Di Aberdeen, gue tinggal di Hillhead Flats, suatu akomodasi yang disediakan pihak kampus. Sebenarnya selain Hillhead, ada beberapa jenis akomodasi kampus yang tersedia. Beberapa letaknya lebih dekat, cuma sekitar lima menit berjalan kaki dari dan menuju kampus.

Karena gue masuk di bulan Januari, sebagian besar akomodasi yang dekat dengan kampus tadi sudah penuh. Yang tersedia cuma Hillhead Flats yang berada dua puluh menit dari kampus jika berjalan kaki.

Tapi malah Hillhead Halls adalah tempat tinggal utama bagi sebagian besar mahasiswa yang kuliah di University of Aberdeen. Jauh lebih ramai dari akomodasi kampus lainnya.

Di tempat ini, terdapat beberapa bangunan semacam apartement yang dibagi-bagi untuk tempat tinggalnya. Setiap flat biasanya terdiri dari lima kamar tidur, dua kamar mandi, satu dapur yang luas yang juga berfungsi sebagai communal area.

Lingkungan kampus ini juga dilengkapi dengan jaringan wifi yang kenceng, bus stop menuju kampus, laundry, minimarket, dome (untuk nongkrong sambil ngobrol) hingga kantor students association.

Pokoknya lengkap!

Kekhawatiran gue pertama waktu mendaftar untuk tinggal di sini adalah masalah rasisme. Seorang teman di Indonesia bahkan waktu itu pernah mewanti-wanti gue untuk hati-hati jika tinggal di akomodasi yang disediakan kampus karena ada isu rasisme yang selalu berkembang.

Temen gue waktu itu bilang “Biasanya yang Asia akan tinggal dengan sesama Asia, Eropa dengan Eropa, Afrika dengan Afrika dan seterusnya.”

Kan kalau gitu gak enak. Gue kan pengen punya teman dari seluruh dunia.

Tapi begitu tiba di sini, kenyataan itu berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat. Pihak kampus gue bahkan ingin menghindari hal itu sebaik mungkin. Gue nggak pernah mendengar ada orang yang berasal dari satu negara tinggal di flat yang sama.

Hal itu juga yang terjadi di flat gue. Untuk lima kamar yang tersedia, masing-masing diisi oleh lima orang yang berasal dari negara yang berbeda.

1. Jonathan.

Kandidat pertama adalah teman gue yang tinggal tepat di seberang kamar gue. Namanya Jonathan, umurnya masih 24 tahun dan dia berasal dari Venezuela. Dia ngambil Master of Oil and Gas Engineering. Maklum, Venezuela adalah negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia saat ini. Makanya dia jauh-jauh ke Aberdeen untuk belajar minyak biar bisa mengelola cadangan negaranya.

Si Jonathan ini bahasa Inggrisnya terpatah-patah. Jadi kita harus ekstra sabar nungguin dia ngomong. Tiap hari si kampret ini makan babi mulu kerjanya. Bentar bentar babi, bentar bentar babi.

Kan gue jadi penasaran. Untung peralatan makannya beda ama gue.

Dia punya kebanggaan berlebih terhadap budaya-budaya latin.

Dengan bangganya, biasanya si kampret ini nunjukin video-video musik latin yang terkenal dengan gerakan-gerakan yang erotis yang bisa membuat pria normal ereksi.

Hobinya si Jonathan ini adalah main Bongo, sejenis gendang yang biasanya dimainkan di musik-musik latin. Dan terkadang, si Jonathan latihan Bongo nggak kenal waktu. Latihannya ampe tengah malam!

Kadang setelah gue selesai belajar, udah rebahan di kasur, udah matiin lampu dan berusaha untuk tidur, si Jonathan masih main Bongo dengan musik latin terdengar sayup-sayup dari kamar depan.

Woi Jonathan, gue mau tidur, jangan bikin gue ereksi!

Jon

 

2. Sikhinder

Sikh, adalah orang yang umurnya lebih tua setahun dari gue. Dia 27 tahun dan berasal dari Peshawar, Pakistan.

Iya, Peshawar, sebuah propinsi yang mendadak terkenal baru-baru ini karena ada kejadian school shooting. Seperti halnya gue, dia seorang muslim. Tapi kayaknya nggak taat-taat banget juga. Dia satu-satunya perokok di flat kami. Setiap kali ingin merokok, dia rela keluar dari flat demi menghisap rokok di udara Scotland yang dingin.

Dia sedang mengambil Phd di bidang Education, setelah sebelumnya selesai mengambil Master of Business and Finance di St. Andrew.

“My passion is teaching Tirta” katanya waktu itu.

“I tried to work in a company before. But I don’t like it”

Setelah gue tanya dia mengajar di universitas mana, ternyata dia mengajar ‘hanya’ di sebuah sekolah menengah pertama di Peshawar.

KEREN AMAT GURU SMP DI PAKISTAN?! MAU NGAJAR SMP AJA UDAH PHD?!

Dia hobi masak nasi briyani buat anak-anak flat. Dan harus gue akui, nasi briyani dengan ayam yang dia masak, sejauh ini adalah yang paling enak yang pernah gue makan.

Sikh

3. Tobi

Orang ketiga di flat gue adalah Tobi dan dia dari Nigeria. Dia yang paling muda di flat gue. Umurnya baru 23 tahun, tapi mukanya boros banget.

Perkenalan gue dengan Tobi diawali dengan persaingan memasak Indomie. Ternyata di Nigeria, Indomie layaknya makanan pokok.

“Did you bring some Indomie?” Tanya dia waktu itu.

“Yeah, like six of it.” kata gue singkat.

“Six?! I brought like…twenty from Nigeria”

Twenty?! Ini Indomie dari negara mana sih sebenarnya? Yang orang Indonesia aja gak segitunya.

Dan kebanggaan terhadap Indomie ini merasuki Tobi hingga ke tulang sumsum. Setiap kali gue memasak Indomie, dia selalu bersikap sotoy dan ngajarin gue.

“You put too much water in your Indomie.” katanya.

Shut up Tobi! Just see how the real Indonesian cook Indomie! 

Lah kan gue masak Indomie kuah ya pake air lah, kecuali gue pengen masak Indomie goreng. Tapi setelah gue perhatiin, cara orang Nigeria memasak Indomie memang jauh berbeda ama kita.

Tobi memasak Indomienya hingga airnya menghilang, jadi Indomienya udah kayak Indomie yang ditinggal semaleman. Udah benyek.

Dia akan merebus Indomienya hingga airnya hampir menghilang kemudian mencampurkannya dengan potongan ayam yang sudah dimasak sebelumnya.

Oia, jika orang Indonesia sekali masak Indomie itu satu bungkus. Tobi sekali makan Indomie sebanyak tiga bungkus!

Gue yakin dia bego abis makan Indomie sebanyak itu sekaligus.

Tobi adalah gambaran sempurna dari stereotype orang kulit hitam pada umumnya. Hitam (ya iyalah!), tinggi, bibirnya tebal dan tititnya gede.

Dari mana gue tau kalo tititnya gede?

Soalnya dia hobi banget jalan-jalan di flat cuma pake kolor doang. Dengan santainya, dia akan keluar dari kamarnya, pergi ke dapur yang berfungsi sebagai communal area dengan hanya menggunakan kancut. Dan dengan tinggi yang hampir 2 meter, kalau dia dan gue berdiri bersebelahan, titit dia pas berada di depan muka gue.

Di. Depan. Muka. Gue.

Ingin rasanya gue berteriak :

Woi, tai lah Tobi, lo taro titit lo di tempat lain kenapa?! Jangan taro di depan muka gue. Taro di kulkas kek biar adem.

Sama seperti Jonathan, Tobi mengambil Oil and Gas Engineering. Wajar karena Nigeria adalah negara dengan cadangan minyak terbesar di Afrika. Tapi bedanya, Tobi nggak berniat untuk kembali ke negaranya.

“People in Nigeria are very corrupt. Especially the government. I don’t want to come back to Nigeria. I want to have a better future here in UK.”

Dia udah hopeless ama negaranya. Bahkan saking hopeless-nya, dia udah gak pengen berpartisipasi dengan membangun negaranya.

Setelah tamat, dia berniat untuk mencari kerja di UK atau di Eropa. Dan dengan tulisan ini, mari kita doakan agar Tobi bisa mendapat pekerjaan dengan apartement yang bagus sehingga dia bisa naro tititnya dengan bebas.

Tobi

 

4. Valerio

Orang Italia satu ini merupakan yang paling akrab ama gue karena dia sama-sama mahasiswa di Business School. Bedanya, dia ngambil program International Business Management.

Dia berasal dari Verona, kota di Italia yang menjadi latar cerita Romeo-Juliet. Dia juga nggak pengen kembali ke Italia. Sama seperti Tobi, dia nggak percaya lagi ama pemerintah nya.

Dia punya American Dream. Pergi bekerja ke US dan nyari green card untuk jadi warga negara di sana.

Satu hal yang gue notice dari orang Italia adalah, mereka suka banget makan pake lemon dan keju. Semua makanan dicampur keju.

Valerio

 

5. Orang ganteng dari Indonesia.

Nggak perlu diceritain lah kelebihan orang yang satu ini. Keren lah pokoknya!

Tirta

 

 

***

Punya teman-teman dari negara berbeda kayak gini jadi pengalaman baru yang menyenangkan. Kadang kami menghabiskan malam untuk mendiskusikan hal-hal dari perspektif budaya masing-masing.

Tentang wanita, isu-isu sosial masa depan. Belum lagi kalau berdiskusi mengenai isu agama. Gue dan Sikh yang muslim, Jonathan yang katolik, Tobi yang Kristen dan Valerio yang Agnostic, isu agama menjadi hal yang seru untuk didiskusikan.

Karena Tobi, akhirnya gue bisa memegang dan membaca Injil untuk pertama kalinya. Karena gue, Valerio pernah melihat Al Quran dan minta diajarin untuk ngomong Assalamualaikum dengan benar.

Di satu sisi, tinggal bersama mereka menjadi hal yang positif buat gue. Gue rasanya gak akan pernah menjadi Tobi atau Valerio yang apatis terhadap negerinya.

Gue cinta Indonesia.

Sejauh apapun gue merantau, rasanya gue pasti kembali ke Indonesia. Seburuk apapun kondisi Indonesia sekarang, dengan adanya bigot-bigot agama, orang-orang yang terus merasa benar, koruptor, dan alay-alay yang rasanya semakin banyak, kayaknya hal itu nggak akan mengubah perasaan gue ke Indonesia.

Gue tetap optimis ama negara ini.

Dan ada satu hal menarik lainnya buat gue setelah tinggal di tempat ini. Dunia ini bukan tempat satu golongan tertentu. Kita harus berbagi. Dengan si putih, si hitam, si kuning, atau si cokelat. Ada orang-orang yang berbagi udara yang sama dengan kita tidak peduli seberapa gelap kulitnya, atau seberapa mancung hidupnya, atau apapun agamanya.

Tinggal di flat ini, menyadarkan gue akan satu hal penting bahwa kita akan selamanya berbagi tempat tinggal. Kadang mungkin bentuknya sebuah flat sederhana, atau nanti sebuah dunia dengan segala macam penghuninya.