Esoknya, pagi sekali kita sudah dibangunin oleh supir jeep yang sudah kami sewa dari hari sebelumnya. Pukul setengah 4 pagi kami harus sudah siap berangkat. Bagi yang ingin melihat sunrise di Bromo, ada dua cara yang bisa dipilih. Nyewa jeep yang banyak disediakan disekitar hotel atau hiking/jalan kaki sendiri ke spot melihat sunrise itu. Spot sunrise ada dua di Bromo, Penanjakan 1 dan Penanjakan 2.

Bagi yang minim pengalaman hiking, gue ga menyarankan untuk jalan kaki ke tempat itu. Jalan kaki, dengan udara dingin dan kondisi gelap gulita di dini hari itu bisa bisa sangat sulit dilakukan oleh orang awam.

Kami memilih jeep untuk menuju Penanjakan 1. Dengan membayar beberapa ratus ribu rupiah, paket touring Bromo sudah tersedia. Paket yang ditawarkan adalah Penanjakan 1, Kawah Bromo, Padang Sabana dan daerah Pasir Berbisik. Mendengar kata Pasir Berbisik, gue langsung senyum-senyum.

Dian Sastro, abang datang :D

Pukul setengah 4 pagi, jeep-jeep yang dipenuhi para traveler sudah berbaris memasuki lautan pasir menuju Penanjakan 1. Sebagian besar masih dalam kondisi setengah sadar akibat kurang tidur. Udara Bromo yang sudah dingin semakin dingin lagi. Bahkan gue sampain memakai 4 lapis baju, dengan kupluk, sarung tangan, jeans dan sepatu.

Dengan berpakaian berlapis seperti lontong, gue tergabung dalam jeep yang dikemudikan Pak Markuat, supir kami. Pak Kuat yang asli warga Tengger ini sudah 8 tahun menjadi supir jeep di Bromo mengantarkan para pencari adrenalin ke puncak gunung Bromo.

Mobil-mobil jeep ini perlahan mulai turun dari daerah penginapan dan memasuki lautan pasir Bromo, atau yang disebut dalam bahasa Jawa ‘Segara Wedi – Lautan Pasir’

Karena habis hujan, jejak jeep yang digunakan hari sebelumnya tak lagi berbekas, para supir-supir pun terpaksa untuk mencari jalur yang bisa digunakan menuju Bromo.

Gue kehabiskan kata-kata untuk menggambarkan bagaimana perasaan gue malam itu. Barisan jeep yang memasuki lautan pasir dalam kondisi gelap gulita, kondisi yang rintik hujan dan suasana yang sedikit tegang karena belum ada kejelasan jalur mana yang akan diambil semakin menambah unik suasana dini hari itu.

Perjalanan yang tidak mulus, harus ditempuh beriringan dengan jeep yang lain. Jadi jika ada yang tersesat atau terperosok kedalam lumpur, bisa ditarik oleh jeep yang lain.

“Inilah yang disebut kerjasama” kata pak Kuat menjelaskan kepada kami.

Kadang kami juga berpapasan dengan rombongan jeep lain yang juga sedang mencari jalur.

Melihat head lamp yang bersinar terang dari jeep lain di kejauhan mengingatkan gue kepada adegan kendaraan Armadillo dalam film Armageddon yang sedang berjalan diatas meteorid. Situasinya mirip sekali. Gelap dan penuh adrenalin. Ntah bagaimana pada akhirnya para supir jeep itu bisa menemukan jalur yang tepat dilautan pasir dalam kondisi gelap gulita seperti itu.

Setelah sejam perjalanan dan beberapa kali tersesat, akhirnya kami menemukan jalan naik ke Penanjakan. Dari sini, semuanya menjadi mudah karena inilah jalur yang harus ditempuh ke tempat melihat sunrise. Begitu nyampe diatas, gue agak sedikit kaget, karena ekspektasi gue adalah gue akan melihat sunrise di tanah lapang yang terbuka. Tapi begitu sampai diatas, ternyata kawasan itu sudah dipermak seperti objek wisata pada umumnya. Ada beberapa warung yang menyediakan jasa sewa jaket tambahan, beberapa kedai kecil yang menjual souvenir ataupun makanan. Kita hanya tinggal perlu berjalan sekitar 50 meter untuk menuju spot yang telah ditentukan.

Perjalanan ini berakhir anti klimaks karena kami tidak berhasil melihat sunrise secara sempurna. Matahari muncul malu-malu dibalik awan dan kabut di musim penghujan ini. Setelah mengambil beberapa foto, kita menyempatkan diri untuk sarapan di atas kemudian langsung turun menuju tujuan selanjutnya.

Sunrise di Bromo

No sunrise for this time..

Dari sana kita langsung ke kawah Bromo yang sebenarnya. Mendekati kaki gunung Bromo, kita turun dari jeep dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki mendaki gunung setinggi 2392 meter ini. Tepat di kaki bukit, ada sebuah pura yang masih digunakan sampai sekarang. Tidak heran karena penduduk asli Tengger adalah pemeluk agama Hindu.

Bagi yang ngga kuat mendaki sendiri, akan ada beberapa penduduk lokal yang menawarkan kudanya untuk disewakan. Harganya berkisar mulai dari 30 ribu hingga 100 ribu rupiah, tergantung kemampuan menawar masing-masing.

Setelah mendaki dan bermandi peluh, akhirnya kita sampai di bibir kawah Bromo. Dibawah, kita bisa langsung melihat lubang yang menganga yang dapat memuntahkan isi perut bumi kapan saja. Berada ditempat ini harus sangat berhati-hati karena sempitnya lahan yang bisa dipijak dan kondisi pagar pengamannya yang sudah hancur akibat terjangan lava panas tahun lalu. Pemandangan dari sini sungguh luar biasa.

Kawah Bromo »

Kawah Bromo

Kawah Bromo

Turun dari kawah, kami langsung menuju sabana yang berada dalam kawasan Bromo. Ini adalah tempat favorit gue di Bromo. Suatu lembah hijau yang dipenuhi rerumputan, dan dikelilingi dinding alam berupa deretan gunung yang menghijau.

Persis seperti yang biasa kita lihat di film Narnia atau Lord of The Rings. Breath taking landscape. Hening, sejuk, hijau, lapang, langit biru. Betah gue disana.

Pemandangan di Sabana Bromo

Relax..

Selesai dari sabana Bromo, kami lanjut ke tempat terakhir yaitu daerah Pasir berbisik. Sebenarnya ngga ada yang terlalu spesial tempat ini. Tapi ini lah setting dimana Film Pasir Berbisik dibuat. Di tempat inilah pacar gue Dian Sastro beradu acting dengan Christine Hakim.

Selesai mengambil foto disini, kami langsung balik ke penginapan. Dan tanpa terasa sudah hampir jam 12 siang.

Wisata Bromo ini cocok bagi anda para pencari adrenalin dan tantangan. Orang-orang yang suka melihat alam dan merasakan betapa megahnya dunia ini. Karena dengan berkunjung ke tempat-tempat seperti Bromo, kita akan merasakan betapa kecilnya manusia. Betapa rapuhnya tubuh manusia.

Apakah tujuan mendaki gunung hanya untuk melihat matahari terbit? Melihat kawah? Melihat gunung. Pasti ada yang dicari dibalik itu semua. Orang-orang yang mungkin sedang mencari keheningan dan kedamaian batin. Mencari Tuhan. Dengan menaklukan alam. Mulai dari udara dingin. Ketinggian udara, memaksa badan untuk mengalahkan alam. Dan pada ujungnya menaklukkan diri sendiri.

Orang-orang yang bisa gue sebut, Para Pencari Tuhan.

 

Mencari arah.. »

penunjuk arah

get direction..
amazing view

amazing..

 

On the sand.. »

jeep in actions

jeep on the desert..

Horses.. »

Kuda di Bromo

Para pengantar..

Barisan »

barisan jeep di bromo

Barisan jeep..

Menunggu.. »

Kuda di Bromo

Mencari penumpang..

Beban hidup.. »

pemotong rumput di Bromo

pemotong rumput..

Pasir.. »

Pasir Berbisik

Daerah Pasir Berbisik
sabana di Bromo

sabana..

Tips ke Bromo :

  1. Juni-Agustus adalah waktu terbaik untuk pergi ke Bromo. Cuaca cerah cocok sekali untuk melihat sunrise. Tapi kondisi akan ramai karena bertepatan dengan musim liburan.
  2. Bawa pakaian tebal dan kering serta obat-obatan pribadi untuk mengantisipasi udara dingin yang menusuk.
  3. Bawa kamera terbaikmu. You don’t want to miss those incredible views.
  4. Bawa uang tunai secukupnya, karena disini ngga ada ATM dan penggunaan kartu kredit sangat terbatas.

 

Detail budget (February 2011)

Tiket Jakarta-Surabaya PP : 750.000/orang

Mobil sewa dari Surabaya bromo : Rp 1.500.000/3 hari (Avanza sudah termasuk bensin, supir, tol dan parkir, dibagi 6 orang penumpang = 250.000)

Penginapan : 300an ribu/malam (double bed. 150rb/orang.)

Sewa jeep : 550rb/jeep ( bisa muat 6 orang)

Makan, jajan dan souvenir : 500rb. (tergantung orangnya)