Beberapa hari yang lalu, gue dan beberapa teman kantor melakukan sedikit short break dari rutinitas kantor. Demi menghilangkan kejenuhan harian yang dimunculkan oleh sebuah kota besar, kita sepakat untuk kabur ke Bromo, Jawa Timur.

Mental egosentris kota besar langsung terbentur oleh keramahan orang daerah ketika menginjakkan kaki di bandara Djuanda. Saat keluar dari bandara dan menunggu mobil jemputan, seorang porter menghampiri kami.

Umurnya sudah agak tua. Gue taksir menjelang 50an. Tidak ada seragam porter yang biasa kita lihat di bandara, hanya pakaian biasa, tapi rapi. Dengan sangat sopan, dia berbicara kepada kami.

“Permisi pak, saya ingin mencari uang halal. Boleh saya bantu mengangkat tas-tas nya ke mobil? 5 ribu saja. Saya minta ijin dulu, soalnya kalo langsung diangkat ngga enak. Boleh?” kata dia sungkan.

“Iya pak, silahkan” kami biarkan dia mengangkat tas-tas kedalam mobil jemputan yang telah datang. Tas-tas yang sebenarnya tidak terlalu berat untuk diangkat sendiri.

Melihat sang bapak, membuat gue kembali optimis, ternyata masih banyak orang baik di negeri ini.

Dari bandara Djuanda, kami langsung berangkat ke Bromo di Kabupaten Probolinggo. Perjalanan yang harusnya cuma 2 jam ternyata memakan waktu hampir 8 jam. Kemacetan total terjadi di Pasuruan dan di Porong, Sidoarjo.

Luapan Lumpur di Sidoarjo telah membuat jalan raya semakin sempit untuk dilalui. Urat nadi transportasi Jawa Timur seakan terputus oleh luapan lumpur. Gue ngga tau seberapa besarnya efek luapan lumpur ini terhadap mandeknya ekonomi Jawa Timur. Menjadi semakin ironi ketika mengingat orang yang paling bertanggung jawab terhadap hal ini sedang berusaha mencalonkan diri menjadi presiden.

Terima kasih kepada Bapak Aburizal Bakrie yang telah berhasil mengubah ibukota sebuah kecamatan Porong menjadi ibukota negara Malaysia.

Mobil yang kami sewa dari Surabaya harus mengantri bersama truk-truk pengangkut logistik untuk melewati jalan yang semakin sempit karena luapan lumpur itu.

Akhirnya, rencana untuk melihat sunrise di malam yang sama harus dibatalkan karena kami baru tiba disana jam 5 pagi. Kalo tetap berangkat naik, yang ada gue ngga ngeliat sunrise, tapi malah solat dzuhur diatas. Gue menginap di Cafe Lava, Cemorolawang, desa Sukapura, titik tertinggi sebelum ke Bromo.

Gunung Bromo sendiri adalah merupakan bagian dari pegunungan Tengger. Bukan merupakan puncak yang paling tinggi, tetapi yang paling dikenal. Yang bikin unik dari gunung Bromo ini adalah posisinya yang terletak ditengah tengah lautan pasir. Lautan pasir yang telah menjadi lokasi syuting beberapa film nasional, seperti Tendangan Dari Langit dan Pasir Berbisik.

Banyak orang yang bilang, Gunung Bromo adalah spot nomor 2 terbaik dunia untuk melihat sunrise. Nomor satunya adalah di kamar gue. Dari yang gue baca di tripadvisor, sunrise di Bromo adalah breathtaking moment. Alias momen yang bisa membuat lo tercengang ampe asma.

Gunung berapi yang masih aktif ini terakhir meletus tahun 2011, yang membuat gue sedikit deg-degan untuk kembali datang kesana. Serem aja gitu pas gue maen kesana, tiba-tiba gue dikejar-kejar wedhus gembel.

Karena tujuan utamanya adalah untuk melihat sunrise, ngga ada aktivitas yang gue lakukan di Bromo hari itu. Akhirnya hari pertama cuma gue habiskan untuk tidur memulihkan tenaga yang terkuras di perjalanan. Cuaca dingin, kasur yang empuk dan selimut yang tebal membuat gue mati suri hingga hampir jam 2 siang.

Sorenya, gue menghabiskan waktu untuk menulis di restoran hotel yang bernuansa klasik di daerah gunung Bromo. Suasana yang tidak terlalu ramai, karena bukan musim liburan, membuat perjalanan ini semakin menyenangkan.

Menyesap teh panas sambil menulis dengan diiringi lagu tahun 90an yang sengaja diputar oleh pengelola restoran. Aroma daun teh yang diseduh dengan air panas perlahan meracuni indra penciuman. Dibelakang ada segerombolan turis Rusia yang sedang bingung memilih antara lalapan ayam atau nasi goreng.

Di dekat jendela ada sepasang nenek-nenek yang tampaknya sedang menghabiskan masa tua mereka untuk mengelilingi dunia. Dan kali ini, mereka lagi terdampar di salah satu pojok dunia bernama Bromo.

Di luar, beberapa warga lokal sedang berusaha menjajakan topi kupluk dan syal kepada para traveler, baik asing maupun lokal. Semua semakin menambah uniknya wisata Bromo gue kali ini.

Gue paling suka tempat wisata yang seperti ini. Tidak terlalu ramai. Banyak orang dari penjuru dunia, tetapi tidak menjadikan traveler lokal menjadi warga kelas dua seperti yang sudah terjadi di Bali.

Udara yang dingin, teh manis yang masih mengebul pekat, teman yang menyenangkan dan pemandangan yang indah. Apalagi yang bisa gue minta?

 

Great place, Great friends