang bernuansa klasik di daerah gunung Bromo. Suasana yang tidak terlalu ramai, karena bukan musim liburan, membuat perjalanan ini semakin menyenangkan.

Menyesap teh panas sambil menulis dengan diiringi lagu tahun 90an yang sengaja diputar oleh pengelola restoran. Aroma daun teh yang diseduh dengan air panas perlahan meracuni indra penciuman. Dibelakang ada segerombolan turis Rusia yang sedang bingung memilih antara lalapan ayam atau nasi goreng.

Di dekat jendela ada sepasang nenek-nenek yang tampaknya sedang menghabiskan masa tua mereka untuk mengelilingi dunia. Dan kali ini, mereka lagi terdampar di salah satu pojok dunia bernama Bromo.

 

Bromo

click image to enlarge

Di luar, beberapa warga lokal sedang berusaha menjajakan topi kupluk dan syal kepada para traveler, baik asing maupun lokal. Semua semakin menambah uniknya wisata Bromo gue kali ini.

Udara yang dingin, teh manis yang masih mengebul pekat, teman yang menyenangkan dan pemandangan yang indah. Apalagi yang bisa gue minta?

***

Esoknya, pagi sekali kita sudah dibangunin oleh supir jeep yang sudah kami sewa dari hari sebelumnya. Pukul setengah 4 pagi kami harus sudah siap berangkat. Bagi yang ingin melihat sunrise di Bromo, ada dua cara yang bisa dipilih. Cara pertama dengan menyewa jeep yang banyak disediakan disekitar hotel. Atau bagi yang fisiknya masih kuat bisa dengan hiking/jalan kaki sendiri ke spot melihat sunrise itu. Spot sunrise ada dua di Bromo, Penanjakan 1 dan Penanjakan 2.

Bagi yang minim pengalaman hiking, gue gak menyarankan untuk jalan kaki ke tempat itu. Jalan kaki, dengan udara dingin dan kondisi gelap gulita di dini hari itu bisa sangat sulit dilakukan oleh orang awam.

Kami memilih untuk menggunakan jeep untuk menuju Penanjakan 1. Dengan membayar beberapa ratus ribu rupiah, paket touring Bromo sudah tersedia. Paket yang ditawarkan adalah Penanjakan 1, Kawah Bromo, Padang Sabana dan daerah Pasir Berbisik. Mendengar kata Pasir Berbisik, gue langsung senyum-senyum.

Dian Sastro, abang datang!

Pukul setengah 4 pagi, jeep-jeep yang dipenuhi para traveler sudah berbaris memasuki lautan pasir menuju Penanjakan 1. Sebagian besar masih dalam kondisi setengah sadar akibat kurang tidur. Udara Bromo yang sudah dingin semakin dingin lagi. Bahkan gue sampain memakai 4 lapis baju, dengan kupluk, sarung tangan, jeans dan sepatu.

Dengan berpakaian berlapis seperti lontong, gue tergabung dalam jeep yang dikemudikan Pak Markuat, supir kami. Pak Kuat yang asli warga Tengger ini sudah 8 tahun menjadi supir jeep di Bromo mengantarkan para pencari adrenalin ke puncak gunung Bromo.

Setelah semua persiapan selesai, mobil-mobil jeep ini perlahan mulai turun dari daerah penginapan dan memasuki lautan pasir Bromo, atau yang disebut dalam bahasa Jawa ‘Segara Wedi – Lautan Pasir’

Lautan Pasir

click image to enlarge

Karena habis hujan, jejak jeep yang digunakan hari sebelumnya tak lagi berbekas, para supir-supir pun terpaksa untuk mencari jalur yang bisa digunakan menuju Bromo.

Gue kehabiskan kata-kata untuk menggambarkan bagaimana perasaan gue malam itu. Barisan jeep yang memasuki lautan pasir dalam kondisi gelap gulita, kondisi yang rintik hujan dan suasana yang sedikit tegang karena belum ada kejelasan jalur mana yang akan diambil semakin menambah unik suasana dini hari itu.

Perjalanan yang tidak mulus, harus ditempuh beriringan dengan jeep yang lain. Jadi jika ada yang tersesat atau terperosok kedalam lumpur, bisa ditarik oleh jeep yang lain.

“Inilah yang disebut kerjasama” kata pak Kuat menjelaskan kepada kami.

Kadang kami juga berpapasan dengan rombongan jeep lain yang juga sedang mencari jalur untuk naik ke Bromo.

Melihat head lamp yang bersinar terang dari jeep lain di kejauhan mengingatkan gue kepada adegan kendaraan Armadillo dalam film Armageddon yang sedang berjalan diatas meteorid. Situasinya mirip sekali. Gelap dan penuh adrenalin. Ntah bagaimana pada akhirnya para supir jeep itu bisa menemukan jalur yang tepat dilautan pasir dalam kondisi gelap gulita seperti itu.

Setelah sejam perjalanan dan beberapa kali tersesat, akhirnya kami menemukan jalan naik ke Penanjakan. Dari sini, semuanya menjadi mudah karena inilah jalur yang harus ditempuh ke tempat melihat sunrise. Begitu nyampe diatas, gue agak sedikit kaget, karena ekspektasi gue adalah gue akan melihat sunrise di tanah lapang yang terbuka. Tapi begitu sampai diatas, ternyata kawasan itu sudah dipermak seperti objek wisata pada umumnya. Ada beberapa warung yang menyediakan jasa sewa jaket tambahan, beberapa kedai kecil yang menjual souvenir ataupun makanan. Kita hanya tinggal perlu berjalan sekitar 50 meter untuk menuju spot yang telah ditentukan.

Perjalanan ini berakhir anti klimaks karena kami tidak berhasil melihat sunrise secara sempurna. Matahari muncul malu-malu dibalik awan dan kabut di musim penghujan ini. Setelah mengambil beberapa foto, kita menyempatkan diri untuk sarapan di atas kemudian langsung turun menuju tujuan selanjutnya.

Barisan jeep

click image to enlarge

Dari sana kita langsung ke kawah Bromo yang sebenarnya. Mendekati kaki gunung Bromo, kita turun dari jeep dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki mendaki gunung setinggi 2392 meter ini.

Berbeda dengan orang-orang di Pulau Jawa yang mayoritas beragama Islam, orang-orang Tengger merupakan pemeluk taat agama Hindu. Mereka yakin bahwa mereka ada keturunan langsung dari kerajaan Majapahit.

Bagi suku Tengger, Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara yakni Pura Luhur Poten Bromo dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo.

Bagi yang ngga kuat mendaki sendiri, akan ada beberapa penduduk lokal yang menawarkan kudanya untuk disewakan. Harganya berkisar mulai dari 30 ribu hingga 100 ribu rupiah, tergantung kemampuan menawar masing-masing.

Menunggu

click image to enlarge

Setelah mendaki dan bermandi peluh, akhirnya kita sampai di bibir kawah Bromo. Dibawah, kita bisa langsung melihat lubang yang menganga yang dapat memuntahkan isi perut bumi kapan saja. Pemandangan dari sini sungguh luar biasa.

Stairway to Hell?

Bibir jurang Bromo

click image to enlarge

Turun dari kawah, kami langsung menuju sabana yang berada dalam kawasan Bromo. Ini adalah tempat favorit selama kunjungan gue di Bromo. Suatu lembah hijau yang dipenuhi rerumputan, dan dikelilingi dinding alam berupa deretan gunung yang menghijau.

Persis seperti yang biasa kita lihat di film Narnia atau Lord of The Rings. Breath taking landscape! Hening, sejuk, hijau, lapang, dengan langit biru teduh yang bernaung di atas kepala.

Sabana di Bromo

Pak Markuat di Penanjakan 1

Selesai dari sabana Bromo, kami lanjut ke tempat terakhir yaitu daerah Pasir berbisik. Sebenarnya ngga ada yang terlalu spesial tempat ini. Tapi ini lah setting dimana Film Pasir Berbisik dibuat. Di tempat inilah pacar gue Dian Sastro beradu akting dengan Christine Hakim.

Wisata Bromo ini cocok bagi anda para pencari adrenalin dan tantangan. Suatu sudut dunia yang dipenuhi orang-orang yang suka melihat alam dan merasakan betapa megahnya dunia ini. Karena dengan berkunjung ke tempat-tempat seperti Bromo, kita akan merasakan betapa kecilnya manusia. Betapa rapuhnya tubuh manusia.

Bromo dipenuhi orang-orang yang mungkin sedang mencari keheningan dan kedamaian batin. Mencari Tuhan. Dengan menaklukan alam. Mulai dari udara dingin, ketinggian udara, oksigen yang menipis sehingga memaksa badan untuk mengalahkan alam. Dan pada ujungnya menaklukkan diri sendiri.

Orang-orang yang bisa gue sebut, Para Pencari Kedamaian.

Tips ke Bromo :

  1. Juni-Agustus adalah waktu terbaik untuk pergi ke Bromo. Cuaca cerah cocok sekali untuk melihat sunrise. Tapi kondisi akan ramai karena bertepatan dengan musim liburan.
  2. Bawa pakaian tebal dan kering serta obat-obatan pribadi untuk mengantisipasi udara dingin yang menusuk.
  3. Bawa kamera terbaikmu. You don’t want to miss those incredible views.
  4. Bawa uang tunai secukupnya, karena disini ngga ada ATM dan penggunaan kartu kredit sangat terbatas.

Detail budget (February 2012)

Tiket Jakarta-Surabaya PP : 750.000/orang

Mobil sewa dari Surabaya bromo : Rp 1.500.000/3 hari (Avanza sudah termasuk bensin, supir, tol dan parkir, dibagi 6 orang penumpang = 250.000)

Penginapan : 300an ribu/malam (double bed. 150rb/orang.)

Sewa jeep : 550rb/jeep ( bisa muat 6 orang)

Makan, jajan dan souvenir : 500rb. (tergantung orangnya)