Gue mengklaim diri gue sebagai orang yang cukup adventurous, suka mencoba hal-hal baru. Tempat baru, makanan baru, ketemu orang-orang baru, hingga mencoba olahraga-olahraga baru.

Kalo bahasa iklan Nutrilon nya “Live your life to the fullest”

Atau bahasa lokalnya “lo cuma hidup sekali, cobain aja banyak hal, tapi pake akal sehat.” Sifat penasaran ini sudah ada dari kecil, doain aja gue ga mati dulu, biar ga jadi arwah penasaran.

Sifat ini diperparah oleh sifat jelek gue lainnya. Merasa sok bisa. You know, perasaan yang muncul ketika lo nonton Fear Factor atau Indonesian Idol. Seolah dalam hati lo berkata :

“Yaelah, gitu doang masa sih ga bisa. Just give me the chance, I can win that shit!”

Nah, gue punya sikap tengil itu. Gue yakin gue ga sendirian dalam hal ini. Ya kan?

Jadi di suatu sore yang indah, dimana gue gak terlalu banyak kerjaan, gue nanya ke seorang teman kerja gue, Amanda,

“Lo pernah Bikram Yoga man?” tanya gue waktu itu, karena gue pernah gak sengaja ngeliat spanduknya di pinggir jalan.

“Bikram Yoga? Sore ini gue ada kelas, mau ikutan ta?” Amanda melemparkan sebuah ide, yang akan gue sesali belakangan.

Karena jiwa penasaran yang tinggi itu, gue langsung mengiyakan ajakan Amanda.

Oke, bagi kalian yang belum tau Bikram Yoga, gue bakal jelasin disini.

Bikram Yoga adalah olahraga Yoga biasa. Tau kan? Olahraga melipat-lipat dan menekuk badan yang sepertinya sangat mudah dilakukan. Yang biasa kita liat di iklan-iklan pendingin ruangan, dimana orang duduk bersila menggunakan baju putih-putih, memejamkan mata, dan menghembuskan nafas. Damai sekali.

Terlihat mudah kan? Itu yang awalnya gue kira.

Yang membedakan Bikram Yoga dari Yoga biasa adalah, Bikram dilakukan di dalam ruangan bersuhu 42 derajat Celcius.

Ya, Empat Puluh Dua Derajat Celcius!

Gerakannya sendiri ada dua puluh enam. Tiga belas dilakukan sambil berdiri, dan tiga belas lagi dilakukan sambil berkuda, ehm maksud gue sambil duduk.

Tempat Bikram Yoga yang kami tuju ada di daerah Kemang, Jakarta Selatan.

“Banyak cewenya ga man?” tanya gue kepada Amanda diperjalanan kami kesana.

“Iya, kebanyakan malah cewe kok” kata Amanda meyakinkan.

Great! Ini menjadi kabar baik buat gue. Karena satu ruangan bersama pria-pria berkeringat bukanlah ide yang bagus sama sekali. Bayangan gue akan cewe-cewe seksi berpakaian minim sambil Yoga langsung menyerbu pikiran. Pukul enam sore, kami tiba di tempat itu. Sambil mengelap mimisan, gue keluar dari mobil.

Ternyata, ongkos Bikram Yoga ini gak murah. Untuk sekali kelas, gue harus membayar 165 ribu ditambah 20 ribu uang pendaftaran. Tentu akan lebih murah jika mengambil kelas regular, tapi gue memutuskan untuk mencobanya dahulu.

Untuk sebuah pengalaman baru, gue mengais-ngais rupiah dari dalam dompet butut gue.

Selesai ganti baju dan menyimpan barang di locker, gue menunggu kelas berikutnya yang masih sekitar setengah jam lagi. Gue menunggu di luar kelas, dimana ada banyak poster posisi-posisi Yoga yang sebenarnya.

Posisi-posisi semacam ini.

 

Gue harus bikin posisi kayak gitu? Menurut lo?!

 

How the hell, I can make that position?!

Untung ga ada gerakan yang bombastis macam ini.

 

Tatap kaki saya..tatap!

 

Kalo bisa bikin gerakan kayak gitu, gue pasti udah ikut sirkus.

Yang belum pernah ketemu gue secara langsung, gue kasi gambaran betapa gantengnya gue. Gue adalah orang yang gempal, karena ketutup lemak, leher gue hampir ga keliatan. Perut gue sedikit buncit, dan sekarang gue diminta bikin posisi kayak gitu?! Rasa panik mulai menghinggapi.

Pintu kelas tiba-tiba terbuka, dan para peserta dari kelas sebelumnya mulai keluar dari ruangan. Wanita-wanita berpakaian minim, berjalan keluar sambil mengelap keringat dengan handuk.

Cantik-cantik!

“This is my lucky day!” kata gue dalam hati.

“Yuk ta, masuk. Biar terbiasa ama udaranya.” ujar Amanda

Didalam ruang yang dikelilingi kaca itu, udara panas mulai menyengat. Ngga terlalu panas sih awalnya. Mirip kayak udara di dalam angkot yang lagi ngetem. Segini doang?

Gue cuma tiduran diatas karpet Yoga yang sudah disediakan, membiasakan diri dengan udaranya. Mencoba memejamkan mata, dan bernapas normal.

Tiba-tiba pintu kelas terbuka,

“Oh, ini cewe-cewe seksi teman sekelas gue” kata gue sambil ngintip dikit lewat sudut mata.

Ternyata yang masuk adalah ibu-ibu. Gendut! Oke, next!

Pintu terbuka lagi, yang masuk mbak-mbak putus asa.

Begitu seterusnya, hingga instruktur gue masuk.  Yakin nih? Udah? Abis? Ga ada lagi pesertanya? Shit!

Kelas gue ga ada cewe cantik sama sekali. Sekelas isinya cuma 7 orang, ibu-ibu, mbak-mbak dan gue adalah cowo sendiri di kelas itu.

“Nice, I’m so fuckin gay right now..”

Instruktur gue namanya Grant. Bule Amerika, tegap, penuh tattoo, tapi badannya kayak ga punya tulang. Lentur!

Grant bilang, bagi yang ikutan pertama kali, wajar jika nanti sedikit pusing, berhenti dan duduk aja di dalam ruangan ketika sudah ga kuat. Jangan keluar dari ruangan untuk tetap dapetin efek panasnya.

Dan dimulailah gerakan menyiksa diri itu.

Lima menit pertama, cuma latihan pernafasan. Tarik napas sambil peregangan tangan dan pinggang. Dan gue? Udah basah kuyup!

Apalagi dengan posisi-posisi berikutnya, dimana gue dipaksa berdiri satu kaki, melingkarkan badan, jinjit sambil jongkok pake satu ujung kaki, meregangkan lengan dan paha, hingga melipat-lipat siku.

Badan gue semuanya nyeri. Pengen tau gimana rasa nyerinya? Tau rasa nyeri yang muncul di paha bagian belakang ketika kita ingin mencium lutut? Nah, itu nyeri yang gue rasakan di paha, pinggang, leher, lengan dan punggung.

Sebelum gue lanjutin, gue pengen bilang, Yoga sebenarnya bukan hanya melatih badan, tapi juga melatih pikiran dan ketenangan batin dengan cara pernafasan. Itu benar, tapi buat gue sedikit berbeda.

Menurut gue, Bikram Yoga memang melatih pikiran dan kesabaran, karena ada beberapa saat dimana badan lo udah sakit semua, dan udara panas yang menyengat, lo ingin memaki semua orang dan keluar dari ruangan terkutuk itu.

Serius gue gak bercanda. Saking stressnya, lo pengen mencaci-maki dan ngebanting TV! Gue sebut itu sebagai Zoo Moment, yaitu masa dimana lo pengen ngeluarin semua binatang yang ada di Ragunan dari mulut lo.

“ANJING, BABI, ANOA, BADAK BETINA, PANASS!! ARRGHHH!!”

Gue kuat maen badminton atau futsal 2 jam tanpa henti. Tapi ini lain. Bikram Yoga brings your endurance to another level. Bikram Yoga will beat the shit out of you, believe me.

Ga sampe setengah jam, handuk yang menjadi alas yoga gue sudah basah kuyup, kaos gue udah kayak disiram aer seember. Gue gak pernah se-berkeringat ini dalam hidup.

Gak pernah.

Si Grant terus aja menyiksa semua peserta nya, kayaknya dia menghisap kekuatan dari setiap derita yang keluar dari murid-muridnya. Mungkin dia keturunan Dementor.

“I’m here to torture you guys, but you’re gonna thank me later. Now chin up, lock your knees, stomach down, see to the mirror in front of you.”

“Shut the fuck up Grant! I really really want to punch you in the face right now.” gue cuma bisa berkata dalam hati sambil tetap melakukan posisi-posisi mustahil.

Ada beberapa posisi dimana gue benar-benar gak kuat dan cuma tiduran di lantai. Lutut gue gemetaran sakit ga kuatnya. Grant menyadari hal ini, dan bilang :

“Are you okay? Come on man, I know you can do this. This will be great for your health.” kata Grant menyemangati.

Tapi bukan, bukan kata-kata Grant yang menyemangat gue untuk tetap melakukan siksa dunia ini. Ada dua hal lain yang paling menyemangati gue : ongkos yang mahal dan rasa malu ama ibu-ibu gendut yang masih tahan.

Setiap gue kelelahan, gue akan bersenandung dalam hati,

“Seratus delapan puluh ribu..seratus delapan puluh ribu..malu ama ibu-ibu…malu woy!”

Zoo Moment kembali keluar :

“BEKANTAN, TAPIR, RUSA KUTUB, MACAN OMPONG, SAPI!!! MAKKKKKK…PANAS MAK!”

Inget rasa sakit, inget duit, inget wanita-wanita cantik yang gagal gue temui, inget emak-emak berlemak yang mandi keringat di sekeliling gue, Zoo Moment datang lagi.

“CHEETAH, MARMUT, KAMBING, ANGSA, JERAPAH, ASUUUUUUUUU… PANASSSSS!!”

 

Akhirnya, setelah satu setengah jam dilipet-lipet ama si Grant, penderitaan itu berakhir.

Grant tersenyum puas melihat murid2nya bergelimpangan tak berdaya.

Gue? Udah kayak dugong terdampar, baju basah kuyup, perut buncit kemana-mana, dan napas yang masih belum beraturan.

Pintu dibuka, dan ketika gue berjalan keluar keluar ruangan dengan kaki pengkor, hembusan angin sejuk menerpa wajah. Segar sekali. Lama gue duduk di kursi setelah selesai Bikram, dan benar, efeknya langsung terasa. Udara segar langsung mengisi paru-paru, pinggang gue berasa enteng dan napas mulai ringan. Gue bisa narik truk pake gigi lagi nih.

Gue duduk diluar sambil menikmati air kelapa muda yang disediakan. Nikmat sekali, meskipun badan gue sakit-sakit semua,

Sweating like a pig, my back feels like hell, my knee hurts so bad, and my arm is killing me. Tapi anehnya, ada rasa segar, setelah selesai melakukannya. Mungkin lebih tepatnya rasa puas, karena bisa menaklukkan ego sendiri dalam kondisi dan suasana yang sangat tidak nyaman.

Grant bilang, semua gerakan, udara panas, tata letak, pengaturan cahaya dalam ruangan emang sengaja dibuat untuk tidak nyaman. Untuk menyiksa diri, mencoba mencari ketenangan, berusaha konsentrasi dalam kondisi seperti itu. Yang ujungnya bisa berakibat baik bagi badan kita.

Menyelesaikan gerakan-gerakan mustahil dalam sebuah oven. Pengalaman baru yang bisa dibilang menyakitkan, tapi menyenangkan.

Sambil menyeruput air kelapa, Amanda bertanya..

“Jadi, next time ikutan lagi ta?”

“Maybe..” kata gue sambil memijat paha yang masih berasa kayak abis ditiban pemain Sumo.

Damn you Bikram Yoga!